Home FILM Perwujudan Mimpi Bernardo Bertolucci

Perwujudan Mimpi Bernardo Bertolucci

Film The Dreamers [2003]

2
0
SHARE
Perwujudan Mimpi Bernardo Bertolucci

Bernardo Bertolucci punya tempat khusus di hati moviegoers. Siapa-lah yang bisa mempertanyakan kualitasnya dengan hasil karya sekelas The Last Emperor  (1987) dan Little Budha (1993). Bertolucci juga terbilang hanya sesekali saja membesut sebuah film. Ketika pilihannya untuk menyutradarai film dengan bersandar pada novel Gilbert Adair berjudul The Dreamers ini mengemuka, maka tentu banyak yang ingin menguji: seberapa sakti kapasitas pencapaian seorang Bertolucci setelah sekian lama hilang dari kancah perfilman internasional?

The Dreamers yang mengusung pemberontakan generasi muda pada musim semi 1968 di Prancis, dibalut problematika seputar rintangan antara politik, budaya, serta moral yang ‘tergores’ dan didefinisikan ulang. Boleh jadi ini materi yang dahsyat. Sayangnya, di tangan Bertolucci, walaupun skenario The Dreamers ditulis sendiri oleh Adair, atmosfer itu nyaris tak terasa. Atmosfer luruh oleh pameran sensualitas yang ‘dahsyat’, tertutup oleh hubungan aneh dua saudara kembar, dan kecintaan terhadap film yang begitu mendalam. Sepintas tak ada yang salah dengan ini, tapi tak sia-siakah rasanya novel yang cukup dalam menggali persoalan sosial itu diterjemahkan secara dangkal oleh Bertolucci?

The Dreamers akan lebih dikenang sebagai film yang berkutat pada hubungan ‘aneh’ dua saudara kembar, Theo (Louis Garrell) dan Isabelle (Eva Green). Bertolucci ‘berani’ membiarkan hubungan ini diintip penonton, hingga ke persoalan yang paling intim sekalipun. Disini digambarkan Theo dan Isabelle terkadang malah tampak seperti sepasang kekasih. Bertolucci bahkan menegaskan penggambaran ini dengan kelakuan mereka yang tidur seranjang. Mengagetkan lagi, tanpa busana pula. Wah!

Sampai suatu ketika, di tengah demonstrasi, mereka bertemu Matthew (Michael Pitt). Mungkin mereka telah ditakdirkan bertemu, terlebih mereka punya kegilaan yang sama: gemar menonton film (ketiganya bertemu di Cinematheque Francaise). Maka hari–hari mereka kerap dihabiskan dengan mengimitasi gerak laku pemain dalam film–film seperti Queen Christina, Blonde Venus, Band A Part, dan Top Hat. Bertolucci pun dengan tangkas memadu-padankan cuplikan film lama tersebut dengan adegan yang mengeksplorasi kedekatan ketiganya. Pendekatan yang cukup jenius. Penonton diyakinkan bahwa ketiganya adalah moviegoerssejati.

Lantas, kedekatan mereka juga makin berkembang. Mereka mulai berani memasuki area ‘permainan pikiran’ dan eksplorasi sensualitas. Bertolucci tak main–main dengan ini, ia berani memperlihatkan adegan seks eksplisit yang lumayan ‘brutal’. Matthew yang terjerat kecantikan alami Isabelle, harus menerima kenyataan bahwa ia akan diterima keduanya jika mereka bisa saling terbuka satu sama lain, dalam hal apapun. Padahal Matthew yang dibesarkan di Amerika mungkin tak sebebas Theo yang gampang saja melorotkan celana dan bertelanjang di depan Matthew. Di wilayah ini, Bertolucci mencoba mengobrolkan benturan budaya. Meski sama–sama dicap negara bebas, kelihatannya Prancis yang diwakili Theo dan Isabelle lebih ‘terbuka’ dibanding Matthew yang mewakili Amerika.

Yang mungkin akan membuat geram kalangan yang bernaung di bawah panji–panji moral dan agama adalah ya, apalagi kalau bukan adegan seksual yang cukup terbuka. Di Amerika saja, The Dreamers dilabeli NC-17 yang membuatnya susah mencapai box office. Jadinya bagaimana mungkin film ini beredar di Indonesia? Yang paling menghebohkan, mungkin eksploitasi (maaf) alat kelamin Matthew yang digambarkan dengan gamblang. Tentu ini menimbulkan kehebohan luar biasa, karena jarang ada adegan seperti ini diloloskan di film. Film A Home at The End of The World (2004) yang dibintangi Colin Ferrell bahkan harus pasrah adegan ‘begitu’nya dibuang.

Hanya satu yang muncul di kepala usai menonton The Dreamers. Perlukah adegan seks disajikan dalam jumlah se-berlimpah itu? Anda sendiri yang menjawabnya!

Video Terkait: