Home News Di Antara Lampu Temaram Kesawan, Ustadz Fahmi Ajak Gen-Z Medan Temukan Makna Puasa di Simpul Kota

Di Antara Lampu Temaram Kesawan, Ustadz Fahmi Ajak Gen-Z Medan Temukan Makna Puasa di Simpul Kota

70
0
SHARE
Di Antara Lampu Temaram Kesawan, Ustadz Fahmi Ajak Gen-Z Medan Temukan Makna Puasa di Simpul Kota

WARTALINTASBATAS.MY.ID, MEDAN – Senja pelan-pelan turun di kawasan Kesawan. Lampu-lampu temaram mulai menyala, aroma kopi dan hidangan berbuka menguar di udara. Di sudut Cafe Simpul Kota, ratusan pasang mata anak muda tertuju pada satu sosok: Fahmi Huseini Lubis, dai muda yang hadir bukan sekadar untuk berceramah, tetapi menyapa hati generasi sebayanya.

Dengan senyum hangat, Ustadz Fahmi membuka tausiyahnya dengan pantun ringan tentang Kota Medan—menyebut Istana Maimun dan Masjid Raya Al Mashun—membuat suasana cair dan akrab. Tawa kecil pecah di antara jamaah, mayoritas Gen-Z dan milenial yang datang bukan hanya untuk berbuka, tetapi mencari makna Ramadan di tengah ritme hidup yang serba cepat.

Dalam penyampaiannya, ia mengajak hadirin merenungi firman Allah dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 183 tentang kewajiban puasa bagi orang-orang beriman. “Kenapa hanya orang beriman?” tanyanya retoris. Lalu ia menjawab pelan namun tegas, bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan menahan diri dari yang sia-sia, dari amarah, dari perbuatan keji dan munkar. Dari sanalah, katanya, lahir gelar takwa—sebuah kehormatan spiritual yang tidak instan.

Suasana hening. Beberapa anak muda tampak mengangguk, sebagian merekam dengan ponsel mereka. Ustadz Fahmi lalu menggeser pembahasan ke tema yang terasa sangat dekat: masa muda. Ia mengutip hadis tentang “Syababaka Qobla Haroomika”—gunakan masa mudamu sebelum datang masa tuamu. Baginya, pemuda bukan hanya fase usia, tetapi fase energi, idealisme, dan kesempatan panjang untuk memperbaiki diri. “Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” ujarnya, disambut anggukan setuju.

Ia juga mengingatkan tentang empat pertanyaan di hari akhir: umur, tubuh, ilmu, dan harta. Di tengah gemerlap kehidupan kota, pesan itu terasa sederhana namun menohok. Bahwa setiap langkah, setiap pilihan, akan dimintai pertanggungjawaban. Ramadan, katanya, adalah momen terbaik untuk menata ulang arah hidup—pelan tapi pasti.

Selepas kajian, menjelang azan magrib, suasana kembali riuh oleh persiapan berbuka. Namun ada yang berbeda: obrolan di meja-meja kecil itu bukan lagi sekadar soal menu dan spot foto estetik. Ada diskusi tentang ayat, tentang masa depan, tentang makna menjadi muda dan beriman.

Ustadz Fahmi menyampaikan apresiasi atas konsep Simpul Kota yang memadukan kajian Gen-Z dan live musik religi sebelum berbuka. Baginya, dakwah tak harus selalu kaku. Di antara secangkir kopi dan cahaya senja Kesawan, nilai-nilai keimanan tetap bisa tumbuh—hangat, membumi, dan menyentuh hati.( WLB/YON)