Indonesia Lelang 13 Blok Migas, Diantaranya Wilayah Kerja Natuna D Alpha

IPOLEKSOS 25 May 2026 19:46 5 min read 151 views By Fadhsa

Share berita ini

Indonesia Lelang 13 Blok Migas, Diantaranya Wilayah Kerja Natuna D Alpha
Peta Blok Natuna D Alpha yang akan dilelang Kementerian ESDM RI. Blok Natuna D Alpha berada sekitar 250 km dari Kepulauan Natuna, Provinsi Kepulauan Riau.

Koran Bintan.com | JAKARTA —  Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia melelang 13 blok minyak dan gas baru dalam ajang Indonesian Petroleum Association Convention and Exhibition (IPA Convex) yang dibuka di Tangerang pada Rabu (23/5/2026).

 

Salah satu yang akan di lelang adalah Wilayah Kerja Natuna D Alpha yang berada di lepas pantai Natuna, Provinsi Kepulauan Riau dengan luas 10.211,85 km² dan estimasi sumber daya: ± 2.865 mmbl  (juta barel minyak).

 

“Bagi yang berminat untuk ikut serta, lelang dimulai hari ini,” kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman.

 

Pemerintah menawarkan fleksibilitas bagi perusahaan swasta maupun BUMN untuk memilih skema Kontrak Bagi Hasil (Production Sharing Contract/PSC), baik model gross split maupun cost recovery.

 

Secara sederhana, skema gross split memungkinkan perusahaan memperoleh porsi pendapatan produksi yang lebih besar, namun tanpa penggantian biaya produksi dari pemerintah.

 

Sebaliknya, skema cost recovery memungkinkan perusahaan memperoleh penggantian biaya produksi dari pemerintah, meski porsi bagi hasil pemerintah biasanya lebih besar untuk mengimbangi biaya tersebut.

 

Insentif lain yang diberikan pemerintah mencakup keringanan pajak dan kompensasi atas penyaluran minyak dan gas untuk kewajiban pasar domestik (Domestic Market Obligation/DMO), yang dikenal sebagai DMO Fee.

 

Untuk jalur penawaran langsung (direct offer), akses dokumen lelang dibuka mulai 20 Mei 2026 hingga 3 Juli 2026, dengan batas akhir pengajuan pada 6 Juli 2026.

 

Selain itu, pemerintah juga membuka tender reguler untuk wilayah studi ABT 2025 yang mencakup wilayah kerja Rupat, Puri, Pesut Mahakam, Bengara II, Maratua II, Rombebai, dan Jayapura. Dalam kategori ini, dokumen lelang dapat diakses mulai 20 Mei 2026 hingga 17 Juli 2026, dengan batas pengajuan pada 20 Juli 2026.

 

Sementara itu, untuk tender reguler standar, pemerintah menawarkan wilayah kerja Namori, South Tanimbar, Cerera, dan Areca Bruni. Akses dokumen lelang untuk blok-blok tersebut dibuka mulai 20 Mei 2026 hingga 15 September 2026, dengan batas akhir pengajuan pada 17 September 2026.

 

Rincian 13 blok migas yang dilelang

 

A. Jalur Tender Penawaran Langsung

 

1. Wilayah Kerja Natuna D Alpha

Lokasi: Lepas pantai Natuna
Luas: 10.211,85 km²
Estimasi sumber daya: ± 2.865 mmbl  (juta barel minyak)
Format kontrak: cost recovery dengan pembagian 50:50 (minyak dan gas)


2. Wilayah Kerja Sapukala

Lokasi: Lepas pantai Selat Makassar
Luas: 8.474,5 km²
Estimasi sumber daya: ± 2.309 bscf gas
Format kontrak: gross split (base split PSC 53:47 minyak dan 51:49 gas)

 

B. Daftar Wilayah Kerja Tender Reguler

 

1. Wilayah Kerja Rupat

Lokasi: Lepas pantai dan daratan Riau, serta lepas pantai Sumatera Utara
Luas: 7.843,66 km²
Estimasi sumber daya: ± 1.110 mm²
Komitmen: 200 km seismik 2D

 

2. Wilayah Kerja Puri

Lokasi: Daratan Provinsi Riau
Luas: 4.190,32 km²
Estimasi sumber daya: ± 1.110 mmbl
Komitmen: 200 km seismik 2D

 

3. Wilayah Kerja Pesut Mahakam

Lokasi: Daratan Kalimantan Timur
Luas: 1.530,15 km²
Estimasi sumber daya: ± 1.336 mmbl
Komitmen: 100 km² seismik 3D

 

4. Wilayah Kerja Bengara II

Lokasi: Daratan dan lepas pantai Kalimantan Utara
Luas: 3.289,67 km²
Estimasi sumber daya: ± 1.057 mmbb
Komitmen: 100 km² seismik 3D

 

5. Wilayah Kerja Maratua II

Lokasi: Daratan dan lepas pantai Kalimantan Utara
Luas: 4.350,36 km²
Estimasi sumber daya: ± 3.279 mmbl
Komitmen: 200 km seismik 2D

 

6. Wilayah Kerja Namori

Lokasi: Lepas pantai Nusa Tenggara Timur (NTT)
Luas: 9.769,82 km²
Estimasi sumber daya: ± 17.475 mm² atau 38,5 tcf gas
Komitmen: 200 km² seismik 3D

 

7. Wilayah Kerja South Tanimbar

Lokasi: Lepas pantai Laut Arafura
Luas: 8.492,49 km²
Estimasi sumber daya: ± 5,6 tcf gas
Komitmen: 500 km² seismik 3D

 

8. Wilayah Kerja Cerera

Lokasi: Lepas pantai Papua
Luas: 7.171,22 km²
Estimasi sumber daya: ± 1.487 mmboe dan 1,3 tcf gas
Komitmen: 250 km² seismik 3D atau 1.000 km seismik 2D

 

9. Wilayah Kerja Areca Bruni

Lokasi: Lepas pantai dan daratan Papua Barat Daya
Luas: 8.480,52 km²
Estimasi sumber daya: ± 2.985 mmboe
Bentuk kontrak: cost recovery (PSC split 60:40 minyak dan 55:45 gas) atau gross split

 

10. Wilayah Kerja Rombebai

Lokasi: Lepas pantai dan daratan Papua
Luas: 7.367,48 km²
Estimasi sumber daya: ± 14,75 tcf gas
Jenis kontrak: cost recovery (PSC split 55:45 minyak dan 50:50 gas) atau gross split

 

11. Wilayah Kerja Jayapura

Lokasi: Lepas pantai dan daratan Papua
Luas: 7.299,41 km²
Estimasi sumber daya: ± 19,4 tcf gas
Jenis kontrak: cost recovery (PSC split 55:45 minyak dan 50:50 gas) atau gross split
Karena Investor Asing Enggan?

 

Menurut seorang pengusaha, lelang yang membebaskan investor memilih gross split atau cost recovery merupakan kemajuan baru. “Ini berarti pemerintah mulai agresif mencari investor minyak lagi.”

 

Lelang 13 blok ini, lanjutnya, di tengah tekanan swasembada energi Prabowo dan shortfall investasi eksplorasi.

 

Data IPA hingga Oktober 2025, menunjukkan realisasi investasi hulu migas nasional baru mencapai US$11,2 miliar dari target yang ditetapkan untuk 2025 sebesar US$ 16,1 miliar. Jika melihat detail komposisi investasi yang ada, realisasi investasi untuk eksplorasi hanya menyentuh angka US$500 juta dari target sebesar US$1,5 miliar.

 

Hal tersebut, lanjutnya, terjadi karena investor asing migas enggan eksplorasi minyak di Indonesia sejak sistem kontrak diubah menjadi gross split, dari sebelumnya cost recovery.

 

“Jadi lifting minyak Indonesia turun bukan karena tidak ada minyak, tapi karena tidak ada investor yang mau cari minyak di Indonesia dengan kontrak model gross split.”

 

Pertanyaan yang lain adalah apakah hal itu berarti Indonesia kaya sumber daya minyak tapi tidak ada perusahaan lokal yang mampu eksplorasi.

 

“Begini, industri migas itu butuh modal besar dan teknologi. Karena dari 10 lubang eksplorasi yang sangat mahal prosesnya, hanya satu yang kemungkinan mengeluarkan minyak. Resiko terlalu besar dan butuh modal yang sangat besar belum teknologinya hanya big boy besar yang mampu beli.” tandasnya.(han/ard)

>>