Selamat datang di dunia rekaan David Cronenberg dalam Spider: dunia serba muram, menekan, dan membaurkan realitas dan delusi. Kita diajak mengamati sepak terjang ‘Spider’ Cleg (Ralph Fiennes), seorang pengidap kelainan jiwa akibat derita masa kecilnya. Film ini sungguh luar biasa… membingungkan!
Macam–macam interpretasi bisa diungkapkan penonton melalui adegan-adegan dimana Spider cilik didera kepahitan akibat menyaksikan kematian ibunya yang dibunuh ayahnya sendiri. Tapi tahu–tahu, ketika Spider menjebak ‘pacar’ sang ayah dengan mengeluarkan gas yang akhirnya membunuh wanita itu, kamera menyorot wajah WIL ayahnya itu sebagai ibunya sendiri. Bukan main kompleksnya film ini. Ditambah lagi ‘kejahilan’ Cronenberg menghilangkan batas antara realitas dan delusi yang diperlihatkan dengan penggambaran Spider cilik dan versi dewasanya dalam satu frame. Penonton yang terbiasa menyimak film ringan, otomatis akan kehilangan arah saat mendapati adegan-adegan yang memunculkan dua versi Spider bersamaan.
Tapi Spider bukan film paling kompleks yang pernah dibuat Cronenberg. Empat filmnya (yang dikenang sebagai film ‘sinting’) antara lain Dead Ringers (1988), The Fly (1986), Crash (1996) dan ExistenZ (1999). Begitupun, Spider dipuji banyak kritikus sebagai film berbobot. Selain alur cerita yang tak biasa, film ini juga memperlihatkan kecakapan Cronenberg mempermainkan moodpenonton demi mengejar aksentuasi cerita. Bayangkan, 60 menit pertama film ini seperti tak menjanjikan apa–apa. Penonton kebanyakan kemungkinan akan bosan dan berusaha membebaskan diri dari kungkungan dunia yang diciptakan Cronenberg. Namun, Cronenberg memperlihatkan tingkat kesabarannya dengan perlahan menaikkan temperatur cerita hingga mencapai klimaks. Bukan main!
Inilah bukti kematangan seorang sutradara yang lebih memilih keutuhan cerita ketimbang keinginan menyenangkan penonton mainstream. Sayangnya, satu bagian memberi ‘cacat’ di film ini. Cronenberg menggambarkan penyelesaian cerita dengan terburu–buru dan tak meyakinkan.
Well, masih ada ‘kecanggihan’ lain. Spider didukung tata musik minimalis yang dihasilkan Howard Shore. Tatanan musiknya menekan jiwa dan perasaan, sehingga membangun perasaan tak nyaman, sebagaimana yang dirasakan Spider. Ada juga sentuhan sinematografi yang memikat. Diluar pencapaian teknisnya, Spider juga patut dipuji berkat kehebatan Ralph Fiennes. Nominator Oscar lewat Schlinder's List ini cakap memainkan emosi hanya dengan mimik dan gesture tanpa mengeluarkan banyak suara. Bahkan, di 10 menit awal, Fiennes sangat jarang bersuara, kalaupun iya, hanya terdengar seperti bergumam. Dengan begini, siapa yang tidak percaya menyaksikannya di layar sebagai penderita schizophrenia.
Yang perlu diberi tepukan lebih meriah dari Fiennes adalah Miranda Richardson (Enchanted April, Damage). Richardson terampil dan percaya diri memainkan 2 peran berkarakter beda 180 derajat sekaligus. Ia berperan sebagai ibu Spider, sekaligus sebagai WIL sang ayah. Setelah sekian lama cerita bergulir, barulah kita tersadar bahwa peran itu dimainkan oleh satu orang!
Ada satu catatan tersendiri mengenai Spider. Banyak kritikus yang berbagi cerita bahwa inilah film yang menunjukkan ‘kenormalan’ Cronenberg. Benarkah? Silahkan buktikan sendiri dan jangan lupa bandingkan dengan empat karya fenomenalnya yang terdahulu!


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://stoedioportal.com/resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY