Pemuda Pancasila Kabupaten Tegal Gelar “Hajatan Rakyat”, Tebar Kepedulian dan Tepis Stigma Negatif
TEGAL —mahatidana.com-- Organisasi masyarakat Pemuda Pancasila Kabupaten Tegal menunjukkan wajah berbeda melalui rangkaian kegiatan bertajuk “Pemuda Pancasila Hajatan” dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Tegal ke-425. Tidak sekadar seremoni, kegiatan ini justru menjadi ruang kebersamaan, kepedulian sosial, hingga bentuk penghormatan kepada masyarakat dan para ulama.
Ketua MPC Pemuda Pancasila Kabupaten Tegal, Advokat Putra Fajar Sunjaya, SH atau yang akrab disapa Bung Japra, secara resmi membuka rangkaian acara melalui press conference yang digelar bersama jajaran pengurus dan kader organisasi.
Kegiatan diawali dengan Turnamen Sepak Bola antar-RW yang akan berlangsung pada 10 hingga 20 Mei 2026. Turnamen tersebut dipimpin oleh Ketua Panitia Advokat Ismet Gunawan, SH, MH sebagai bentuk penguatan silaturahmi dan sportivitas di tengah masyarakat.
Tidak berhenti pada kegiatan olahraga, Pemuda Pancasila Kabupaten Tegal juga akan melaksanakan aksi sosial berupa kegiatan Marbot Mushola, Masjid dan Maqbaroh pada 21–22 Mei 2026 yang dikomandoi oleh Dankoti Advokat Risdiyanto, SH. Kegiatan tersebut menjadi simbol nyata bahwa keberadaan ormas tidak hanya hadir dalam kegiatan seremonial, tetapi juga turun langsung membantu masyarakat dan menjaga lingkungan tempat ibadah.
Menariknya, puncak perhatian publik tertuju pada agenda makan bersama masyarakat dengan 13.000 porsi nasi rendang yang dimasak melalui dapur umum oleh jajaran Koti Mahatidana Kabupaten Tegal di bawah koordinasi Wadankoti Advokat Guruh Santoso, SH, MH.
Agenda tersebut muncul sebagai respons santai dan humanis atas candaan netizen di media sosial yang kerap menyebut PP sebagai “Pasukan Komando Hajatan” hingga “Pasukan Pemburu Rendang”. Alih-alih tersinggung, Pemuda Pancasila Kabupaten Tegal justru menjadikannya sebagai energi positif untuk semakin dekat dengan masyarakat.
“Ini bentuk apresiasi kami kepada warganet dan masyarakat. Kami ingin menunjukkan bahwa Pemuda Pancasila bisa hadir dengan suasana hangat, guyub, dan penuh kebersamaan,” ujar Bung Japra.
Menurutnya, stigma negatif yang selama ini melekat terhadap ormas perlahan harus dijawab dengan aksi nyata dan kegiatan sosial yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Selain dikenal solid dalam pengamanan dan kegiatan organisasi, kader-kader Pemuda Pancasila Kabupaten Tegal juga dinilai memiliki kekompakan tinggi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Hal itu terlihat dari keterlibatan seluruh unsur organisasi mulai dari MPC, Koti Mahatidana, badan hukum, hingga kader di tingkat bawah yang bergotong royong menyukseskan kegiatan tanpa sekat.
Puncak acara dijadwalkan berlangsung pada 30 Mei 2026 di Lapangan Desa Dukuhsalam, Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal melalui agenda Haul Abah Kyai Imam Asnawi bin Mbah Kyai Muhammad Ruslan ke-13 sebagai bentuk Khidmah Masyayikh atau penghormatan kepada para ulama.
Rangkaian haul akan dimulai sejak bakda subuh dengan khataman Al-Qur’an, rotib, dan tahlil yang dipimpin Advokat Muhammad Hamdan Khakiki, SH selaku Sekretaris MPC.
Tidak hanya bernuansa religius, acara juga akan diramaikan pentas seni pelajar seperti tari khas Tegal, parade band, hingga pencak silat yang menjadi ruang kreativitas generasi muda daerah. Acara tersebut akan dipandu artis Jhon Jawier dan Yu Sop sebagai MC serta penampilan guest star Gambus Reggae Ahmed Uye bersama Ketua Badan Pembelaan dan Penyuluhan Hukum Kabupaten Tegal, Advokat Umar Setiyadi, SH, MH.
Rencananya kegiatan tersebut akan dihadiri jajaran Forkopimda mulai dari Bupati dan Wakil Bupati Tegal, Kapolres, Dandim, Danbrig, Danlanal, Dansatradar, hingga sejumlah tamu undangan lainnya.
Dalam kesempatan itu, Bupati Tegal H. Ishack Maulana Rohman, SH, MH juga dijadwalkan memberikan 13 door prize bagi masyarakat yang hadir serta penghargaan bagi pelajar dan kelompok seni yang ikut memeriahkan kegiatan.
Melalui kegiatan ini, Pemuda Pancasila Kabupaten Tegal ingin menunjukkan bahwa organisasi masyarakat tidak selalu identik dengan kesan keras. Di balik atribut loreng dan barisan komando, terdapat semangat gotong royong, kepedulian sosial, penghormatan terhadap ulama, serta upaya merawat budaya dan kebersamaan di tengah masyarakat.