Home FILM Cinta Itu Memabukkan

Cinta Itu Memabukkan

Film Punch-Drunk Love [2002]

5
0
SHARE
Cinta Itu Memabukkan

Kekuatan cinta bisa punya makna dan menampakkan sejuta wajah. Film Mad Love (1995) memunculkan wajah cinta yang mendatangkan kesan destruktif. Di film yang diperan-utamai Drew Barrymore ini, karakter tokoh utama wanitanya sanggup ‘merusak’ diri sendiri sebagai bentuk kasih sayang pada pria yang dicintainya. Sementara di film My Best Friend’s Wedding (1997), Julia Roberts menempuh berbagai macam cara -tak peduli dengan menghalalkan apapun- demi merusak rencana pernikahan Cameron Diaz dengan mantan kekasihnya, Dermot Mulroney. Namun Punch-Drunk Love tak menjual jenis cinta semacam itu, juga tak digarap se-ngepop itu. Tentu karena faktor Paul Thomas Anderson yang meracik keseluruhan unsur menjadi satu kesatuan yang utuh. Di tangannya, Punch-Drunk Love menjadi kisah cinta yang absurd. Kisah yang sanggup mengubah karakter Barry Egan menjadi seorang pemberani.

Tersebutlah Barry Egan (Adam Sandler) yang merintis bisnis sendiri. Suatu hari, ia mengalami dua kejadian aneh. Sebuah piano (atau harmonium?) diletakkan begitu saja di depan lorong tempat kantornya berdiri. Nyaris pada saat yang bersamaan, seorang wanita cantik (belakangan diketahui bernama Lena Leonard, diperankan Emily Watson) menitipkan mobilnya pada Barry untuk diperbaiki di bengkel yang terletak di sebelah kantornya. Selanjutnya, mengalirlah kisah yang berliku, tak mudah ditebak, aneh bahkan absurd khas film independen.

Singkat cerita, Lena ternyata sahabat dari saudari perempuan Barry, yang sengaja dijodohkan olehnya. Entahlah, penitipan mobil Lena itu rekayasa adik perempuan Barry atau sekedar kebetulan biasa. Semua itu tak jadi soal. Yang mengasyikkan untuk dinikmati adalah alur kisah cinta dua pasangan ini. Tak ada gambaran kisah cinta yang meletup–letup antara keduanya. Bahkan di awalnya, kalau saja Lena tak bersikap sedikit atraktif, niscaya hubungan tersebut tak berlanjut. Yang terbilang unik adalah betapa cinta telah mengubah sosok Barry yang aneh dan penakut menjadi normal dan pemberani.

Punch-Drunk Love bukan sekedar kisah cinta biasa. Ada selipan kisah Barry yang suatu waktu iseng menelepon layanan jasa telepon seks (mirip layanan premium call di sini) hanya untuk berbicara dari hati ke hati, namun justru harus mengalami peristiwa tak mengenakkan. Bermula dari Georgia (cewek yang melayaninya di telepon itu) berniat meminjam uang. Oleh Barry, permintaan itu ditolaknya dengan sopan. Begitupun, kawanan pemberi jasa tersebut naik pitam dan membuat mobil yang dikendarai Barry dan Lena ditabrak dengan sengaja. Barry yang biasanya penakut, dengan gagah menaklukkan 4 orang kawanan tersebut satu demi satu. Hebohnya lagi, suatu ketika Barry nekat melabrak empunya layanan jasa tersebut (dimainkan oleh Philip Seymour Hoffman). Begitulah transformasi seorang Barry Egan yang dalam sesaat berubah 180 derajat.

 

Keterampilan Paul Thomas Anderson (membuat Boogie Nights dan Magnolia luar biasa memukau) patut diacungi jempol. Absurditas cerita dijalinnya dengan tata musik bernuansa tahun 50-an yang tak tepat diputar di nuansa serba canggih sekarang ini. Pemilihan nuansa musik ini dijadikan pilihan tepat untuk mempertegas aksentuasi cerita Punch-Drunk Love. Pengambilan angle–angle gambar yang menarik juga menjadi nilai plus film ini.

Tambahan lagi, faktor Adam Sandler. Entah apa yang ada di kepala Anderson sewaktu memutuskan untuk memilih Sandler sebagai Barry Egan. Padahal, keaktoran Sandler sungguh patut disangsikan. Nyaris keseluruhan film yang dihasilkannya hanya film hiburan semata, beberapa diantaranya justru ‘menjatuhkan’ wibawanya sendiri, meskipun harus diakui semuanya berhasil menembus box office. Sebutlah di antaranya Billy Madison (1995), Happy Gilmore (1996), dan The Wedding Singer (1998) Namun setelah menonton film ini, sadarlah kita bahwa hanya Sandler-lah yang patut memerankan karakter ini. Penampilannya secara fisik yang tampak sedikit weird, menjadi nilai plus untuknya dalam meleburkan diri sebagai Egan.

Menariknya, Egan adalah antidot dari karakter yang dimainkan Sandler dalam Anger Management. Kalau dalam Anger Management, Sandler menjadi sosok teraniaya karena disangka punya problem temperamen, dalam Punch-Drunk Love justru sebaliknya. Egan memang -apa boleh buat- dikenal sangat temperamental, meski dari luar tampak biasa–biasa saja. Karakter ini antara lain diperlihatkannya sewaktu merobohkan kamar mandi restoran yang didatanginya bersama Lena.

Mengasyikkan memang melihat Sandler bertransformasi dari sekedar bintang film (lewat film–film ‘riang gembira’ yang diperankannya berulang kali) menjadi aktor serius dalm film ini. Tak tahan juga para kritisi untuk tak memujinya. Maka keberhasilan Sandler mengingatkan kita pada sukses Eminem di 8 Mile (awalnya dicemooh para kritisi pada pilihan sutradara sebelum pembuatan filmnya, namun berbalik memuji perannya setelah melihat sosoknya di layar) atau Charlize Theron dalam Monster (2003) yang terbiasa memainkan peran–peran penggembira menjadi sosok serial killer, WTS yang sungguh–sungguh nyata.

Video Terkait: