Aceh Selatan,-Menjelang bulan suci Ramadan, pertanyaan seputar keamanan berpuasa bagi pasien penyakit jantung kembali menjadi perhatian masyarakat. Perubahan pola makan, waktu minum obat, serta pembatasan asupan cairan selama berpuasa dapat memengaruhi kondisi jantung jika tidak dikelola dengan tepat.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah di RSUD dr. H. Yuliddin Away, dr. Emil Fathoni, Sp.JP-FIHA, menjelaskan bahwa tidak semua pasien penyakit jantung dilarang berpuasa. Namun, keputusan tersebut harus berdasarkan evaluasi medis yang menyeluruh.
“Setiap pasien memiliki tingkat risiko yang berbeda. Ada yang aman berpuasa, ada juga yang sebaiknya tidak memaksakan diri,” jelas dr. Emil.
Menurutnya, pasien dengan penyakit jantung koroner yang stabil, tekanan darah terkontrol, atau gagal jantung ringan yang kondisinya baik umumnya masih dapat menjalankan puasa dengan pengawasan dokter. Namun, pasien dengan risiko tinggi seperti serangan jantung yang baru terjadi, gagal jantung berat, atau gangguan irama jantung yang belum terkontrol sebaiknya tidak berpuasa demi keselamatan.
Salah satu hal yang sering menjadi masalah adalah kepatuhan minum obat. dr. Emil mengingatkan agar pasien tidak menghentikan atau mengurangi dosis obat secara mandiri karena khawatir membatalkan puasa.
“Obat jantung harus tetap diminum sesuai anjuran. Jika perlu penyesuaian waktu, bisa diatur saat sahur dan berbuka. Yang tidak boleh adalah mengubah dosis tanpa konsultasi,” tegasnya.
Selain obat, pengaturan cairan juga sangat penting. Pasien dianjurkan untuk tetap memenuhi kebutuhan cairan sesuai rekomendasi dokter, tetapi tidak mengonsumsinya dalam jumlah besar sekaligus saat berbuka. Minum berlebihan dalam waktu singkat dapat memicu penumpukan cairan dan membebani kerja jantung.
Dari sisi pola makan, ia menyarankan agar pasien menghindari makanan tinggi lemak, gula, dan garam yang sering menjadi menu favorit saat berbuka. Sebagai gantinya, perbanyak konsumsi sayuran, buah, serta sumber protein sehat untuk menjaga kestabilan tekanan darah dan fungsi jantung.
dr. Emil juga menekankan pentingnya mengenali tanda bahaya. Puasa harus segera dibatalkan dan pasien perlu mencari pertolongan medis jika muncul keluhan seperti nyeri dada, sesak napas yang memburuk, jantung berdebar hebat, pusing, atau pembengkakan yang semakin meningkat.
“Keselamatan tetap menjadi prioritas. Ibadah itu penting, tetapi kesehatan tidak boleh diabaikan,” tambahnya.
Ia mengimbau masyarakat dengan riwayat penyakit jantung untuk melakukan pemeriksaan sebelum Ramadan agar dapat menjalankan ibadah dengan aman, nyaman, dan penuh ketenangan.







LEAVE A REPLY