Sebagian negara Latin tak ubahnya seperti Asia Tenggara, menganut kepercayaan tinggi terhadap dunia supranatural. Perhatikan betapa kayanya legenda–legenda urban dari Thailand, seperti halnya Spanyol. Dan kedua kawasan ini punya cara khas menyajikan film horor walau tetap menggunakan formula paten film horor: aura dan setting yang muram, music score mencekam, dan susunan pemain yang tepat. Mengejutkan ketika kombinasi ketiganya disajikan dengan kadar pas namun berhasil tak pas-pasan dalam The Devil’s Backbone garapan Guillermo del Toro.
Tapi film karya del Toro setelah Cronos ini menjadi horor dengan citarasa yang berbeda, berkat ‘kecanggihan’ memadukannya dengan romansa plus tragedi politik. Membayangkan film seperti ini tentu penonton akan mudah berkesimpulan: film dengan tema beragam seperti itu akan banyak maunya, sukar berfokus pada satu titik sehingga lemah di titik lain. Tapi aneh bin ajaib, del Toro berhasil mencampurbaurkan semuanya dengan dosis yang nyaris sama. Kesulitan menerima tontonan yang ‘banyak maunya’ tidak terasa di The Devil’s Backbone. Horor ini menjelma film yang indah, lirih, namun tak kehilangan sentuhan alegori politik.
Pada dasarnya, The Devil’s Backbone dipromosikan sebagai film horor (bisa jadi konten inilah yang dirasa paling kuat dan mungkin menjual). Film ini bercerita tentang Carlos (Fernando Tielve) yang ditinggal mati sang ayah harus merelakan dirinya melanjutkan hidup di sebuah asrama yang dihuni puluhan anak lainnya. Baru di hari pertama saja, Carlos sudah dapat masalah. Kehadirannya ‘mengganggu’ preman sekolah yang sepantaran dengannya, Jaime (Inigo Garces). Dan masalah lain yang menghadangnya adalah ‘hantu tak terlihat’. Ya, hantu yang mengganggu tidurnya, pikirannya, kesehariannya. Hantu yang ketahuan bernama Santi ini mengisyaratkan akan terjadi banyak kematian di sekolah itu. Mendengarnya saja Carlos ngeri, apalagi sampai membayangkan hal itu akan terjadi.
Di tengah proses Carlos mencari tahu makna isyarat dari sang hantu, The Devil’s Backbone menyoal perang Spanyol yang terjadi pada tahun 1930-an. Ternyata, banyak anak–anak pejuang yang gugur di medan perang ditampung di asrama tersebut. Sedih bukan? Dengan asrama yang berbatas tembok tinggi, tahulah kita bahwa ada maksud di balik semua itu. Perang tengah berkobar di mana–mana dan asrama ini adalah siasat cerdik untuk menghindari perang. Tak lupa, skenario keroyokan buatan del Toro, Antonio Trashorras, dan David Munoz menyelipkan kisah cinta ‘terlarang’ antara Carmen (Marisa Paredes), Ibu kepala sekolah yang disegani dengan Jacinto (Federico Lupi), pemuda yang berusia terpaut jauh dengannya.
Syukurnya, del Toro masih komitmen mengedepankan tema horornya. Dan itulah yang memang paling gampang dikenang penonton kebanyakan. Ditambah editing yang terbilang cepat berbalut sentuhan dramatik yang memukau membuat The Devil’s Backbone tak kehilangan gaya sebagai tontonan berkualitas.
Karena tergolong mudah diproduksi, horor cenderung digarap tanpa perhitungan matang, dengan sumber daya seadanya. Hal ini berakibat pada hasil yang pas–pasan. Terkadang malah tontonan horor diniatkan seram malah terasa lucu, karena penyutradaraan yang salah kaprah. Inilah yang banyak terjadi pada sinetron kita. Mestinya, di tengah tayangan misteri yang marak di televisi, The Devil’s Backbone dijadikan acuan pembuatan tayangan yang terampil mengawinkan unsur komersial dan idealisme. Dengan konsep yang matang dan akurat, toh tontonan horor bisa pula menyajikan sesuatu selain ‘rasa takut’.


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://stoedioportal.com/resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY