Home FILM Susahnya Lepas Dari Jeratan Narkoba

Susahnya Lepas Dari Jeratan Narkoba

Film Quitting [2001]

5
0
SHARE
Susahnya Lepas Dari Jeratan Narkoba

Sineas masa kini rupanya tak ingin lagi sekedar ‘membuat’ film semata berdasar pakem–pakem tertentu yang cenderung statis. Maka lihatlah, semakin banyak sutradara ‘nakal’ yang lincah mempermainkan alur, editing, ‘mengobrak–abrik’ cerita hingga membingungkan penonton kebanyakan. Tentu, alasannya tak sebatas kejahilan. Inilah eksplorasi baru yang rasanya lahir dari penguasaan teknis dan feel sinematografi yang baik. Moviegoers sejati tentu akan takjub dengan film–film model The Mirror (Jafar Panahi), Run Lola Run (Tom Tykwer), dan Amores Perros (Alejandro Gonzalez Inarritu). Tapi makin ke belakang, dalam memirsa sebuah film, penonton seperti ini benar–benar membuka pikiran demi menerima ide–ide baru yang mungkin saja ‘tertangkap’ dalam tontonan yang dipirsanya.

Referensi film–film diatas juga perlu sebelum menikmati Quitting, karya kesekian Zhang Yang setelah sukses dengan Shower (1999)dan Spicy Love Soup (1997). Tapi bisa saja anda yang belum menonton film tersebut, akan menerima Quitting dengan baik pula. Ceritanya tidak terlalu njelimet.

Perlu diacungi jempol pendekatan Zhang Yang dalam mengemasnya. Bayangkan, Quitting adalah sebuah kisah nyata tentang aktor Jia Hongseng ketika terjerat dalam lingkaran setan narkoba. Yang menakjubkan adalah keluarganya yang sangat mendukung dirinya melepaskan diri dari benda laknat itu. Support itu ditunjukkan juga keluarga Hongseng, ketika terbesit ide mentransformasikan kisah pilu ini ke layar lebar. Dengan sukarela, mereka semua mau terlibat membantu Yang mewujudkan idenya. Tapi bukan Yang namanya kalau tak berpikir brilian. Jika sutradara kebanyakan akan tergoda untuk mendokumentasikan kisah itu kedalam bentuk film dokumenter (toh, semua tokoh nyata bersedia bermain), maka Yang memilih untuk tetap membuat Quitting menjadi feature film. Dan hasilnya, luar biasa! Memang nyaris Hongseng seorang yang berasal dari kalangan aktor profesional, tapi jangan ragukan kualitas akting pemain lain, termasuk ayahnya sendiri di film ini.

Maka Quitting membuka ‘perjalanannya’ sejak 1992 dan terentang panjang hingga 1997. Hongseng, aktor cukup terkenal di Beijing, tanpa sadar terjerumus dalam narkoba. Makan waktu sangat paaanjaaang baginya untuk berhenti. Ia sempat berhenti menggunakan drugs selama 6 bulan, tapi ‘penyakit lamanya’ itu kambuh lagi. Hingga suatu ketika Hongseng yang telah sering didera halusinasi dan paranoid akibat narkoba, menampar ayahnya. Akibatnya, Hongseng diungsikan ke rehabilitasi demi menjalani perawatan akibat ketergantungannya.

Pedih memang menyaksikan perjuangan Hongseng melepaskan diri. Rasanya menyebalkan juga melihat tampilan pengguna narkoba yang cenderung selfish  dan tak peduli keadaan sekeliling. Dan mengharukan melihat dukungan ayah dan ibu Hongseng agar anaknya bisa sembuh. Karena dimainkan oleh semua karakter asli, maka nuansa real benar–benar terwujud mendekati kenyataan. Tapi selagi memirsa film ini dengan serius, Yang membuat kejutan paling berkesan. Percayalah, anda yang sudah menonton akan menggeleng–gelengkan kepala akan ‘aksi’ Yang yang benar – benar edan.

Ada benturan nilai–nilai tradisi Cina dan sikap bebas merdeka dari Barat yang ingin ditampilkan juga di film ini. Meski samar, namun bisa jadi penonton yang jeli akan mampu meresapi maknanya. Tapi penonton dari Barat bisa jadi tersinggung, karena berbagai simbol di beberapa adegan menyiratkan bahwa digambarkan ketergantungan narkoba akibat pengaruh musik rock ‘n rollyang asalnya dari Barat. Paling tidak, juga ditunjukkan dengan kegandrungan Hongseng akan John Lennon (di beberapa adegan diperlihatkan Hongseng berulang–ulang melakukan puitisasi atas lirik lagu ‘Peace, Love & Understanding’). Tapi rasanya tak perlu mempersoalkan itu. Yang perlu dipuji adalah kebesaran hati Hongseng dan keluarganya untuk berbagi cerita secara live. Agar generasi mendatang tak mudah lagi terbujuk narkoba.

Video Terkait: