Home FILM Oase Bagi Yang Percaya Kekuatan Cinta

Oase Bagi Yang Percaya Kekuatan Cinta

Film Oasis [2002]

5
0
SHARE
Oase Bagi Yang Percaya Kekuatan Cinta

Zaman yang makin canggih membawa perubahan cara pandang terhadap berbagai elemen kehidupan. Sisi–sisi kehidupan yang makin labil, terutama di kota besar membuat banyak orang juga makin pesimis memaknai hidup, hanya sekedar menjalaninya tanpa arti. Begitupun dengan cinta, banyak lagi yang tak percaya dengannya, bahkan tak menganggapnya penting lagi di zaman yang makin edan seperti sekarang.

Padahal, cinta punya cara tersendiri untuk memperlihatkan kekuatannya. Simaklah tuturan puitis dan minimalis dari Korea, Oasisarahan Lee Chang-dong. Kita diajak menikmati kisah cinta ‘aneh’ antara pria yang mengalami keterbelakangan mental dengan perempuan yang mengalami gangguan fungsi motorik. Dengan premis seperti ini, bisa dibayangkan kedahsyatan cerita Oasis. Si pemuda, Jong-du Hong (Kyung-gu Sol) dianggap pembawa sial bagi keluarga, karena tingkahnya yang kekanak–kanakan. Maka Jong-du hanya dianggap sebagai seseorang tak berarti. Padahal, dari luar, ia tampak sangat polos, naif dan jujur. 

Sampai suatu ketika ia bertemu Gong-Ju Han (So-ri Moon), perempuan yang mengalami gangguan fungsi motorik, sehingga tak bisa mengontrol gerak maupun bicaranya. Entahlah, cinta memang gila atau buta, tapi Jong-du seperti terserang virus ‘cinta pada pandangan pertama’ pada Gong-Ju. Padahal laki–laki ‘normal’ mana yang mau melirik wanita cacat seperti itu? Tapi itulah, cinta hanya bisa dimengerti keduanya, tak bisa dipahami oleh orang lain. Maka gegerlah lingkungan tempat tinggal Gong-Ju, ketika kakak iparnya mendapati Jong-du tengah mencumbu Gong Ju. 

Lantas cerita mulai mengobrolkan beberapa hal yang terlihat sepele, tapi sebenarnya substansial dalam kehidupan nyata. Orang–orang di sekeliling Gong-Ju tak mau mengerti bahwa hubungan seks itu dilakukan suka sama suka. Mereka hanya mau mengerti atas apa yang mau mereka dengar. Inilah problem utama yang ditawarkan Oasis. Betapa sering kita berusaha peduli terhadap orang lain tanpa pernah mau betul–betul mendengar keinginannya. Sungguh kasihan nasib Jong-du.

Seks memang jadi isu penting bagi karakter–karakter seperti Gong-Ju dan Jong-du. Seperti juga penggambaran karakter yang diperankan Robert De Niro dalam Awakenings, maka yang pertama kali diminta Gong-Ju ketika tahu ada pria yang tertarik pada dirinya adalah memintanya tidur bersamanya. Sebuah tawaran sederhana dari seorang serba tak sempurna seperti dirinya. Dengan cerdik, sutradara Lee Chang-dong memperkuat penggambaran hubungan intim itu dengan bahasa tubuh yang nyaris sempurna antara kedua pemain. Terasa betul ada chemistry antara keduanya. Maka siapa yang tak terharu melihat Gong-Ju meneteskan airmata berkat kepuasan ‘pelayanan’ yang diberikan Jong-du. Semuanya dikemas dengan indah, tak tercicipi vulgarisme di dalamnya. Makin terasa syahdu berkat pameran akting dari kedua tokoh utama. Rasanya, saya harus memberikan empat jempol khusus bagi So-ri Moon yang bermain luar biasa cemerlang. Penampilannya disini susah tertandingi oleh aktris manapun.

Jong-du memang menjadi oase bagi Gong-Ju, juga bagi siapapun yang masih percaya kekuatan cinta dengan bahasa yang hanya bisa dimengerti oleh pasangan yang merasakannya. Jika Anda pernah terpukau dengan kisah Dance Me to My Song (1998) besutan Rolf De Heer (sempat diputar di JIFFest 1999) maka Oasis adalah kisah yang mirip dengan citarasa khas Asia. Oasis pun menjadi oase baru bagi perfilman Asia, dengan gaya penceritaan yang khas, terarah, realistis, dan membumi, sekaligus membangkitkan kepedulian terhadap sesama. Maka setelah menonton Oasis tanyakan pada diri Anda, apakah saya betul–betul peduli pada orang lain?

 

Video Terkait: