SABTU, 14 MAR 2026, 11:24:00
Headline
●
ISBN Bukan Sekadar Nomor: Saatnya Pengelolaan ISBN di Indonesia Naik Kelas
●
TAPAK CANDI KE-5: KETIKA KAKI BICARA LEBIH KERAS DARI KATA-KATA
●
Di Antara Reformasi Pendidikan dan Tuduhan Korupsi: Pro-Kontra Vonis Nadiem Makarim
●
MSKC XVI: Sambut Piala Dunia, SSB Matra Cetak Generasi Sportif & Berprestasi
●
“Ketika Buku Harus ‘Digratiskan’: Antara Mencerdaskan Bangsa dan Mematikan Martabat Penulis”
●
🏠 "TITIP ANAK KE DAYCARE, YANG PULANG MALAH TRAUMA — Ketika 'Little Aresha' Ternyata Tidak Se-Little Dosanya"
●
"Babi itu nggak pernah minta diributkan dia cuma mau hidup tenang di kandang, eh malah jadi trending topic."
●
"JK ngomong pake data, Jokowi ngomong pake hati eh, kita malah pusing sendiri!" 😄
●
Wawan Arif Terpilih Kembali sebagai Ketua IKAPI DIY Periode 2026–2031
●
BBM Naik Lagi: Antara Realitas Global dan Kegagalan Melindungi Daya Beli
●
“Tapak Candi Jogja: Menyusuri Warisan Leluhur, Menemukan Kebahagiaan Baru”
●
SIAPA SEBENARNYA YANG HARUS BERTANGGUNG JAWAB? HILANGNYA DANA UMAT 28 M
●
Dua Potongan, Satu Narasi? Membaca Ahok dan JK di Antara Potongan Video dan Kepentingan Publik
●
Ketika Mesin Mulai Berkehendak: Ancaman Senyap Cyborg atas Masa Depan Manusia
●
Bayang-Bayang Rp5 Miliar: Antara Klarifikasi, Tuduhan, dan Kepercayaan Publik
●
Ijasah Jokowi: Polemik Elit, Untung-Rugi Rakyat di Baliknya
●
Retorika Kiamat dan Politik Ketakutan: Membaca Pesan Kontroversial Donald J. Trump
●
“Reshuffle yang Dirahasiakan: Strategi Politik atau Krisis Kepercayaan?”
●
Komunikasi Lumpuh, Ribuan Mengungsi: Bencana Beruntun Hantam Halmahera Barat dan Utara
●
Premanisme Jalanan: Alarm Keras bagi Wajah Hukum di Yogyakarta
●
ISBN Bukan Sekadar Nomor: Saatnya Pengelolaan ISBN di Indonesia Naik Kelas
●
TAPAK CANDI KE-5: KETIKA KAKI BICARA LEBIH KERAS DARI KATA-KATA
●
Di Antara Reformasi Pendidikan dan Tuduhan Korupsi: Pro-Kontra Vonis Nadiem Makarim
●
MSKC XVI: Sambut Piala Dunia, SSB Matra Cetak Generasi Sportif & Berprestasi
●
“Ketika Buku Harus ‘Digratiskan’: Antara Mencerdaskan Bangsa dan Mematikan Martabat Penulis”
●
🏠 "TITIP ANAK KE DAYCARE, YANG PULANG MALAH TRAUMA — Ketika 'Little Aresha' Ternyata Tidak Se-Little Dosanya"
●
"Babi itu nggak pernah minta diributkan dia cuma mau hidup tenang di kandang, eh malah jadi trending topic."
●
"JK ngomong pake data, Jokowi ngomong pake hati eh, kita malah pusing sendiri!" 😄
●
Wawan Arif Terpilih Kembali sebagai Ketua IKAPI DIY Periode 2026–2031
●
BBM Naik Lagi: Antara Realitas Global dan Kegagalan Melindungi Daya Beli
●
“Tapak Candi Jogja: Menyusuri Warisan Leluhur, Menemukan Kebahagiaan Baru”
●
SIAPA SEBENARNYA YANG HARUS BERTANGGUNG JAWAB? HILANGNYA DANA UMAT 28 M
●
Dua Potongan, Satu Narasi? Membaca Ahok dan JK di Antara Potongan Video dan Kepentingan Publik
●
Ketika Mesin Mulai Berkehendak: Ancaman Senyap Cyborg atas Masa Depan Manusia
●
Bayang-Bayang Rp5 Miliar: Antara Klarifikasi, Tuduhan, dan Kepercayaan Publik
●
Ijasah Jokowi: Polemik Elit, Untung-Rugi Rakyat di Baliknya
●
Retorika Kiamat dan Politik Ketakutan: Membaca Pesan Kontroversial Donald J. Trump
●
“Reshuffle yang Dirahasiakan: Strategi Politik atau Krisis Kepercayaan?”
●
Komunikasi Lumpuh, Ribuan Mengungsi: Bencana Beruntun Hantam Halmahera Barat dan Utara
●
Premanisme Jalanan: Alarm Keras bagi Wajah Hukum di Yogyakarta
🔴 Breaking News
Terkini
Featured
ISBN Bukan Sekadar Nomor: Saatnya Pengelolaan ISBN di Indonesia Naik Kelas
JIM + AI
•
18:19:00, 02 Jun 2026
🔴 Breaking
Olahraga
Featured
TAPAK CANDI KE-5: KETIKA KAKI BICARA LEBIH KERAS DARI KATA-K...
🔴 Breaking
Politik
Featured
Di Antara Reformasi Pendidikan dan Tuduhan Korupsi: Pro-Kont...
🔴 Breaking
Olahraga
Featured
MSKC XVI: Sambut Piala Dunia, SSB Matra Cetak Generasi Sport...
🔴 Breaking
Terkini
Featured
“Ketika Buku Harus ‘Digratiskan’: Antara Mencerdaskan Bangsa...
🔴 Breaking News
Kriminal
Featured
🏠 "TITIP ANAK KE DAYCARE, YANG PULANG MALAH TRAUMA — Ketika 'Little Aresha' Ternyata Tidak Se-Little Dosanya"
JIM + AI
•
13:50:00, 26 Apr 2026
🔴 Breaking
Terkini
Featured
"Babi itu nggak pernah minta diributkan dia cuma mau hidup t...
🔴 Breaking
Politik
Featured
"JK ngomong pake data, Jokowi ngomong pake hati eh, kita ma...
🔴 Breaking
Terkini
Featured
Wawan Arif Terpilih Kembali sebagai Ketua IKAPI DIY Periode...
🔴 Breaking
Terkini
Featured
BBM Naik Lagi: Antara Realitas Global dan Kegagalan Melindun...
🔴 Breaking News
Olahraga
Featured
“Tapak Candi Jogja: Menyusuri Warisan Leluhur, Menemukan Kebahagiaan Baru”
JIM + AI
•
08:16:00, 18 Apr 2026
🔴 Breaking
Terkini
Featured
SIAPA SEBENARNYA YANG HARUS BERTANGGUNG JAWAB? HILANGNYA DAN...
🔴 Breaking
Politik
Featured
Dua Potongan, Satu Narasi? Membaca Ahok dan JK di Antara Pot...
🔴 Breaking
Teknologi
Featured
Ketika Mesin Mulai Berkehendak: Ancaman Senyap Cyborg atas M...
🔴 Breaking
Politik
Featured
Bayang-Bayang Rp5 Miliar: Antara Klarifikasi, Tuduhan, dan K...
🔴 Breaking News
Politik
Featured
Ijasah Jokowi: Polemik Elit, Untung-Rugi Rakyat di Baliknya
JIM + AI
•
18:44:40, 10 Apr 2026
🔴 Breaking
Politik
Featured
Retorika Kiamat dan Politik Ketakutan: Membaca Pesan Kontrov...
🔴 Breaking
Politik
Featured
“Reshuffle yang Dirahasiakan: Strategi Politik atau Krisis K...
🔴 Breaking
Terkini
Komunikasi Lumpuh, Ribuan Mengungsi: Bencana Beruntun Hantam...
🔴 Breaking
Kriminal
Featured
Premanisme Jalanan: Alarm Keras bagi Wajah Hukum di Yogyakar...
“Ketika Buku Harus ‘Digratiskan’: Antara Mencerdaskan Bangsa dan Mematikan Martabat Penuli...
Ketika Buku Harus ‘Digratiskan’: Antara Mencerdaskan Bangsa dan Mematikan Martabat Penulis
Baca selengkapnya
Baca selengkapnya
Wawan Arif Terpilih Kembali sebagai Ketua IKAPI DIY Periode 2026–2031
Wawan Arif Terpilih Kembali sebagai Ketua IKAPI DIY Periode 2026–2031
Bantul, 23 April 2026 — Musyawarah Daerah (Musda) IKAPI DIY 2026 berlangsung lancar dan memenuhi kuorum di Sarang Building, Bantul, Yogyakarta. Forum tertinggi organisasi penerbit di tingkat daerah ini menghasilkan keputusan penting: Wawan Arif Rahmat kembali terpilih sebagai Ketua IKAPI DIY untuk periode 2026–2031 secara aklamasi. Baca selengkapnya
Bantul, 23 April 2026 — Musyawarah Daerah (Musda) IKAPI DIY 2026 berlangsung lancar dan memenuhi kuorum di Sarang Building, Bantul, Yogyakarta. Forum tertinggi organisasi penerbit di tingkat daerah ini menghasilkan keputusan penting: Wawan Arif Rahmat kembali terpilih sebagai Ketua IKAPI DIY untuk periode 2026–2031 secara aklamasi. Baca selengkapnya
BBM Naik Lagi: Antara Realitas Global dan Kegagalan Melindungi Daya Beli
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kembali terjadi. Kali ini, per 18 April 2026.
PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan harga sejumlah BBM non-subsidi. Keputusan ini tampak administratif di atas kertas, tetapi sesungguhnya menyimpan persoalan struktural yang jauh lebih dalam. BBM Naik Lagi: Antara Realitas Global dan Kegagalan Melindungi Daya Beli. Baca selengkapnya
PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan harga sejumlah BBM non-subsidi. Keputusan ini tampak administratif di atas kertas, tetapi sesungguhnya menyimpan persoalan struktural yang jauh lebih dalam. BBM Naik Lagi: Antara Realitas Global dan Kegagalan Melindungi Daya Beli. Baca selengkapnya
Komunikasi Lumpuh, Ribuan Mengungsi: Bencana Beruntun Hantam Halmahera Barat dan Utara
Komunikasi Lumpuh, Ribuan Mengungsi: Bencana Beruntun Hantam Halmahera Barat dan Utara
Maluku Utara – Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah Halmahera tidak hanya memutus jaringan komunikasi di tiga kecamatan di Kabupaten Halmahera Barat, tetapi juga memicu krisis kemanusiaan lebih luas di kawasan utara pulau tersebut. Di Halmahera Barat, hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan longsor yang merusak infrastruktur vital, termasuk jaringan fiber optik dan tower distribusi sinyal. Baca selengkapnya
Maluku Utara – Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah Halmahera tidak hanya memutus jaringan komunikasi di tiga kecamatan di Kabupaten Halmahera Barat, tetapi juga memicu krisis kemanusiaan lebih luas di kawasan utara pulau tersebut. Di Halmahera Barat, hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan longsor yang merusak infrastruktur vital, termasuk jaringan fiber optik dan tower distribusi sinyal. Baca selengkapnya
📰 ARUS BALIK INDONESIA MEMUNCAK: Antara Tradisi, Tekanan Infrastruktur, dan Perlombaan Me...
📰 ARUS BALIK INDONESIA MEMUNCAK: Antara Tradisi, Tekanan Infrastruktur, dan Perlombaan Melawan Waktu .
Di bawah langit yang mulai gelap, jutaan lampu kendaraan membentuk garis tanpa putus sebuah arus manusia modern yang bergerak serempak, bukan karena pilihan, tetapi karena kebutuhan. Arus balik Lebaran bukan sekadar mobilitas massal tahunan. Ia adalah potret besar tentang bagaimana sebuah bangsa bergerak: dari desa ke kota, dari ruang keluarga menuju tuntutan ekonomi. Di momen inilah, romantisme mudik berakhir dan realitas dimulai. Baca selengkapnya
Di bawah langit yang mulai gelap, jutaan lampu kendaraan membentuk garis tanpa putus sebuah arus manusia modern yang bergerak serempak, bukan karena pilihan, tetapi karena kebutuhan. Arus balik Lebaran bukan sekadar mobilitas massal tahunan. Ia adalah potret besar tentang bagaimana sebuah bangsa bergerak: dari desa ke kota, dari ruang keluarga menuju tuntutan ekonomi. Di momen inilah, romantisme mudik berakhir dan realitas dimulai. Baca selengkapnya
Jalanan Jogja Masih Macet, Arus Wisatawan Belum Surut
LAPORAN KHUSUS | H+6 LEBARAN 2026 Jalanan Jogja Masih Macet, Arus Wisatawan Belum Surut
Yogyakarta — Memasuki H+6 pasca Hari Raya Idul Fitri 2026, arus kendaraan di sejumlah ruas utama di Yogyakarta masih terpantau padat. Lonjakan wisatawan yang belum menunjukkan tanda-tanda surut membuat sejumlah jalur menuju destinasi wisata mengalami kemacetan panjang sejak pagi hingga malam hari. Titik Kemacetan Mengular Pantauan di lapangan menunjukkan kepadatan signifikan terjadi di kawasan pusat kota hingga jalur wisata populer. Kawasan Malioboro menjadi salah satu titik paling padat, dipenuhi kendaraan pribadi dan bus pariwisata yang bergerak lambat. Kondisi serupa juga terjadi di jalur menuju Kaliurang, di mana antrean kendaraan mengular hingga beberapa kilometer, terutama pada siang hari. Sementara itu, akses menuju Pantai Parangtritis mengalami kepadatan ekstrem, dengan waktu tempuh yang meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan hari biasa. Wisatawan Masih Membeludak Berdasarkan data sementara dari Dinas Pariwisata DIY, tingkat kunjungan wisatawan masih tinggi meski telah melewati puncak arus mudik dan balik. Banyak wisatawan memanfaatkan sisa masa libur untuk berwisata bersama keluarga. “Ini fenomena yang hampir terjadi setiap tahun. Setelah silaturahmi selesai, masyarakat memilih berlibur sebelum kembali beraktivitas,” ujar salah satu petugas lalu lintas di kawasan pusat kota. Selain itu, dominasi kendaraan berpelat luar daerah turut memperlambat arus karena banyak pengendara yang belum familiar dengan kondisi jalan di Jogja. Upaya Penguraian Arus Pihak kepolisian bersama Dinas Perhubungan telah memberlakukan rekayasa lalu lintas di beberapa titik. Sistem buka-tutup jalan hingga pengalihan arus diterapkan untuk mengurai kepadatan, terutama di jalur wisata. Namun demikian, upaya tersebut belum sepenuhnya efektif mengingat tingginya volume kendaraan yang masuk secara bersamaan. Hingga malam hari, arus lalu lintas di sejumlah titik masih menunjukkan kepadatan. Diperkirakan, kondisi ini akan berlangsung hingga akhir pekan sebelum aktivitas masyarakat kembali normal. J Jogja kembali membuktikan diri sebagai magnet wisata nasional—namun di sisi lain, kemacetan H+6 Lebaran menjadi pengingat serius akan perlunya solusi transportasi yang lebih terintegrasi di masa depan. JIM+AI Baca selengkapnya
Yogyakarta — Memasuki H+6 pasca Hari Raya Idul Fitri 2026, arus kendaraan di sejumlah ruas utama di Yogyakarta masih terpantau padat. Lonjakan wisatawan yang belum menunjukkan tanda-tanda surut membuat sejumlah jalur menuju destinasi wisata mengalami kemacetan panjang sejak pagi hingga malam hari. Titik Kemacetan Mengular Pantauan di lapangan menunjukkan kepadatan signifikan terjadi di kawasan pusat kota hingga jalur wisata populer. Kawasan Malioboro menjadi salah satu titik paling padat, dipenuhi kendaraan pribadi dan bus pariwisata yang bergerak lambat. Kondisi serupa juga terjadi di jalur menuju Kaliurang, di mana antrean kendaraan mengular hingga beberapa kilometer, terutama pada siang hari. Sementara itu, akses menuju Pantai Parangtritis mengalami kepadatan ekstrem, dengan waktu tempuh yang meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan hari biasa. Wisatawan Masih Membeludak Berdasarkan data sementara dari Dinas Pariwisata DIY, tingkat kunjungan wisatawan masih tinggi meski telah melewati puncak arus mudik dan balik. Banyak wisatawan memanfaatkan sisa masa libur untuk berwisata bersama keluarga. “Ini fenomena yang hampir terjadi setiap tahun. Setelah silaturahmi selesai, masyarakat memilih berlibur sebelum kembali beraktivitas,” ujar salah satu petugas lalu lintas di kawasan pusat kota. Selain itu, dominasi kendaraan berpelat luar daerah turut memperlambat arus karena banyak pengendara yang belum familiar dengan kondisi jalan di Jogja. Upaya Penguraian Arus Pihak kepolisian bersama Dinas Perhubungan telah memberlakukan rekayasa lalu lintas di beberapa titik. Sistem buka-tutup jalan hingga pengalihan arus diterapkan untuk mengurai kepadatan, terutama di jalur wisata. Namun demikian, upaya tersebut belum sepenuhnya efektif mengingat tingginya volume kendaraan yang masuk secara bersamaan. Hingga malam hari, arus lalu lintas di sejumlah titik masih menunjukkan kepadatan. Diperkirakan, kondisi ini akan berlangsung hingga akhir pekan sebelum aktivitas masyarakat kembali normal. J Jogja kembali membuktikan diri sebagai magnet wisata nasional—namun di sisi lain, kemacetan H+6 Lebaran menjadi pengingat serius akan perlunya solusi transportasi yang lebih terintegrasi di masa depan. JIM+AI Baca selengkapnya
WFH :Siapa Untung Siapa Buntung?
WFH: Siapa Untung, Siapa Buntung? Wacana kebijakan Work From Home (WFH) kembali menguat di tengah perubahan pola kerja pascapandemi. Pemerintah dan perusahaan mulai mempertimbangkan opsi ini bukan lagi sebagai solusi darurat, melainkan sebagai strategi jangka panjang. Namun, di balik fleksibilitas yang ditawarkan, muncul pertanyaan mendasar: siapa sebenarnya yang diuntungkan, dan siapa yang justru dirugikan? Di satu sisi, WFH menjadi angin segar bagi pekerja sektor formal berbasis digital. Karyawan di bidang teknologi, pemasaran digital, hingga administrasi merasakan efisiensi waktu dan biaya. Tidak ada lagi perjalanan panjang yang melelahkan, tidak ada kemacetan yang menguras energi. Produktivitas, dalam banyak kasus, justru meningkat karena pekerja dapat mengatur ritme kerja yang lebih personal. Bagi mereka yang tinggal di kota besar seperti Jakarta atau bahkan di wilayah penyangga seperti Yogyakarta, WFH berarti penghematan nyata—baik finansial maupun psikologis. Perusahaan pun tidak sedikit yang diuntungkan. Biaya operasional seperti listrik, sewa kantor, hingga fasilitas karyawan dapat ditekan. Bahkan, beberapa perusahaan global seperti Twitter (kini dikenal sebagai X Corp.) pernah membuka opsi kerja jarak jauh permanen sebagai bagian dari efisiensi dan transformasi budaya kerja. Namun, cerita ini tidak sepenuhnya manis. WFH secara tidak langsung menciptakan jurang baru antara mereka yang bisa bekerja dari rumah dan mereka yang tidak. Pekerja sektor informal, buruh pabrik, tenaga lapangan, hingga pelaku UMKM berbasis fisik justru berada di posisi rentan. Ketika mobilitas masyarakat menurun, daya beli ikut melemah. Warung makan di sekitar perkantoran kehilangan pelanggan, ojek pangkalan sepi penumpang, hingga jasa kebersihan dan keamanan mengalami pengurangan jam kerja. Di sinilah paradoks WFH muncul. Kebijakan yang menguntungkan sebagian kelompok, justru menjadi tekanan bagi kelompok lain. Selain itu, tidak semua pekerja WFH benar-benar “bekerja dengan nyaman”. Batas antara ruang kerja dan ruang pribadi menjadi kabur. Banyak karyawan mengaku jam kerja menjadi lebih panjang, tekanan meningkat, dan interaksi sosial berkurang drastis. Rasa kesepian dan burnout menjadi isu baru yang tidak bisa diabaikan. Pemerintah berada di posisi dilematis. Di satu sisi, WFH dapat mengurangi kemacetan, polusi, dan beban infrastruktur kota. Di sisi lain, roda ekonomi sektor informal harus tetap berputar. Kebijakan yang terlalu condong pada WFH tanpa strategi pendamping berisiko memperlebar ketimpangan ekonomi. Maka, alih-alih mempertanyakan apakah WFH harus diterapkan atau tidak, pertanyaan yang lebih relevan adalah: bagaimana merancang kebijakan WFH yang adil? Jawabannya mungkin terletak pada pendekatan hibrida menggabungkan kerja dari kantor dan dari rumah secara proporsional. Model ini memberi ruang bagi efisiensi tanpa mematikan aktivitas ekonomi di sekitar pusat kerja. Di saat yang sama, pemerintah perlu mendorong transformasi digital bagi pelaku UMKM agar mereka tidak tertinggal dalam ekosistem baru ini. WFH bukan sekadar soal lokasi kerja. Ia adalah refleksi perubahan zaman—tentang bagaimana manusia bekerja, berinteraksi, dan bertahan dalam dinamika ekonomi modern. Dan seperti setiap perubahan besar lainnya, selalu ada yang diuntungkan. Tapi, tak sedikit pula yang harus berjuang agar tidak menjadi korban. JIM+AI
Baca selengkapnya
Daring yang Dibatalkan: Ketika Kebijakan Hampir Mengorbankan Akal
Daring Yang DIbatalkan
Tidak semua kebijakan buruk benar-benar dilaksanakan. Sebagian cukup muncul dan itu saja sudah cukup mengkhawatirkan. Rencana pembelajaran daring yang akhirnya dibatalkan menyisakan satu pertanyaan penting: bagaimana mungkin ide ini sempat dianggap masuk akal? Kita belum lupa. Pandemi baru saja lewat, tetapi luka pendidikan masih terasa. Anak-anak kehilangan ritme belajar. Guru kewalahan mengejar kurikulum. Orang tua dipaksa menjadi “guru dadakan” tanpa persiapan. Dan di banyak tempat, “belajar daring” hanyalah nama lain dari: tugas dikirim, pemahaman hilang. Maka ketika wacana itu muncul lagi bukan karena darurat kesehatan, tetapi karena alasan efisiensi yang muncul bukan sekadar kekhawatiran, tetapi kecurigaan. Mari jujur. Pembelajaran daring bukan solusi netral. Ia adalah pilihan kebijakan dan setiap pilihan selalu punya korban. Dan kali ini, yang hampir menjadi korban adalah anak-anak. Kita sering terjebak pada logika teknokratis: bahwa pendidikan bisa dipindahkan ke layar, bahwa interaksi bisa digantikan aplikasi, bahwa kehadiran fisik hanyalah formalitas. Padahal realitasnya jauh lebih sederhana dan lebih keras: anak belajar dari manusia, bukan dari sinyal internet. Ketika kebijakan daring dipertimbangkan demi efisiensi energi, itu menunjukkan satu hal yang mengkhawatirkan: pendidikan masih dilihat sebagai variabel yang bisa “ditunda” atau “disesuaikan” tanpa konsekuensi besar. Padahal justru di sanalah kesalahan fatalnya. Efisiensi energi mungkin menyelamatkan anggaran hari ini. Tetapi penurunan kualitas pendidikan? Itu adalah utang jangka panjang yang akan dibayar oleh satu generasi penuh. Lebih jauh lagi, kita seolah lupa bahwa daring bukan hanya soal metode belajar, tetapi soal ketimpangan. Di kota besar, daring mungkin masih bisa berjalan. Di pinggiran? Di desa? Daring berubah menjadi formalitas tanpa substansi. Yang hadir bukan pembelajaran tetapi ilusi pendidikan. Sudut Pandang Keras. Yang perlu dikritisi bukan hanya kebijakan yang dibatalkan tetapi cara berpikir yang melahirkannya. Selama pendidikan masih dianggap sebagai sektor yang paling fleksibel untuk dikorbankan, maka ide-ide seperti ini akan terus muncul, lagi dan lagi, dalam bentuk yang berbeda. Hari ini alasan energi. Besok mungkin anggaran. Lusa bisa jadi efisiensi birokrasi. Dan setiap kali itu terjadi, yang dipertaruhkan tetap sama: masa depan anak-anak yang tidak pernah diajak bicara. Penutup. Pembatalan pembelajaran daring memang patut diapresiasi. Tetapi apresiasi saja tidak cukup. Kita perlu memastikan satu hal: bahwa kebijakan pendidikan tidak lagi lahir dari meja rapat yang jauh dari realitas kelas. Karena jika tidak, kita hanya akan terus beruntung bukan karena kebijakan kita benar, tetapi karena kita sempat sadar sebelum semuanya terlambat. Dan pendidikan tidak boleh bergantung pada keberuntungan. JIM+AI Baca selengkapnya
Tidak semua kebijakan buruk benar-benar dilaksanakan. Sebagian cukup muncul dan itu saja sudah cukup mengkhawatirkan. Rencana pembelajaran daring yang akhirnya dibatalkan menyisakan satu pertanyaan penting: bagaimana mungkin ide ini sempat dianggap masuk akal? Kita belum lupa. Pandemi baru saja lewat, tetapi luka pendidikan masih terasa. Anak-anak kehilangan ritme belajar. Guru kewalahan mengejar kurikulum. Orang tua dipaksa menjadi “guru dadakan” tanpa persiapan. Dan di banyak tempat, “belajar daring” hanyalah nama lain dari: tugas dikirim, pemahaman hilang. Maka ketika wacana itu muncul lagi bukan karena darurat kesehatan, tetapi karena alasan efisiensi yang muncul bukan sekadar kekhawatiran, tetapi kecurigaan. Mari jujur. Pembelajaran daring bukan solusi netral. Ia adalah pilihan kebijakan dan setiap pilihan selalu punya korban. Dan kali ini, yang hampir menjadi korban adalah anak-anak. Kita sering terjebak pada logika teknokratis: bahwa pendidikan bisa dipindahkan ke layar, bahwa interaksi bisa digantikan aplikasi, bahwa kehadiran fisik hanyalah formalitas. Padahal realitasnya jauh lebih sederhana dan lebih keras: anak belajar dari manusia, bukan dari sinyal internet. Ketika kebijakan daring dipertimbangkan demi efisiensi energi, itu menunjukkan satu hal yang mengkhawatirkan: pendidikan masih dilihat sebagai variabel yang bisa “ditunda” atau “disesuaikan” tanpa konsekuensi besar. Padahal justru di sanalah kesalahan fatalnya. Efisiensi energi mungkin menyelamatkan anggaran hari ini. Tetapi penurunan kualitas pendidikan? Itu adalah utang jangka panjang yang akan dibayar oleh satu generasi penuh. Lebih jauh lagi, kita seolah lupa bahwa daring bukan hanya soal metode belajar, tetapi soal ketimpangan. Di kota besar, daring mungkin masih bisa berjalan. Di pinggiran? Di desa? Daring berubah menjadi formalitas tanpa substansi. Yang hadir bukan pembelajaran tetapi ilusi pendidikan. Sudut Pandang Keras. Yang perlu dikritisi bukan hanya kebijakan yang dibatalkan tetapi cara berpikir yang melahirkannya. Selama pendidikan masih dianggap sebagai sektor yang paling fleksibel untuk dikorbankan, maka ide-ide seperti ini akan terus muncul, lagi dan lagi, dalam bentuk yang berbeda. Hari ini alasan energi. Besok mungkin anggaran. Lusa bisa jadi efisiensi birokrasi. Dan setiap kali itu terjadi, yang dipertaruhkan tetap sama: masa depan anak-anak yang tidak pernah diajak bicara. Penutup. Pembatalan pembelajaran daring memang patut diapresiasi. Tetapi apresiasi saja tidak cukup. Kita perlu memastikan satu hal: bahwa kebijakan pendidikan tidak lagi lahir dari meja rapat yang jauh dari realitas kelas. Karena jika tidak, kita hanya akan terus beruntung bukan karena kebijakan kita benar, tetapi karena kita sempat sadar sebelum semuanya terlambat. Dan pendidikan tidak boleh bergantung pada keberuntungan. JIM+AI Baca selengkapnya
Arus Kendaraan di Sejumlah Jalur Utama Terpantau Padat Sejak Pagi
Arus kendaraan di sejumlah jalur utama terpantau padat sejak pagi akibat peningkatan aktivitas masyarakat. Kepadatan terlihat di beberapa persimpangan dan akses menuju pusat kegiatan ekonomi.
Pengendara diimbau mengatur waktu keberangkatan dan memanfaatkan jalur alternatif untuk menghindari perlambatan perjalanan. Baca selengkapnya
Pengendara diimbau mengatur waktu keberangkatan dan memanfaatkan jalur alternatif untuk menghindari perlambatan perjalanan. Baca selengkapnya
Pelaku UMKM Mulai Ekspansi Penjualan Lewat Kanal Digital
Pelaku UMKM mulai memperluas jangkauan penjualan lewat kanal digital untuk menjawab perubahan perilaku konsumen. Strategi ini dinilai efektif dalam memperkuat daya saing sekaligus membuka pasar yang lebih luas.
Beberapa pelaku usaha mengaku penjualan meningkat setelah lebih aktif memanfaatkan promosi digital dan layanan pengiriman. Baca selengkapnya
Beberapa pelaku usaha mengaku penjualan meningkat setelah lebih aktif memanfaatkan promosi digital dan layanan pengiriman. Baca selengkapnya
Stay Connected
Kalender Hari Ini
-
-
00:00:00
Categories
Recent Articles
Popular Articles
Pilihan Editor
ISBN Bukan Sekadar Nomor: Saatnya Pengelolaan ISBN di Indonesia Naik Kelas
Terkini
TAPAK CANDI KE-5: KETIKA KAKI BICARA LEBIH KERAS DARI KATA-KATA
Olahraga
Di Antara Reformasi Pendidikan dan Tuduhan Korupsi: Pro-Kontra Vonis Nadiem Ma...
Politik
MSKC XVI: Sambut Piala Dunia, SSB Matra Cetak Generasi Sportif & Berprestasi
Olahraga
“Ketika Buku Harus ‘Digratiskan’: Antara Mencerdaskan Bangsa dan Mematikan Mar...
Terkini
🏠 "TITIP ANAK KE DAYCARE, YANG PULANG MALAH TRAUMA — Ketika 'Little Aresha' T...
Kriminal
"Babi itu nggak pernah minta diributkan dia cuma mau hidup tenang di kandang,...
Terkini
"JK ngomong pake data, Jokowi ngomong pake hati eh, kita malah pusing sendiri...
Politik
Wawan Arif Terpilih Kembali sebagai Ketua IKAPI DIY Periode 2026–2031
Terkini
BBM Naik Lagi: Antara Realitas Global dan Kegagalan Melindungi Daya Beli
Terkini
“Tapak Candi Jogja: Menyusuri Warisan Leluhur, Menemukan Kebahagiaan Baru”
Olahraga
SIAPA SEBENARNYA YANG HARUS BERTANGGUNG JAWAB? HILANGNYA DANA UMAT 28 M
Terkini
Dua Potongan, Satu Narasi? Membaca Ahok dan JK di Antara Potongan Video dan Ke...
Politik
Ketika Mesin Mulai Berkehendak: Ancaman Senyap Cyborg atas Masa Depan Manusia
Teknologi
Bayang-Bayang Rp5 Miliar: Antara Klarifikasi, Tuduhan, dan Kepercayaan Publik
Politik
Ijasah Jokowi: Polemik Elit, Untung-Rugi Rakyat di Baliknya
Politik
Retorika Kiamat dan Politik Ketakutan: Membaca Pesan Kontroversial Donald J. T...
Politik
“Reshuffle yang Dirahasiakan: Strategi Politik atau Krisis Kepercayaan?”
Politik
Komunikasi Lumpuh, Ribuan Mengungsi: Bencana Beruntun Hantam Halmahera Barat d...
Terkini
Premanisme Jalanan: Alarm Keras bagi Wajah Hukum di Yogyakarta
Kriminal
ISBN Bukan Sekadar Nomor: Saatnya Pengelolaan ISBN di Indonesia Naik Kelas
Terkini
TAPAK CANDI KE-5: KETIKA KAKI BICARA LEBIH KERAS DARI KATA-KATA
Olahraga
Di Antara Reformasi Pendidikan dan Tuduhan Korupsi: Pro-Kontra Vonis Nadiem Ma...
Politik
MSKC XVI: Sambut Piala Dunia, SSB Matra Cetak Generasi Sportif & Berprestasi
Olahraga
“Ketika Buku Harus ‘Digratiskan’: Antara Mencerdaskan Bangsa dan Mematikan Mar...
Terkini
🏠 "TITIP ANAK KE DAYCARE, YANG PULANG MALAH TRAUMA — Ketika 'Little Aresha' T...
Kriminal
"Babi itu nggak pernah minta diributkan dia cuma mau hidup tenang di kandang,...
Terkini
"JK ngomong pake data, Jokowi ngomong pake hati eh, kita malah pusing sendiri...
Politik
Wawan Arif Terpilih Kembali sebagai Ketua IKAPI DIY Periode 2026–2031
Terkini
BBM Naik Lagi: Antara Realitas Global dan Kegagalan Melindungi Daya Beli
Terkini
“Tapak Candi Jogja: Menyusuri Warisan Leluhur, Menemukan Kebahagiaan Baru”
Olahraga
SIAPA SEBENARNYA YANG HARUS BERTANGGUNG JAWAB? HILANGNYA DANA UMAT 28 M
Terkini
Dua Potongan, Satu Narasi? Membaca Ahok dan JK di Antara Potongan Video dan Ke...
Politik
Ketika Mesin Mulai Berkehendak: Ancaman Senyap Cyborg atas Masa Depan Manusia
Teknologi
Bayang-Bayang Rp5 Miliar: Antara Klarifikasi, Tuduhan, dan Kepercayaan Publik
Politik
Ijasah Jokowi: Polemik Elit, Untung-Rugi Rakyat di Baliknya
Politik
Retorika Kiamat dan Politik Ketakutan: Membaca Pesan Kontroversial Donald J. T...
Politik
“Reshuffle yang Dirahasiakan: Strategi Politik atau Krisis Kepercayaan?”
Politik
Komunikasi Lumpuh, Ribuan Mengungsi: Bencana Beruntun Hantam Halmahera Barat d...
Terkini
Premanisme Jalanan: Alarm Keras bagi Wajah Hukum di Yogyakarta
Kriminal
Recent Articles
•
ISBN Bukan Sekadar Nomor: Saatnya Pengelolaan ISBN di Indonesia Naik Kelas
•
TAPAK CANDI KE-5: KETIKA KAKI BICARA LEBIH KERAS DARI KATA-KATA
•
Di Antara Reformasi Pendidikan dan Tuduhan Korupsi: Pro-Kontra Vonis Nadiem Makarim
•
MSKC XVI: Sambut Piala Dunia, SSB Matra Cetak Generasi Sportif & Berprestasi
•
“Ketika Buku Harus ‘Digratiskan’: Antara Mencerdaskan Bangsa dan Mematikan Martabat Penulis”
•
🏠 "TITIP ANAK KE DAYCARE, YANG PULANG MALAH TRAUMA — Ketika 'Little Aresha' Ternyata Tidak Se-Little Dosanya"
•
"Babi itu nggak pernah minta diributkan dia cuma mau hidup tenang di kandang, eh malah jadi trending topic."
•
"JK ngomong pake data, Jokowi ngomong pake hati eh, kita malah pusing sendiri!" 😄
•
Wawan Arif Terpilih Kembali sebagai Ketua IKAPI DIY Periode 2026–2031
•
BBM Naik Lagi: Antara Realitas Global dan Kegagalan Melindungi Daya Beli
Popular Articles
•
Menapak Jejak Peradaban: “Tapak Candi Fun Walk #3” Satukan Generasi dalam Semangat Sehat dan Budaya
•
📰 ARUS BALIK INDONESIA MEMUNCAK: Antara Tradisi, Tekanan Infrastruktur, dan Perlombaan Melawan Waktu
•
🔥 Prediksi Panas Final FIFA Series 2026: Indonesia vs Bulgaria — Garuda Siap Menggigit!
•
Antek-Antek Asing: Ancaman Nyata Atau Narasi Politik.
•
MESIN BISNIS TANPA MANUSIA? Ketika Agentic AI Mulai Mengambil Alih Dunia Usaha