Perkembangan teknologi kini berada di tahap ‘segala sesuatu bisa dibuat’. Dunia film pun merasakan berkah dari kemajuan teknologi yang luar biasa dalam satu dekade terakhir. Maka kita tercengang, terkagum-kagum dan tercekat melihat visualisasi dahsyat dari Avatar (James Cameron, 2009). Mungkin tak terlalu khayali, namun teknologinya membuat kita harus memberikan keplokan meriah atas usaha keras James Cameron di sana.
Poin plus dari Avatar selain teknologi adalah ceritanya yang sederhana, humanis, dan dengan gampang bisa dilekatkan ke kondisi bumi terkini. Dengan demikian, Cameron membangun koneksi emosional dengan para penontonnya. Ia tak hanya menyajikan sensasi visual, film ini sekaligus menentramkan hati. Sebuah perpaduan yang hanya dimiliki segelintir sutradara.
Lain halnya dengan Terry Gilliam. Ia sudah terkenal dengan karya-karyanya yang visioner, imajinatif dan surealis. Banyak diantara kita yang sudah memirsa film-filmnya, seperti Brazil (1985), Twelve Monkeys (1995), dan The Brothers Grimm (2005). Mungkin sebagian kita tak mengerti film-film tersebut. Butuh waktu lebih dari sekali untuk menontonnya. Seperti itu pulalah perasaan mereka yang juga memirsa The Imaginarium of Doctor Parnassus.
Ceritanya berlapis-lapis, penuh metafora, ditambah kematian Heath Ledger yang menjadi kunci dari film ini. Ya, kematian Ledger yang mendadak tentu membuat Gilliam kelabakan. Karena kabarnya Ledger belum lagi menyelesaikan separuh tugas yang diembannya. Maka bisa dibayangkan apa yang terjadi jika sang aktor utama mati ketika syuting belum lagi mencapai separuh perjalanan.
Dengan jenius, Gilliam bisa menutupi 'kecelakaan'. Persoalan membongkar skenario di tengah syuting yang tengah berjalan bukanlah perkara mudah. Seperti terbersit dari judulnya, The Imaginarium of Doctor Parnassus berkisah seputar imajinasi yang ada di kepala Doctor Parnassus (diperankan dengan enerjetik oleh Christopher Plummer). Bertualang di dalamnya harus jalan melalui cermin yang diletakkan di tengah panggung teater berjalan yang dioperasikan oleh Parnassus dan sejumlah rekannya. Dan sebuah kebetulan (atau memang sudah direncanakan?) membawa Tony (Heath Ledger) bergabung dengan rombongan tersebut.
Dengan cerita seperti ini, Gilliam memang bebas sesuka hati berkreasi. Maka The Imaginarium of Doctor Parnassus menjadi kanvas baginya. Ia menumpahkan cat warna apa saja, kuning, merah, hijau bahkan shocking pink sekalipun tanpa perlu mengindahkan pemahaman mereka yang akan melihat lukisannya nanti. Itu pula yang terjadi pada film ini. Jika kebingungan tersesat ceritanya, lebih baik anda menyegarkan mata dengan sensasi visual yang disajikannya.
Imajinatif, kadang tak terbayangkan dan absurd. Jika Anda terkagum-kagum dengan keindahan Alice in Wonderland (2010), maka The Imaginarium of Doctor Parnassus akan membuat anda menganga. Gilliam, sekali lagi, memang membuktikan dirinya sebagai sutradara visioner tak tertandingi.
Rasanya memang perlu menonton film ini lebih dari sekali. Seperti melihat lukisan surealis yang perlu ditatap lama-lama dan dilihat beberapa kali untuk bisa dimaknai. Pun akan mengasyikkan bagi anda untuk menilai permainan Ledger dengan 3 aktor kelas kakap yang 'memainkan' dirinya, yakni Johnny Depp, Jude Law, dan Colin Farrell.


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://stoedioportal.com/resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY