Home FILM Kasih Sayang Berhenti di Perbatasan

Kasih Sayang Berhenti di Perbatasan

Film Tanah Air Beta [2010]

5
0
SHARE
Kasih Sayang Berhenti di Perbatasan

Referendum di Timor Timur pada 1999 yang berujung pada pemisahan diri dari Indonesia membuahkan luka. Terutama luka akibat tercerai-berainya sejumlah keluarga. Sampai detik ini, kita masih saja menemukan cerita mereka yang terpisah dari keluarga selama sepuluh tahun.

Sejatinya, kisah perpisahan sejumlah keluarga di sana potensial untuk diangkat menjadi drama yang mengiris hati. Namun rasanya berlebihan jika digarap dengan gaya mellow drama. Maka Tanah Air Beta memilih pendekatan berbeda. Ari Sihasale yang kembali duduk di kursi sutradara, memotret kisah memilukan itu tanpa dramatisasi berlebihan. Jadinya nuansa realistis yang ada, meski karya ini masih tertinggal dibanding King yang jadi debut Ari. Tanah Air Beta dimulai dari kerinduan Tatiana (Alexandra Gottardo) untuk bertemu putranya, Mauro (Marcel Raymond). Ia pun menuju perbatasan demi mencari informasi dari para relawan di sana. Tapi sebuah kenyataan pahit didapatkannya. Putranya itu rupanya tak sudi bertemu dengannya.

Maka Tatiana pun gundah gulana. Meski masih terus mengajar bagi anak-anak di kampungnya, pikirannya terus terganggu. Akibatnya, ia pun jatuh sakit. Suatu ketika, di rumah sakit, ia pun bercerita kepada tetangganya yang baik hati, Abu (Asrul Dahlan) bahwa Mauro tak ingin menemuinya lagi. Merry (Griffit Patricia), mencuri dengar penuturan ibunya. Ia mengambil keputusan mendadak. Ia harus pergi menemui sang kakak. Ditemani Carlo (Yehuda Rumbindi), mereka menempuh perjalanan ratusan kilometer demi menemui sang kakak.

Pilihan Ari untuk tak memperbanyak konflik dalam filmnya haruslah dihormati. Ia tak mempertajam sub-plot tertentu agar cerita lebih dinamis. Akhirnya memang pilihannya itu punya akibat pada filmnya. Selain film ini jadi terasa datar ketika melewati menit demi menitnya, Tanah Air Beta juga terkesan sepi.

Film memberi porsi besar untuk perjalanan Merry dan Carlo menyusuri jalan raya yang terhampar luas, lahan tandus yang terlihat eksotis, dan pemandangan alam timur Indonesia yang menakjubkan. Mata dibuai oleh sinematografi memikat yang dihasilkan Ical Tanjung, namun tak dapat menutupi bolong-bolong skenario yang ditulis Armantono. Banyak kejanggalan yang memenuhi pikiran sepanjang perjalanan yang ditempuh Merry dan Carlo. 

Skenario harusnya melewati 2-3 kali revisi lagi sebelum benar-benar diterjemahkan sebagai bahasa audio visual. Sayang sekali memang, kisah yang sangat potensial untuk memikat hati penonton ini terasa hambar dan kurang menyentuh hati.

Namun masih ada hal lain yang patut diapresiasi dari Ari dan Alenia Pictures-nya. Yakni niat tulus Ari dan tim mengangkat kisah dari berbagai daerah di tanah air yang selama ini jarang terekspos. Utamanya di layar lebar. Yang sering kali dipertontonkan adalah Jakartasentris. Jarang kita mendapati kisah yang mendasar pada problematika yang terjadi di Papua atau Makassar misalnya.

Kritikan demi kritikan yang menghampiri Tanah Air Beta sesungguhnya merupakan ekspektasi dari penonton akan sentuhan manis yang diberikan Ari untuk film-filmnya mendatang. Karena setelah Denias, Senandung di Atas Awan (2006) dan King (2009), Ari menjadi harapan untuk film Indonesia dengan wajahnya yang lebih beragam.

Video Terkait: