Home FILM Esensi Rock Yang Sebenarnya

Esensi Rock Yang Sebenarnya

Film School of Rock [2003]

5
0
SHARE
Esensi Rock Yang Sebenarnya

Apa esensi rock yang sebenarnya? Apakah rock adalah sebuah pemberontakan? Apakah dengan rock, berarti membuat kita menghalalkan pemakaian drugs dan seks bebas? Apakah rock membuat kita harus hidup dalam tekanan? No! Rock adalah semangat. Ini pernyataan yang mungkin tendensius bagi sebagian orang, tapi jika disodokkan oleh seorang Richard Linklater yang diakui cukup paham mengenai dunia anak muda, maka pernyataan itu perlu menjadi bahan pemikiran.

Esensi rock ‘murni’ memang telah dikotori berbagai hal, setidaknya di mata Dewey (Jake Black), pecinta Rock sejati yang paham betul sejarah. Maka Dewey yang cinta mati pada rock memilih mengabdikan dirinya pada dewa rock. Sayangnya, Dewey mesti berhadapan dengan kenyataan yang melingkupinya: kecintaannya pada musik rock tak membuat perutnya kenyang dan punya tempat berteduh yang layak. Ironis dan itulah gambaran yang acap terjadi dalam kehidupan nyata. Ketika idealisme dan kebutuhan perut bertubrukan, maka salah satunya harus dikorbankan. Dewey pun mengambil kesempatan (meski dengan cara yang tak wajar) untuk menjadi guru pengganti.

Di balik kisah School of Rock yang terasa kental nuansa komedi, Mike White yang menuliskan skrip-nya menyodorkan berbagai ideologi seputar rockRock adalah tentang semangat. Rock bisa mengubah dunia dan sudut pandang seseorang. Rock juga bersifat multitafsir. White lewat tokoh Dewey bahkan memaki–maki MTV yang dianggapnya sebagai biang keladi mundurnya perkembangan musik di dunia. Dewey yang menjadi guru untuk kelas 2 SD terkagum–kagum dengan kelihaian siswa–siswinya bermain musik. Sebaliknya ia menganga setelah tahu bahwa idola mereka hanyalah bintang pop cemen, bukan superstar rock seperti Yes, AC/DC, Motorhead dan lainnya.

Maka siswa–siswi didikannya ‘diperalat’ Dewey untuk mengikuti ajang bergengsi Battle of The Band. Dicekokinya mereka dengan esensi rock murni, lengkap dengan referensi yang memang tak mustahil bisa melahirkan bintang rock sejati. Dewey tak main–main dengan tekadnya. Ia menggembleng anak didiknya dengan kurikulum khusus yang isinya musik rock melulu, tak ada lagi pelajaran menyebalkan, matematika misalnya. Tapi toh niat ‘jelek’ Dewey tercium juga. Persiapan rahasia yang dilakukan anak–anak tersebut demi mengikuti festival musik itu ketahuan juga. Dan Dewey berada di posisi terjepit. Apakah Dewey akan meneruskan ambisinya ? Atau anak–anak tersebut akan berjuang sendiri ?

Melalui School of Rock, terasa bahwa film mesti diakui adalah sebagai senjata paling ampuh untuk mempengaruhi orang. White dan Linklater berhasil membuat penonton ‘termakan’ ideologi–ideologi musik rock yang mereka jejalkan. Menariknya, penonton sama sekali tak merasa sedang diprovokasi. Linklater yang memang jagoan dalam mengupas kehidupan anak muda, sekali lagi memperlihatkan kestabilannya dalam menjaga ritme tontonan agar tetap menarik di samping punya pesan moral yang kuat. Dewey yang merasa rocker sejati salut pada anak didiknya yang telah paham tanpa sadar bahwa mereka adalah ‘natural born Rocker’.

Mereka adalah pemuda masa depan yang penuh semangat. Dan anak–anak tersebut juga telah menyadarkan pandangan keliru orang tua mereka pada kegiatan bermusik, khususnya musik rock. School of Rock mestinya menjadi ‘sekolah’ buat mereka yang mengklaim diri sebagai Rocker tapi ternyata tak paham apapun esensi Rock. Rock tak mesti selalu diterjemahkan miring, dengan persepsi negatif yang membuat orang malas untuk mengomentarinya. Jika melihat esensi Rock yang sebenarnya, mestinya musik tak pernah menyulut pertikaian. Lebih jauh justru menjadi media penyebar pesan kedamaian ke seluruh penjuru. Dan School of Rock bisa melihatnya sampai sedalam itu.

Video Terkait: