Home FILM Spirit Seekor Kuda Liar

Spirit Seekor Kuda Liar

Film Spirit: Stallion of the Cimarron [2002]

5
0
SHARE
Spirit Seekor Kuda Liar

Di sebuah situs, saya tertarik membaca tulisan sederhana namun menyentuh. Judulnya How Movies Can Heal Us yang ditulis Jamee Kennedy. Jamie bukan seorang penulis terkenal atau seseorang yang tahu betul seluk beluk film. Dia hanyalah orang biasa yang menganggap menonton film bisa jadi semacam pelarian dari ketidakpastian situasi dunia saat ini.

Menyimak Spirit: Stallion of The Cimarron di saat sekarang terasa menyegarkan. Seperti melepaskan diri di masa kini dan bertualang dengan bebas di masa lalu. Oleh tim kreatif Dreamworks Pictures yang mulai merendengi kedigdayaan Walt Disney, kita dibawa menjelajah ke jaman Old West dimana rerumputan terhampar luas tak berbatas dengan hewan–hewan yang berlarian bebas. Mereka pandai memilin cerita sederhana namun memikat, tak hanya bagi penonton belia. Yakinlah, penonton dewasa pun akan takjub dengan ‘kehebatan’ produksi kesekian Dreamworks ini.

Tersebutlah Spirit, seekor kuda jenis mustang yang liar. Ia hidup bersama ibu dan kawanannya dengan penuh kebahagiaan. Hingga suatu hari, malapetaka menimpanya. Ia ‘terjebak’ sekumpulan pasukan bersenjata dan menawannya. Spirit yang berjiwa bebas tentu tak mau terkungkung. Ia berontak mati–matian. Karenanya, Spirit dihukum tidak diberi makan dan minum selama 3 hari. Untungnya, pada saat bersamaan, seorang Indian Lakota ditawan di tempat itu. Berkat bantuannya-lah, Spirit bisa meloloskan diri. Tapi perjalanan hidup Spirit ternyata tak semulus yang terlihat. Ia harus mengalami berbagai kejadian yang makin menguatkan hubungan persahabatan antara dirinya dan pemuda Indian tersebut.

Sebagai film kartun yang ditujukan bagi penonton belia, Spirit: Stallion of The Cimarron punya jalan cerita yang lumayan berliku. Syukurlah, Kelly Asbury dan Lorna Cook yang duduk di posisi sutradara bisa menjadi storyteller yang baik. Dengan tangkas, mereka ‘membelokkan’ cerita dan mengakhirinya dengan manis, meskipun bagi penonton dewasa -yang juga tertarik untuk menonton-, cerita Spirit sebenarnya mudah ditebak.

Tapi rasanya tak pantas jika menganggap Spirit: Stallion of The Cimarron sebagai karya yang biasa-biasa saja. Mulai dari struktur penceritaan yang dibangun matang (lengkap dengan nuansa romantisme antara Spirit dan Rain –kuda betina yang ditaksirnya), gambar yang luar biasa indah (penggabungan antara hand drawn dengan animasi komputer) dan music scoring. Maka keharuan menyelimuti penonton menyaksikan perjuangan Spirit menyelamatkan Rain yang meregang nyawa akibat terjatuh di sungai. Juga ketika si pemuda Indian merelakan Spirit dan Rain bergabung kembali bersama komunitasnya. Terlebih dengan sentuhan suara serak Bryan Adams yang menyanyikan beberapa lagu, sangat pas dengan ritme cerita. Dan tak boleh dilupakan music scoring yang dikerjakan seorang maestro, Hans Zimmer. Kolaborasinya bersama Bryan Adams menjadi nilai lebih dari film ini.

Jangan lupa, teknik bercerita yang ‘berbeda’ berani diambil Dreamworks melalui film ini. Tak ada hewan yang berbicara disini, yang ada hanyalah suara hati Spirit (diisi-suarakan oleh Matt Damon). Jadinya kesan realisme dengan sendirinya terbentuk. Maka ketika menonton bersama si kecil, tak ada lagi pertanyaan ‘konyol’ macam ‘Kok kuda bisa bicara?’ dan berbagai hal ‘kecil’ yang bisa tertangkap secara kritis oleh anak-anak. Pada akhirnya penonton belia maupun dewasa sama–sama terpuaskan memirsa Spirit: Stallion of The Cimarron.

 

Video Terkait: