1 November 1938. Hari bersejarah bagi kurang lebih 40 juta penduduk Amerika. Hari di mana terjadi pertarungan pacuan kuda terbesar sepanjang sejarah yang dipenuhi aroma sensasional. Bagaimana tidak, War Admiral -yang dipandang kuda pacu terbaik dengan segala aspek dirinya yang serba sempurna-, akan beradu gengsi dengan Seabiscuit, kuda pacu yang sering sekali dipandang underdog. Jadinya pertarungan ini sedikit mirip dengan David Vs Goliath. Ya, Seabiscuit arahan Gary Ross berpihak pada mereka yang dianggap underdog, tak perduli manusia ataupun binatang.
Seabiscuit sendiri awalnya dicemooh banyak orang, karena dianggap tak punya modal sama sekali untuk menjadi bintang. Namun berkat keuletan Charles Howard (Jeff Bridges) dan Tom Smith (Chris Cooper) dibantu Johnny ‘Red’ Pollard (Tobey Maguire), Seabiscuit mampu membalikkan opini publik. Rasanya manusia perlu belajar pada kuda berkulit coklat ini akan arti perjuangan dalam kebersamaan. Seabiscuit sangat mungkin menjadi cermin bagi mereka dengan nasib yang sama. Juga bagi Red dengan luka masa lalu yang akhirnya mampu bangkit dari keterpurukan. Tak hanya sosok Red sebenarnya yang seorang (manusia) underdog dalam film ini, Tom pun kurang lebih serupa adanya. Sayangnya, skenario tak memberi ruang untuk mengorek latar belakang Tom lebih detail. Padahal jika bisa lebih digali, Seabiscuit akan kaya karakter underdog sejati.
Posisi sebagai tokoh underdog memang peluang lebih bagi aktor pemerannya untuk dicintai penonton. Jangankan dalam film, dalam kehidupan nyata kita akan gampang bersimpati. Maka dalam suasana Pemilu seperti sekarang, kita pun akan gampang jatuh hati pada kandidat yang dianggap underdog. Jadinya, jangan salahkan penonton jika gampang jatuh iba pada Red. Masa lalunya yang cukup kelam bisa jadi excuse yang manis demi memahami kemarahannya pada sekeliling.
Selain itu, posisinya sebagai tokoh sentral membuatnya lebih banyak disorot kamera. Dengan demikian, akan jauh lebih mudah memahami karakternya. Tapi rasanya tak adil jika tak memuji keberhasilan Tobey Maguire melakonkan tokoh legendaris ini. Seabiscuit adalah salah satu puncak pencapaian Maguire sebagai aktor, bukan lagi berstatus sekedar bintang film. Uniknya, tiga penampilan terbaik Tobey di film, dicapainya dengan peran serupa. Nikmati saja The Cider House Rules (1999) dan trilogi Spiderman. Akankah kecenderungan ini disengaja? Yang bisa menjawab tentunya hanya Tobey seorang.
Aspek paling kental dalam Seabiscuit adalah humanisme. Bahkan seekor kuda pun bisa digambarkan sedemikian manusiawi. Rasanya sangat menyenangkan melihat Red dan Seabiscuit tumbuh paralel, belajar akan arti hidup dan saling memahami satu sama lain. Aspek di sekitar mereka pun bergerak menuju ke arah yang lebih baik. What an emotional situation!


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://stoedioportal.com/resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY