Di Aceh, denting parang yang memotong daging sehari jelang Ramadhan, Idul Fitri, atau Idul Adha bukan sekadar suara dapur. Ia adalah gema sejarah. Ia adalah denyut solidaritas. Ia adalah bahasa cinta yang diwariskan lintas generasi. Orang Aceh menyebutnya Meugang.
Meugang bukan hanya peristiwa kuliner. Ia adalah peristiwa batin. Di pasar-pasar tradisional, harga daging melonjak. Lapak-lapak penuh. Wajah-wajah lelah tapi berbinar. Ayah memanggul plastik besar berisi daging. Ibu menakar bumbu. Anak-anak menunggu dengan harap. Pada hari itu, aroma kuah beulangong, rendang, atau masakan daging khas kampung memenuhi lorong-lorong desa.
Tetapi Meugang tidak berhenti pada soal daging. Ia adalah simbol bahwa kebahagiaan tidak boleh dinikmati sendiri. Sejarah mencatat, tradisi ini telah hidup sejak masa Kesultanan Aceh Darussalam. Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, penyembelihan hewan menjelang hari besar Islam dilakukan sebagai bentuk kepedulian sosial agar rakyat dapat menikmati hidangan layak sebelum memasuki momentum suci. Dari istana, nilai itu turun ke gampong-gampong. Dari bangsawan ke rakyat biasa. Dari masa lalu ke masa kini. Maka Meugang adalah warisan peradaban, bukan sekadar kebiasaan turun-temurun.
Di balik hiruk-pikuk pembelian daging, ada filosofi yang jarang dibicarakan. Meugang mengajarkan bahwa memasuki bulan suci harus dengan hati yang lapang dan perut yang tenang. Bahwa Ramadhan tidak boleh disambut dengan kegelisahan ekonomi. Bahwa hari raya tidak boleh meninggalkan rasa perih di rumah fakir.
Karena itu, di banyak kampung, orang-orang yang mampu berbagi kepada tetangga. Daging tidak hanya masuk ke rumah sendiri, tetapi juga disalurkan kepada yang tak mampu. Ada yang membagi diam-diam. Ada yang mengantar dengan senyum. Ada yang menyelipkan doa.
Meugang adalah latihan empati. Ia mengingatkan bahwa ibadah vertikal harus ditopang oleh kepekaan horizontal. Tidak ada makna puasa jika tetangga masih kelaparan. Tidak ada arti takbir jika di samping rumah ada anak yatim yang hanya mencium aroma tanpa mencicipi. Namun zaman berubah.
Modernitas perlahan menggeser makna. Meugang di sebagian tempat mulai dipersempit menjadi ajang gengsi. Siapa membeli paling banyak. Siapa memasak paling mewah. Siapa memamerkan paling megah. Media sosial kadang lebih ramai daripada dapur itu sendiri.
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak. Apakah Meugang masih tentang kebersamaan, atau telah berubah menjadi kompetisi diam-diam? Jika Meugang hanya berhenti pada konsumsi, ia kehilangan ruhnya. Tetapi jika ia dijaga sebagai ruang berbagi, maka ia tetap menjadi cahaya budaya.
Aceh memiliki kekayaan adat yang berpadu dengan syariat. Meugang adalah contoh harmoninya. Ia tidak bertentangan dengan agama. Justru selaras dengan spirit sedekah, silaturahmi, dan persiapan ruhani menyambut momentum ibadah.
Tradisi ini juga memperkuat struktur sosial masyarakat Aceh. Hubungan antar keluarga menghangat. Anak-anak belajar makna memberi. Orang tua mengajarkan pentingnya berbagi. Bahkan mereka yang merantau akan berusaha pulang agar bisa merasakan Meugang bersama keluarga.
Karena Meugang bukan soal daging, tetapi soal pulang. Pulang pada keluarga. Pulang pada kepedulian. Pulang pada nilai-nilai kebersamaan.
Di tengah tantangan ekonomi dan perubahan sosial, Meugang bisa menjadi jangkar identitas. Ia menjaga Aceh tetap berakar pada nilai solidaritas. Ia mengingatkan bahwa kekuatan masyarakat bukan pada kemewahan, tetapi pada kemampuan berbagi. Maka menjaga Meugang bukan sekadar melestarikan tradisi, tetapi merawat jiwa kolektif orang Aceh.
Kita boleh menyesuaikan cara. Kita boleh mengatur pola. Tetapi jangan sampai hilang makna. Jangan sampai Meugang tinggal cerita tanpa rasa. Sebab selama masih ada tangan yang berbagi, selama masih ada dapur yang menyiapkan untuk tetangga, selama masih ada doa yang dipanjatkan bersama sebelum menyantap hidangan, selama itu pula Meugang bukan hanya tradisi.
Ia adalah identitas.
Ia adalah solidaritas.
Ia adalah wajah Aceh yang sesungguhnya.
*Penulis adalah Penghulu Ahli Madya sekaligus Kepala KUA Susoh







LEAVE A REPLY