Home FILM Gila Atau Kerasukan Setan?

Gila Atau Kerasukan Setan?

Film Requiem [2006]

5
0
SHARE
Gila Atau Kerasukan Setan?

Film Eropa punya cara sendiri dalam bertutur. Dengan tempo yang biasanya lambat, entah dengan cara bagaimana film Eropa biasanya membosankan. Coba buktikan dengan menonton Requiem  dari Jerman. Ini film yang berkisah tentang seorang gadis belia yang menduga dirinya kerasukan setan, namun orang sekitar menganggapnya lebih pantas dirawat psikiater. Jika penonton film ini dari Asia, sebagian besar akan menduga bahwa film ini akan dipenuhi adegan pengusiran setan yang sensasional ataupun penampakan demi penampakan yang mengagetkan. Jika berpikir demikian, maka Requiem akan mengagetkan. Sisi inilah yang menjadi poin paling provokatif dari karya sutradara Hans-Christian Schmid ini. Bagaimana jadinya membuat film tentang orang yang kerasukan setan tanpa memperlihatkan setannya? Ini sama halnya membuat film seks tanpa memperlihatkan adegan seksnya sendiri.

Sebelum menganalisa lebih jauh, coba kita telusuri dulu sekilas kisah dari film yang masuk kompetisi dari festival bergengsi di Berlin. Adalah Michaela (Sandra Huller) yang menderita epilepsi. Penyakit yang membuatnya menjadi tak mandiri, hingga usianya 21 tahun. Karena ingin melihat dunia dan ingin membuat orang tuanya berhenti mengkhawatirkannya, ia memilih jadi mahasiswi dan tinggal di asrama yang jauh dari kediaman orang tuanya. Semua berjalan lancar di sana. Michaela menemukan teman baru, Hanna (Anna Blomeier) yang ternyata adalah teman sekolahnya semasa SMA. Ia pun bertemu kekasihnya, Stefan (Nicholas Rein). 

Tapi semuanya tak berlangsung lama. Michaela kembali diserang epilepsi. Kali ini serangan beruntun dialami dengan datangnya suara-suara di kepalanya. Suara-suara yang menjerit tak tertahankan dan mengatainya wanita jalang. Suara-suara yang membuatnya tak bisa menyentuh rosario-nya ataupun berdoa. Maka campur tangan pun diperlukan ketika obat-obatan tak mempan mengenyahkan suara itu dari kepalanya. Pendeta pun turun tangan. Tapi hasilnya nihil.

Suara-suara di kepala Michaela tak pernah berniat diterjemahkan sutradara dengan memperdengarkannya secara lantang di telinga penonton. Suara itu hanya didengar Michaela seorang. Disinilah letak kejeniusan (atau keberanian?) Requiem. Sesungguhnya ia mencoba membenturkan persoalan kepercayaan di sini. Yang pragmatis boleh jadi menganggap bahwa tempat sesungguhnya yang paling tepat bagi Michaela adalah rumah sakit jiwa. Dengan demikian ia bisa disembuhkan dan suara itupun lenyap. Namun yang percaya bahwa gaib itu bersisian dengan yang nyata di alam sekarang, maka mengimani ada iblis yang bersarang di jiwa Michaela dan mampu merasukinya setiap saat. Sang sutradara pun mengejawantahkan betul persepsi bahwa yang gaib itu hanya bisa dirasakan (atau pun dilihat) oleh mereka yang beriman.

Pendekatan skenario seperti ini sungguh berisiko jika tak diarahkan dengan tepat oleh sutradara. Untungnya Schmid bekerja dengan cakap dan efektif. Ia tahu betul inti cerita dan mau dibawa ke mana arahnya. Salah satu kunci keberhasilan Requiem juga terletak pada solid-nya departemen acting. Dari jajaran pemain utama hingga level pemain pendukung, semuanya bersatu padu menjadikan film ini terasa lebih subtil, kompleks, dan pada akhirnya ‘mengganggu’ ketika selesai menontonnya.

 

Video Terkait: