Sebagai aktor, nama Ed Harris boleh disejajarkan dengan Al Pacino, Dustin Hoffman, atau Robert De Niro. Paling tidak, bisa terlihat dari prestasinya. Harris telah mengoleksi 4 nominasi Oscar, satu Golden Globe, dan satu Screen Actors Guild Awards. Setelah integritasnya di dunia seni peran diakui, Harris memutuskan ‘menyelam lebih dalam’ dengan berada di depan sekaligus di belakang layar. Bukan pekerjaan gampang, terlebih Harris mengangkat kisah pelukis jenius beraliran ekspresionis abstrak, Jackson Pollock.
Ini tantangan berat bagi Harris, karena bagi yang telah membaca buku ‘Jackson Pollock: An American Saga’ yang ditulis Steven Naifeh dan Gregory White Smith, tentu paham bahwa riwayat hidup Pollock sungguh–sungguh ruwet. Terlebih buku ini memuat kisah Pollock sedari kecil hingga kematiannya.
Tapi Harris memilih ‘memotret’ Pollock yang menemukan cintanya dengan Lee Krasner (Marcia Gay Harden). Hari–hari kebersamaan merekalah yang diobrolkan sepanjang kurang lebih 100 menit. Kisah ini terentang panjang dari November 1941 hingga kecelakaan mobil yang merenggut nyawa Pollock. Sangat menarik menyaksikan kehidupan sehari–hari Pollock. Seperti jenius lainnya, tak lengkap rasanya kalau Pollock tak ‘dianugerahi’ kelainan jiwa. Well, ‘hadiah’ itu berupa kelakuan manic-depressive dan kebiasaan mabuk–mabukan. Lengkap sudah yang menjadikan label ‘jenius’ pantas disematkan pada Pollock.
Lee-lah yang berhasil mendorong Pollock untuk terus berkarya dan menyadarkan Pollock bahwa lukisannya diminati orang. Lee yang juga seorang pelukis yang memilih ‘mengabdikan diri’ menuntun Pollock menuju sukses. Jika anda senang menikmati perilaku Pollock dengan mood yang sangat gampang berubah, Anda bisa jadi akan lebih senang memirsa perubahan karakter Lee. Oh, Lee bukannya mengalami gangguan mental seperti halnya Pollock. Hanya saja mengasyikkan mengikuti Lee yang berubah dari seorang pengagum, menjadi seorang kekasih, kemudian menjadi istri Pollock.
Sayangnya, semasa hidupnya, Pollock ‘hanya’ menerima review bagus dari banyak kritikus, namun karyanya kurang bernilai komersial. Padahal ia butuh makan. Tapi setelah ia meninggal, karya–karyanya diburu orang. Ini sebuah ironi yang sangat sering terjadi. Apa boleh buat, Kurt Cobain pun dikenang sebagai seorang jenius setelah kematiannya yang menyesakkan dada. Pollock pun demikian, jadi nikmatilah Pollock secara serius dalam upaya menyusuri jejak keberadaan pelukis kebanggaan Amerika itu.
Sebagai Pollock, Harris terbilang sangat berhasil. Siapapun mudah dibuat percaya berkat kemampuannya mengolah tubuh, mengatur intonasi suara, dan tingkahnya yang spontan. Yang terpenting, kemampuan Harris melukis diperlihatkannya di sebagian besar adegan. Bukan main!
Sayangnya, skenario yang kering tak bisa meyakinkan penonton, antara lain mengapa Lee sampai begitu mencintai Pollock di tengah perilaku Pollock yang kadang diluar dugaan? Penonton mainstream pun mungkin akan bertanya–tanya akan tingkah laku Pollock yang digambarkan dengan luwes oleh Harris itu. Tak sedikitpun dijelaskan apa penyebab Pollock bersikap seperti itu. Nah, disinilah letak kegagalan Pollock. Sebagai Pollock, Harris bisa meyakinkan penonton, tapi skenarionya tidak!
Kegagalan Pollock yang terbesar adalah pemilihan rentang waktu yang begitu panjang. Jika ingin mendapatkan gambaran utuh tentang siapa Pollock, tentu tak cukup dengan durasi yang kurang dari 2 jam. Apa boleh buat, mestinya Harris bisa lebih fokus di satu titik, agar Pollock sebagai tontonan tak kehilangan arah. Dengan rentang waktu sepanjang itu, cerita yang disampaikan Pollock jadi terpenggal-penggal. Akibatnya, tontonan yang mesti ‘manis’ jadi hambar ditangani Harris.
Sekali lagi, apa boleh buat, rasanya Harris memang perlu terus menambah jam terbang. Yang juga perlu perhatian, mengurangi ego. Ya, jika saja Harris lebih memilih berada di belakang tanpa harus sekaligus berada di depan layar -sebagai peran utama pula- bukan tak mungkin Pollock akan jadi tontonan yang lebih ‘bergizi’. Alhasil, menyaksikan Pollock seruwet menikmati lukisan Jackson Pollock yang abstrak.


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://stoedioportal.com/resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY