Dalam puluhan judul film Indonesia yang beredar tahun lalu, sedikit sekali yang ‘berani’ mengumbar aspek keluarga. Hubungan orang tua dan anak atau antar sesama saudara jarang sekali dieksplorasi. Maka ketika Nagabonar Jadi 2 (2007) muncul mengedepankan kisah haru ayah–anak akhir Maret tahun ini, berbagai tanggapan positif muncul. Tak hanya ceritanya saja yang menyentuh, namun film besutan Deddy Mizwar itu juga kaya aspek moral. Manisnya karena si penulis cerita tak terasa seperti mengkhotbahi penonton.
Seorang Musfar Yazin -seperti halnya Kenneth Lonergan, si empunya cerita sekaligus sutradara film You Can Count on Me-, punya kesadaran penuh untuk mengangkat aspek humanis dalam keluarga. Hebatnya, di Barat yang selalu digambarkan mengedepankan sisi individualisme, Lonergan malah mengajak kita menjelajahi ‘isi’ rumah Samantha (dimainkan dengan brilyan oleh Laura Linney) yang mencoba berekonsiliasi dengan adiknya, Terry (Mark Ruffalo) yang kembali setelah sekian lama meninggalkan rumah.
Samantha dan Terry digambarkan secara kasat mata sebagai sosok yang sangat berbeda. Sammy teratur hidupnya dan religius. Sementara Terry hidup tak karuan dan tak percaya Tuhan. Maka ketika Terry mendatanginya untuk meminjam uang, Sammy langsung menceramahi hidupnya.
“Mungkin sebaiknya kamu menyadari bahwa hidupmu berantakan karena kamu tak percaya pada-Nya, “
begitu kira–kira kata Sammy. Penonton bisa iba dengan dua saudara ini. Keduanya masih kecil ketika ayah ibu mereka meninggal dalam kecelakaan tragis. Syukurlah, Lonergan tak membuat film peraih skenario terbaik di Sundance ini menjadi kisah melodrama nan menyayat hati. Sepanjang film, kita dibuat percaya bahwa kedua saudara ini sesungguhnya berusaha saling ‘menemukan’ diri masing–masing. Samantha merasakan hidupnya yang sepi jadi berwarna berkat kehadiran Terry. Di lain pihak, Terry merasa menjadi lebih baik sejak berada di dekat kakaknya itu.
Ada satu karakter lagi yang tak pelak membuat penonton jatuh hati. Tak lain Rudy (Rory Culkin), putra semata wayang Sammy. Seorang bocah yang tak pernah tahu keberadaan ayahnya dan merasakan hidupnya begitu semu namun tak mampu bereaksi. Berkat Terry-lah, Rudy juga menemukan kehidupan ‘berbeda’. Koneksi antara ketiganya-lah yang menjadi nyawa You Can Count on Me. Dan Lonergan tahu betul bagaimana menjaga cerita yang sudah solid ini menemukan ‘ledakan’ ketika divisualkan ke layar lebar.
Menyenangkan rasanya menyaksikan bagaimana kisah sederhana dari tiga karakter yang hidup di kota kecil dituturkan menarik. Dalam 111 menit, Lonergan berhasil membawa penonton menaiki roller coaster buatannya tanpa tahu apa yang terjadi di hadapan. Dan yang terpenting, semuanya tersaji alamiah, tidak terasa dibuat–buat. Padahal, kita tahu film adalah rekayasa. Tapi percayalah, You Can Count on Me terasa begitu riil sehingga mungkin sekali kita akan beranggapan kisah ini pernah dialami sendiri oleh Lonergan.
Departemen akting menyumbang poin besar dari keberhasilan film ini. Chemistry antara Laura Linney dan Mark Ruffalo nyaris sempurna. Meski secara fisik keduanya tampak berbeda, tapi tak jadi masalah besar ketika mereka meniupkan roh Sammy dan Terry ke diri masing–masing. Penonton jadi percaya keduanya bersaudara. Kekikukan keduanya ketika pertama kali bertemu, percekcokan antara mereka yang sering beda visi, dan kegamangan keduanya saat menentukan pilihan sulit, menjadi sensasi seni pemeranan. Rory Culkin pun bermain sama gemilangnya. Ia nyaris tak pernah kehilangan momen untuk memperlihatkan ‘keterlibatan’ dirinya diantara ibu dan pamannya.
Sungguh ‘liburan’ menarik menyaksikan film ini di tengah serbuan film Indonesia yang hanya menjual setan, arwah penasaran, kisah cinta cemen, dan entah apa lagi tema ‘sampah’ lainnya.


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://stoedioportal.com/resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY