Home FILM Perlukah Kita Sepenuhnya Percaya Pada Media?

Perlukah Kita Sepenuhnya Percaya Pada Media?

Film Shattered Glass [2003]

5
0
SHARE
Perlukah Kita Sepenuhnya Percaya Pada Media?

Tagline film Shattered Glass sungguh bikin ‘merinding’: “He’d do anything to get a great story”. Kalimat sakti inilah yang menjadi kata kunci film besutan perdana Billy Ray ini. Ray yang menulis sendiri skenarionya berpegang pada kisah nyata yang ditulis Buzz Bissinger dan diterbitkan Vanity Fair pada tahun 1998. Di tangan Ray, Shattered Glass benar–benar menyentakkan perasaaan akan eksistensi media. Masih perlukah kita mempercayai suguhan media sepenuhnya?

Di benak Stephen Glass (Hayden Christensen), jurnalis termuda dari rekan–rekannya di majalah The New Republic, apapun bisa jadi berita. Paham ini betul–betul dipergunakannya semasa bergabung di majalah yang senantiasa tersedia di pesawat kepresidenan Air Force One itu. Dengan menggunakan segala macam cara, Glass berhasil membuat sejumlah artikel yang membuat namanya sontak melambung. Pujian bertubi–tubi beruntun datang padanya, juga dari editornya Michael Kelly (Hank Azaria).

Sampai suatu ketika, Michael digantikan oleh Chuck Lane (Peter Sarsgaard). Sampai disini, Shattered Glass masih mengharu biru menonton dengan ‘kejeniusan’ Glass akan beragam tulisannya, juga dengan kepandaiannya mengambil hati rekan-rekan sekerja maupun kenalannya berkat sikapnya yang sopan dan tampang yang inosens. Makin simpatiklah kita pada seorang Glass yang di usia terbilang belia melakukan lompatan karir yang amat menakjubkan.

Kemudian telepon dari Adam Penenberg (Steve Zahn), penulis dari sebuah majalah online, mengakhiri segala yang dirintis Glass. Terbongkarlah kebohongan yang dilakukan Glass semasa berkarir di New Republic. Tak kurang 27 dari 41 artikel yang dihasilkannya berisi khayalannya semata. Artikel Hack Heaven-lah yang mengakhiri kepandaiannya memanipulasi pembaca dan juga orang–orang di sekelilingnya. Shattered Glass diluncurkan nyaris berbarengan dengan pengunduran diri Jayson Blair dari New York Times yang juga terbukti mengarang sejumlah artikel yang ditulisnya. Dengan strategi seperti ini, Shattered Glass berhasil menohok ke sasaran dan sekali lagi mempertanyakan keagungan makna kata ‘jurnalisme’.

Tentu, banyak sekali pertanyaan yang mengerubungi kepala seusai menonton film ini. Benarkah ada sosok sedemikian? Ya, jelas ada. Shattered Glass berangkat dari kisah nyata. Glass yang asli pun masih hidup dan saat ini berkarir sebagai pengacara. Yang paling mengganggu adalah pertanyaan seperti, ‘Adakah kemungkinan peristiwa serupa terjadi di Indonesia?’. Wah, kalau yang itu, besar sekali kemungkinannya. Apalagi yang terkait media cetak yang gemar menyajikan feature.

Dan sekiranya, usai menonton film ini, anda jadi tak percaya begitu saja pada media. Berarti tugas Billy Ray sepenuhnya berhasil. Disini Billy Ray hanya ingin bilang bahwa apapun bisa terjadi di media. Sesuatu bisa dikarang hingga dianggap sebagai sebuah fakta. Fakta yang ada pun bisa dilebih–lebihkan sebagai bumbu. Dunia media yang mulai menjamur di Indonesia pasca reformasi pun punya peluang besar untuk hal serupa. Siapa yang bisa percaya bahwa pencemaran limbah merkuri di Teluk Buyat, Minahasa tak terjadi hanya karena penelitian yang dilakukan oleh PT Newmont dan Departemen Kesehatan? Fakta bisa dikarang, dilebih–lebihkan demi suatu tujuan. Intinya, melihat sebuah persoalan mestinya dari berbagai sudut pandang agar bisa memaknainya dengan lebih jernih. Dengan menggunakan referensi pembanding, akurasi lebih bisa dipertanggungjawabkan. Dan ini sejatinya tanggung jawab media sebagai penyampai pesan ke publik agar senantiasa berhati–hati dengan segala data di tangan. Media sebaiknya memeriksa data berulang–ulang agar kasus serupa Glass tak terulang.

 

Video Terkait: