Dalam negeri, sastrawan dieluk-elukan dengan beragam cara. Di antaranya dengan merayakan keberadaan karya mereka melalui film. Lihatlah Ada Apa dengan Cinta? yang membuat kaum muda kembali memburu puisi-puisi karya Chairil Anwar. Atau yang terbaru dari Mizan Production berjudul 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta (2010) yang mengagungkan puisi karya W.S Rendra.
Sementara di luar sana, perayaan itu sudah lama ada dan sepertinya akan terus berlangsung. Tahun lalu sineas Australia, Jane Campion merilis Bright Star (2009) yang memuat sekelumit kehidupan penyair kondang John Keats. Beberapa tahun sebelumnya, sineas John Maybury melepas The Edge of Love . Film ini memperkenalkan Dylan Thomas, ia dianggap sebagai salah satu penyair terbesar abad 20.
Dylan Thomas (Matthew Rhys) diperlihatkan sebagai pemuda romantik, self-centered dan menghindari perang. Ia tak peduli dibilang pengecut dan tetap asyik dengan dunianya. Ia berupaya melahirkan puisi-puisi yang membetot hati dua perempuan yang dicintainya, Vera (Keira Knightley) dan Caitlin (Sienna Miller). Dari awal, Maybury memperlihatkan api asmara di mata Dylan dan Vera, namun ada Caitlin yang berstatus istri sah Dylan. Vera tahu diri dan selalu menganggap Dylan adalah masa lalunya. Ia pun merelakan dirinya jatuh cinta dengan seorang tentara bernama William (Cilian Murphy). Kisah Vera-Dylan-Caitlin adalah kisah yang terlihat sedikit aneh, namun benar-benar terjadi. Film ini disajikan mendasarkan pada kejadian nyata. Di balik cemburu yang berkobar di mata Caitlin, ternyata ia bisa bersahabat dengan Vera.
The Edge of Love juga fokus pada kisah William dan Vera yang menikah hingga memiliki seorang anak. Tambahan, film ini disesaki episode William yang dikirim ke medan perang dan kembali dengan trauma mendalam. Kisah yang baik biasanya hanya fokus pada satu karakter dan inilah kelemahan terbesar dari The Edge of Love. Maybury serba kabur memperlihatkan ‘keberpihakannya’, apakah ia ingin mengedepankan Vera atau memaksimalkan persahabatan Vera dan Caitlin. Hasilnya, film ini hanya terlihat indah di permukaan namun terasa kosong. Sinematografi canggih yang memperlihatkan kontras antara kota London yang terasa imajinatif dengan Wales yang dingin dan realistis ditingkahi musik membius, gampang membuat penonton jatuh hati. Apalagi keempat pemain utama bermain sesuai porsinya. Sayangnya karena sikap ‘gagal fokus’ sutradara membuat The Edge of Love tak jelas arahnya.
Puisi-puisi yang terlontar dari Dylan pun juga terasa tak elok didengar, jauh berbeda dengan efek yang dihasilkan John Keats. Digambarkan John Keats mengungkapkan isi hatinya dan terasakan betul oleh penonton dalam Bright Star. Kita hanya mendengar puisi itu dari Dylan, namun tak tertinggal bersama kita untuk dibawa pulang. Hanya dihembuskan sekali, setelah itu pergi.
Maka The Edge of Love pun akhirnya terjebak menjadi tontonan yang hanya menghibur kreator-nya sendiri. Kreator-nya terasa tak hirau pada perasaan penonton sama sekali. Karenanya tak ada yang salah pula jika film ini juga dianggap angin lalu bagi sebagian penonton. Padahal harusnya dengan materi yang sedemikian menarik, jika saja Maybury pandai memilih fokus, maka cerita ini akan mengalir lebih lancar dan menghasilkan efek yang lebih mengesankan bagi penonton. Mungkin memang lebih gampang mengesankan diri sendiri dibanding orang lain, terutama penonton.


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://stoedioportal.com/resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY