Perang memang masih terjadi di beberapa belahan dunia, namun dengan skala yang tak lagi masif. Biasanya, Amerika dengan heroisme berlebihan datang berniat jadi pahlawan di sana. Dan sekarang kapitalisme-lah yang menandingi segala narsisme Amerika. Kapitalisme ada di tengah perang dan menawarkan bantuan kepada dua belah pihak yang tengah bertikai. Ketika kapitalisme sampai pada titik itu, ia menjadi keji. Kapitalisme menjelma sebagai pembunuh berdarah dingin. Kapitalisme menghancurkan siapapun yang menghalangi tujuannya tanpa pandang bulu.
Dalam The International, wajah ini dibeberkan. Diperlihatkan bagaimana bank menawarkan bantuan tanpa syarat apapun (yang tersebut, tapi tentu saja ada agenda yang tak terlihat) kepada seorang panglima komando pasukan perang di Afrika. Bank tersebut menyokong pengembangan nuklir dan jangan terkejut, mendukung penuh baik Palestina maupun Israel dalam konflik tanpa ujung.
Bank ini bernama International Bank for Business and Credit (IBBC) yang berkedudukan di Luxemburg. Agen Interpol, Louis Salinger (Clive Owen) sudah menelusuri sepak terjang bank itu. Ia punya daftar dosa IBBC di tangannya. Sayang, informasi yang dimiliki Salinger berbuah malapetaka. Satu demi satu pihak yang membantunya terbunuh. Maka dibantu asisten jaksa, Eleanor Whitman (Naomi Watts), ia mulai menelusuri teka-teki yang akan membawanya pada sebuah fakta mengejutkan.
Baik Salinger maupun Whitman tahu bahwa musuh terbaru dunia kini bukan lagi aksi terorisme. Perkenalkan musuh baru dunia: kapitalisme. Dengan organisasi yang lebih rapih dan dijalankan secara legal, rasanya bakal banyak nasabah yang akan terperanjat mengetahui uang simpanan mereka dibelanjakan untuk senjata oleh bank tersebut. Tentu tak semua bank seperti ini, namun disinyalir sejumlah bank internasional menjalankan praktek serupa. Inilah yang harus dilawan.
Sebagai pengantar cerita, Tom Tykwer berpihak pada nasabah, pada mereka yang tak mengerti mengapa uangnya dipergunakan untuk sebuah tujuan yang jelas tak terpuji. Ia menjelaskannya dengan gamblang dan efektif. Tone warna dan musik pun dipilih dengan cermat sehingga menyiratkan nuansa dingin mencekam. Dengan editing cekatan, tanpa membuang waktu, ia mengalirkan beragam informasi yang akan membuka mata penonton tentang sistem operasi bank masa kini.
Kapitalisme yang akrab dengan darah dan senjata juga diperlihatkan Tykwer disini. Di tengah megahnya museum Guggenheim di New York, otoritas beraksi melawan kapitalisme. Ini aksi membabi buta karena tak mempedulikan orang sekitar. Seperti halnya kapitalisme yang tak peduli apapun demi uang. Guggenheim pun luluh lantak, hancur berantakan. Bekas peluru terlihat jelas di dinding yang dicat putih. Serpihan kaca berserakan di mana-mana. Tapi kapitalisme itu tak jera. Ia tetap melanjutkan hidupnya dengan tenang.
Lantas apa yang harus dilakukan demi membungkam kapitalisme?


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://stoedioportal.com/resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY