Kejutan biasanya datang dari kepasrahan. Ketika tak berekspektasi apapun, seringkali kita mendapatkan kejutan menyenangkan dari sebuah film. Hal itu terjadi pada film The Open Road. Kisah yang konon adalah pengalaman pribadi dari sutradara merangkap penulis skenarionya, Michael Meredith. The Open Road menghadirkan kisah heartwarming yang dituturkan perlahan dan tanpa meledak-ledak.
Setelah Le Grand Voyage (2004) yang mencoba membongkar hubungan personal buruk antara ayah dan anak, baru kali ini kita kembali mendapatkan tontonan yang layak untuk direkomendasikan pada siapapun. The Open Road membangun kisahnya dari premis menarik. Seorang ibu (Mary Steenburgen) tengah sekarat, karena bermasalah dengan jantungnya. Sang ibu pun meminta anaknya (Justin Timberlake) berjanji untuk menghadirkan kembali mantan suami yang lama menghilang dari kehidupan mereka. Si anak terperanjat dan sempat menolak. Tapi akhirnya bersedia menunaikan tugas itu.
Namun ternyata membawa sang ayah (Jeff Bridges) ke pangkuan ibunya tak semudah membalikkan telapak tangan. Sang ayah adalah tipikal manusia nyentrik dan menghadapinya betul-betul menguji kesabaran sang anak. Terlebih ayah dan anak sebenarnya masing-masing punya masalah krusial. Sang ayah terlalu mencintai diri sendiri sehingga hampir selalu tak mengindahkan orang lain. Sementara sang anak sedang labil. Ia bertanya seputar kehidupan yang dijalaninya saat ini, termasuk hubungannya dengan mantan kekasih, Lucy (Kate Mara).
Premis seperti ini biasanya menjadi magnet tersendiri, khususnya bagi mereka yang menggemari kisah-kisah humanis yang dibuat diluar tradisi mainstream. Dan The Open Road punya itu semua. Sayangnya, film ini dirilis sangat terbatas di Amerika sehingga tak terdengar gaungnya. Untunglah di Indonesia, film mengesankan ini beredar luas dan kita bisa melihat pertarungan kharisma antara Justin Timberlake dan Jeff Bridges.
Yes, salah satu bagian menarik dari The Open Road adalah disandingkannya dua aktor beda generasi dan beda pengalaman itu. Jeff Bridges sudah tak perlu diragukan aktingnya dengan jam terbang yang cukup panjang. Oscar pun akhirnya mampir ke genggamannya lewat Crazy Heart (2009). Namun setelah menonton The Open Road, bisa jadi kita perlu meralat pengakuan juri dari penghargaan prestisius itu. Rasanya Bridges lebih menawan di film ini dibanding yang diperlihatkannya sebagai penyanyi country yang frustasi. Yes, Bridges adalah salah satu aktor senior terbaik. Progress yang ditampilkannya dari satu film ke film yang lain memperlihatkan grafik yang stabil. Artinya ia selalu berupaya tampil maksimal di setiap karya.
Sementara Justin Timberlake boleh dibilang masih baru dalam dunia film. Filmografinya pun masih sedikit dengan peran yang masih begitu-begitu saja. Namun The Open Road memberinya kesempatan untuk berakting maksimal. Kapan lagi berkesempatan beradu akting dalam hampir tiap scene dengan aktor sekaliber Bridges? Maka Timberlake yang sebenarnya tampil biasa-biasa saja pun akhirnya tertolong oleh energi dan kharisma Bridges yang mendominasi layar. Sebagai aktor senior, Bridges tahu untuk tampil total tanpa harus menjatuhkan lawan mainnya. Dan itu yang dilakukannya di sini. Timberlake adalah partner-nya. Ia berhasil membangun chemistry di antara mereka sebagai kunci film ini.
Film ini juga punya Kate Mara yang bersinar. Penampilannya tak banyak, namun selalu mencuri perhatian di setiap adegan yang dimainkannya. Dan lagi-lagi beruntunglah Timberlake karena juga tertolong oleh Mara. Penampilan Timberlake yang terasa artifisial di beberapa bagian, diselamatkan Mara tanpa perlu banyak berkata, -hanya lewat gestur dan sorot mata-, penonton tahu apa yang Lucy rasakan.
The Open Road mengesankan karena skenario yang ditulis dengan baik oleh Meredith. Tensi terasa di tiap sekuens, drama pun menyapu layar di saat yang tepat, sehingga tak mengendurkan penonton sedikitpun untuk mengalihkan mata. Dan bisa jadi karena terinspirasi dari kisah yang dialaminya sendiri, maka film ini terasa tulus.
The Open Road pun menjadi jendela bagi kita semua untuk melihat kembali hubungan dengan orangtua selama ini, terutama dengan ayah.


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://stoedioportal.com/resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY