Home FILM Habis Gelap Terbitlah Terang

Habis Gelap Terbitlah Terang

Film From Dusk Till Dawn [1996]

5
0
SHARE
Habis Gelap Terbitlah Terang

Awalnya, film dibuat untuk mendokumentasikan sebuah realitas agar dapat dimaknai sebagian besar orang. Ini dijalani pada paruh awal perkembangan film di dunia. Dalam pertumbuhannya, terdapat pergeseran makna dalam memaknai film. Ketika film telah menjadi bagian industri raksasa yang mampu menjadi mesin pencetak uang, maka ketika itu pula film diterjemahkan sebagai bagian dari upaya menghibur. Dan makna ini toh tidak bisa tereduksi oleh kemajuan zaman, bergulirnya waktu dan beragam faktor eksternal lain.

Dan di tengah iklim perfilman yang sudah mulai membosankan dengan banjir film mainstream, maka bermunculan segelintir sutradara dengan gaya dan pemahaman baru tentang cara membuat film. Dari hasil karya mereka terbaca latar belakang yang telah dialami puluhan tahun ke belakang sebelum ditahbiskan sebagai sineas. Quentin Tarantino yang mulai menghebohkan dunia ketika filmnya yang banjir darah dan kekerasan, Pulp Fiction (1994) memenangkan Palem Emas di Cannes, dianggap sebagai sutradara yang punya style khas. Dari sekian judul film garapannya, terbaca kegilaan Tarantino akan cult movie, B-movie atau apapun istilahnya. Meski jenis film ini dipandang sebagai produk kelas dua, tapi Tarantino melahapnya untuk kemudian dikombinasikannya dengan pengetahuan yang dimilikinya menjadi sesuatu yang dahsyat. Hebatnya, Tarantino mampu mengawinkan idealisme-nya dengan keberhasilan filmnya merajai pasaran.

Itu berlaku jika Tarantino duduk di kursi sutradara. Bagaimana pula ketika ia mesti ‘hanya’ sebagai penulis skenario? Warna ala Tarantino toh tetap kental meski hasil akhirnya tak selalu memuaskan penonton, juga Tarantino sendiri. Lihatlah Natural Born Killers (1994) yang dikreasikan oleh Oliver Stone dari naskah buatan Tarantino. Kabarnya, Tarantino ngedumel ketika mendapati film tersebut tak seindah yang dibayangkannya. Ini bisa saja terjadi karena ada perbedaan ‘bahasa’ antara Tarantino dari generasi yang lebih muda dengan Stone yang jauh lebih senior. Mungkin karena itu, Tarantino kapok juga bekerjasama dengan sineas yang tak sevisi. Maka naskah From Dusk Till Dawn dipercayakannya pada sobatnya sendiri, Robert Rodriguez. Keduanya memang telah bekerjasama dalam beberapa proyek. Tarantino ikut main dalam Desperado besutan Rodriguez dan keduanya bersama menyutradarai Four Rooms (1995) bersama 2 sutradara lain.

Hasilnya sebuah film yang kelihatannya sepele, namun bisa dijahili oleh dynamic duo itu. Premis kisahnya pun sangat standar: dua bersaudara, Seth (George Clooney) dan Ritchie (Quentin Tarantino) yang terkenal sebagai pembobol bank. Dalam petualangannya menghindari kejaran yang berwajib, mereka menemui berbagai pengalaman menarik. Mulai dari ketemu seorang mantan pendeta (Harvey Keitel) yang mulai meragukan kebesaran Tuhan, hingga ketidaksengajaan mereka berdua menyambangi klub malam yang ternyata menjadi sarang drakula.

Drakula? Ya, Anda tak salah baca. Dan inilah kejahilan Tarantino. Penonton yang sudah dibuat tegang dengan aksi dua bersaudara, mendadak ternganga ketika film berubah menjadi horor mengerikan. Untungnya, Tarantino punya kemampuan untuk tetap menghibur penontonnya. Maka penonton toh tetap bisa menikmati, malah mungkin akan semakin menghibur. Padahal, jika dinalar, kisah seperti ini sudah sangat usang, tapi karena Tarantino memang tak punya pretensi apapun, selain menghibur maka nikmatilahFrom Dusk Till Dawn sampai selesai.

Seperti biasa, masih ada dialog–dialog cerdas berseliweran sepanjang film dengan selipan sumpah serapah, masih berhamburan darah dan kekerasan, masih ada humor hitam nan pekat yang mungkin hanya bisa dimengerti segelintir orang. Untuk ini, Tarantino maupun Ridroguez memang cukup egois, tapi tak sampai melukai penonton. Tampaknya kolaborasi keduanya bisa meredam ego satu sama lain, sehingga yang menjadi komando tak lagi mereka saja, tapi juga penonton film ini.

Maka nikmatilah From Dusk Till Dawn bagaikan menikmati pencerahan baru dari karya sinema, bagaikan berjalan dari tempat gelap menuju terang, tempat dimana cakrawala berpikir dibuka lebih luas untuk bertualang menjelajahi alam pemikiran yang lebih bebas.

Video Terkait: