Home FILM Susahnya Jadi Perempuan di Era Taliban

Susahnya Jadi Perempuan di Era Taliban

Film Osama [2003]

5
0
SHARE
Susahnya Jadi Perempuan di Era Taliban

Jadi perempuan bagi sebagian wanita, dianggap tak menguntungkan. Indonesia juga sempat mengalami masa kelam seperti itu, sebelum pahlawan wanita, RA Kartini mendobrak tradisi yang sudah mencengkeram puluhan abad. Kartini berhasil membawa perempuan Indonesia beranjak dari ‘gelap menuju terang’. Karenanya, nama Kartini pun diucapkan penuh khidmat dan mestinya, terutama oleh perempuan, wajib melestarikan cita–citanya yang luhur. Karenanya, Indonesia kini, perempuan dan laki–laki berada di kedudukan yang sejajar. Bahkan Indonesia telah punya presiden wanita. Konstitusi negara pun mensyaratkan kuota 30% bagi anggota legislatif perempuan. Jadi kurang apalagi fasilitas yang dipunyai perempuan Indonesia?

Jika tak pandai bersyukur, perempuan Indonesia mesti menonton Osama buatan Afghanistan. Ya, negara yang dikuasai rezim Taliban yang terkenal sangat kolot itu ternyata punya bakat sinema yang luar biasa. Afganistan mestinya bangga punya seorang Seddigh Barmak yang lulusan luar negeri, namun selalu merasa terpanggil untuk membangun negerinya. Berkat Osama, nama Afghanistan sontak menjadi terkenal seantero jagat. Seberapa dahsyat-kah film peraih Golden Globe untuk Film Berbahasa Asing Terbaik ini?

Osama ‘dahsyat’ karena ide cerita yang sangat simpel, namun jangan tanya muatannya, pekat dengan politik agama, isu jender, dan hingga kultur lokal kuat. Osama ‘hanya’ ingin berkisah tentang seorang gadis cilik 12 tahun (Marina Golbahari) yang terpaksa harus menyamar menjadi seorang laki–laki demi membantu keluarganya. Sungguh malang nasib keluarga gadis yang tampak rapuh ini. Ia, ibu dan neneknya sama–sama ditinggalkan lelaki yang dicintainya. Sang nenek harus kehilangan suaminya, si ibu harus merelakan saudaranya, pun si gadis cilik harus kehilangan ayah yang dicintainya. Awalnya penyamaran si gadis cilik tak bernama ini berjalan mulus, namun seperti kata pepatah usang ‘bau busuk akhirnya akan tercium juga’, membuatnya harus menerima hukuman. Hukuman yang rasanya tak pantas diterima gadis cilik yang baru beranjak remaja. Percayalah, penonton yang paling tak peka sekalipun akan terharu melihat penderitaan yang dialaminya.

Osama menjadi makin ‘dahsyat’ berkat kekuatan akting para pemerannya. Boleh percaya boleh tidak, tak satupun aktor/aktris profesional dipakai sutradara dalam film ini. Bintang utama, Marina Golbahari malah ditemukannya di jalanan kota Kabul. Rasanya tak habis pikir, bagaimana ya si Barmak men-direct para pemainnya sehingga mampu berakting sangat alamiah, layaknya dalam kehidupan sehari–hari. Nyaris tak ada cacat di sektor akting. Marina yang menjadi leading role pun tak menyia–nyiakan kesempatan dari Bermak. Ia total tampil sebagai gadis cilik tak bernama yang oleh Espandi, temannya dinamai Osama. Adegan penggantungan si gadis di sumur menjadi salah satu puncak akting Marina. Masih banyak lagi sekuen–sekuen yang memorable, tanpa membuat Marina harus banyak bercakap.

Yang juga menarik adalah shot–shot dengan angle yang ‘beda’. Terkadang Ebrahim Gholfari, sang sinematografer hanya menyorot kaki dengan extreme close up dan efektif. Luar biasa! Kalau di Kandahar, Ghafori banyak dibantu kecantikan alam Iran, maka di Osama, Ghafori benar–benar memikirkan format gambarnya. Dan hasilnya menakjubkan.

Bagi segelintir orang, film ini bisa dianggap kurang menarik karena sedikit lamban di menit–menit awal. Tapi coba beri kesempatan bagi Osama untuk membuktikan kualitasnya. And the film speaks for it self. Filmnya sendiri yang langsung ‘berbicara’ dengan audiensnya. Maka rasakanlah, betapa pedihnya menjadi perempuan di era Taliban. Sebuah jaman yang rasanya adalah set back dari apa yang telah dicapai sebelumnya.

Video Terkait: