Home FILM Tidakkah Terlalu Sentimental Untuk Selalu Mencari Tempat Untuk Pulang?

Tidakkah Terlalu Sentimental Untuk Selalu Mencari Tempat Untuk Pulang?

Film Sentimental Value [2025]

29
0
SHARE
Tidakkah Terlalu Sentimental Untuk Selalu Mencari Tempat Untuk Pulang?

Tahun 2006. Untuk pertama kalinya saya berkenalan dengan Joachim Trier. Filmnya, Reprise, memberi semacam napas baru bagi gaya bercerita yang cenderung monoton selama bertahun-tahun. Memang terlihat Joachim berusaha, kadang terlalu keras, untuk menjadi semacam perpanjangan tangan dari French New Wave namun kita tahu bahwa Joachim dengan film panjang pertamanya itu berusaha mencari bagian otentik dari dirinya selama bertahun-tahun. Richard Brody dari The New Yorker bahkan menganggap film itu semacam “bergaya pseudo-intelektual dan pseudo-modernis yang merupakan tiruan dari suasana dan trik New Wave.”

Dan berselang 20 tahun kemudian Joachim telah menjadi sutradara mumpuni dengan gaya khas. Kekhasan itu diperlihatkannya dalam karya terbarunya yang beroleh sorotan dunia, Sentimental Value. Dengan tema-tema yang dekat dengan kita mulai dari persahabatan hingga keluarga, Joachim berhasil membawa kita memasuki ruang-ruang yang selama ini disembunyikan rapat-rapat, digenggam dengan sangat erat hingga kita tak pernah menyadari bahwa ruang-ruang itu membawa luka dan trauma yang juga perlu disembuhkan.

Pembuka Sentimental Value sangat menarik. Ketika voice-over seseorang menjelaskan posisi si karakter utama sejak awal, Nora. Untuk sebuah tugas esai menantang untuk melihat diri mereka sebagai obyek, Nora kecil berimajinasi mengandaikan dirinya sebagai rumah. Bagaimana rasanya menjadi rumah? Bagaimana rasanya menjadi pusat dari sebuah keluarga? Bagaimana rasanya terus menerus ramai oleh berbagai suara? Tapi bagaimana pula rasanya ketika keramaian itu berubah menjadi kesunyian yang mencekam?

Pembuka ini sangat efektif menjelaskan apa yang ingin diceritakan oleh Joachim di karyanya kali ini. Ia ingin menceritakan bagaimana sebuah rumah berwarna merah yang telah dihuni ratusan tahun oleh penghuninya, dengan segala sejarahnya, dengan segala pahit lukanya, dengan segala rasa malu hingga sakit hati yang selalu ingin ditutupi. Dan bagaimana rumah merah itu menjadi tempat menyimpan rapat sebuah rahasia yang hanya diketahui oleh mereka yang menjalaninya.

Gustav [dimainkan dengan magnetik oleh Stellan Skarsgard] adalah seorang sutradara tua yang belum lagi mengerjakan proyek film setelah 15 tahun karya terdahulunya dirilis. Di usianya yang sudah menginjak 75 tahun [ia lahir tahun 1951], Gustav sedang mengerjakan sebuah skenario. Tak sekedar skenario namun menjadi manifesto dari bagaimana dirinya ingin kembali ke rumah.

Rumah itu adalah kedua putrinya, Nora dan Agnes. Sebagaimana ayahnya, Nora lahir dengan aliran darah kreatif yang deras. Ia menjadi aktris panggung tangguh dengan kecemasan yang seringkali tak tertanggungkan. Tapi Nora sama sekali tak pernah membayangkan jika suatu kali ia ditawari bermain dalam film yang akan digarap oleh ayahnya.

Lalu pelan-pelan dengan ritme yang sesungguhnya cukup lamban, Joachim membongkar benang-benang kusut di antara ayah dan anak. Bagaimana Nora merasa ditinggalkan selama bertahun-tahun oleh ayahnya setelah perceraian dengan ibunya dan bagaimana ia harus berjuang berdua dengan adiknya. Luka itu ternyata belum sembuh dan terus menggerogoti Nora.

Gustav tahu luka itu dan ia ingin mengobatinya dengan cara yang paling dipahaminya: menyalurkannya menjadi sebuah film. Ia mungkin seorang ayah dan suami yang buruk tapi Gustav tahu ia sutradara yang brilian. Ia mengorek-orek luka itu cukup dalam dan dengan penuh percaya diri menawarkan kepada sang putri untuk diperankannya.

Tentu saja kita tahu hasilnya. Nora menolak dan akhirnya digantikan oleh aktris Amerika yang tengah populer, Rachel Kemp [dengan penampilan singkat nan mengesankan oleh Elle Fanning]. Kita melihat proses kreatif yang terjadi antara sutradara dan aktornya, sesuatu yang saya pribadi sangat familiar dan bisa memahaminya. Ketika menulis skenario, kita membiarkan bagian-bagian dari diri kita masuk ke dalam cerita dan membiarkan diri kita terekspos secara luas. Sebagai aktris jempolan, Rachel mengenali apa yang ditulis Gustav dan mencoba untuk familiar dengannya.

Tapi sebegitu kerasnya pun Rachel mencoba mengenal namun ada nilai-nilai sentimental yang susah disentuhnya. Dan kita tahu Joachim ingin memberi tahu pada kita, sebagai penonton, bahwa tak masalah untuk menjadi sentimental. Tak masalah untuk selalu mencari tempat untuk pulang. Apa gunanya sebuah rumah jika ia tak bisa lagi menjadi tempat ternyaman sekaligus teraman buat kita? Apa gunanya rumah jika hati para penghuninya tak berada di dalamnya?

Meski membahas hal-hal sentimental, tak sedikit pun Joachim berusaha terlalu keras membuat kita meluapkan airmata dengan musik yang mengiris hati atau aktor yang menangis tak keruan sepanjang film. Tapi kita tersentuh dan bisa jadi menangis karenanya. Joachim menyentuh nilai-nilai sentimental yang terasa universal bagi kita semua. Ia hanya perlu skenario brilyan, pengarahan yang tak perlu over-dramatik dan aktor yang paham bagaimana menjalankan perannya dengan baik.

Saya sendiri merasa terlalu dekat dengan kisah ini. Sebagaimana Gustav, saya pun adalah seorang sutradara yang dikaruniai dua putri. Saya tinggal terpisah dengan anak-anak saya yang terasa cukup berat pada awalnya. Namun seiring waktu hubungan kami membaik dan anak-anak saya juga bisa sangat terbuka pada saya tentang apa saja hal-hal kecil yang mereka lalui keseharian. Karena meski saya ingin menjadi sutradara brilyan, saya tak ingin berakhir sebagai ayah yang buruk.

Saya, Gustav dan Nora menginginkan hal yang sama. Punya tempat untuk pulang. Bisa jadi ia rumah, bisa jadi pula ia adalah seseorang.

 

SENTIMENTAL VALUE

Produser: Maria Ekerhovd, Andrea Berentsen Ottmar

Sutradara: Joachim Trier

Penulis Skenario: Eskil Vogt, Joachim Trier

Pemain: Renate Reinsve, Stellan Skarsgard, Elle Fanning

Video Terkait: