Menarik mencermati Riri Riza dan Hanung Bramantyo membuat pilihan demi pilihan atas film yang disutradarainya. Jika sedari awal Riri sudah terlihat cermat memilah filmografinya, maka Hanung justru mencoba merambah semuanya di awal karirnya. Lihat saja bagaimana Hanung (yang karya film pendeknya dipujikan beberapa festival bergengsi di luar negeri) justru memulai karir dari film dengan tema renyah seperti Brownies (2005). Ia juga merambah ke horor lewat Lentera Merah (2006) .
Namun baik Riri maupun Hanung, mereka punya kesamaan: keberpihakan mereka pada kaum muda. Usia mereka berdua yang relatif muda bisa jadi mengambil peranan dalam keberpihakan itu. Namun keberpihakan mereka punya alasan kuat yang ditunjukkan dalam film yang lahir dari tangan keduanya. Sang Pencerah memperlihatkan (sekali lagi) bagaimana Hanung menggarisbawahi kekuatan anak muda dalam melakukan perubahan. Ia pun menimpakan beban besar itu pada seorang tokoh besar yang pernah hidup, K.H. Ahmad Dahlan. Seorang tokoh yang namanya sayup terdengar dan relatif tak terlalu dikenal terutama oleh kaum muda masa kini. Maka karyanya yang termutakhir ini menjadi jembatan bagi Hanung memperkenalkan tokoh dengan gagasan pluralisme kepada anak muda masa kini.
Dan Hanung memilih episode hidup dari Ahmad Dahlan sejak masih jadi bocah cilik hingga menjadi ulama muda pembaharu yang disegani. Pemikiran yang lahir darinya rupanya dianggap terlalu progresif bagi jamannya. Sepulang dari Mekkah, Dahlan (Lukman Sardi) mendalami Islam dengan cara memasukkannya dalam berbagai sendi kehidupan. Ia melihat dalam lingkungan sekelilingnya, Islam masih dicampurbaurkan dengan mistik. Namun upayanya melakukan pemurnian Islam mendapat tentangan dari berbagai pihak, terutama dari Kiai Penghulu Kamaludiningrat (Slamet Rahardjo), kyai dari mesjid Kauman.
Progresifitas Dahlan tak berhenti sampai di situ. Ia melangkah lebih jauh lagi. Ia menceburkan dirinya ke kalangan priyayi yang waktu itu asing dengan Islam. Persentuhannya dengan Budi Utomo rupanya makin mencerahkan pemikirannya untuk memberikan sumbangan berarti bagi masyarakat sekitar. Langkah inilah membawanya pada niat mendirikan organisasi Muhammadiyah.
Kehadiran Sang Pencerah boleh dibilang tepat, di saat negara ini justru melakukan ‘pembiaran’ upaya pihak tertentu yang tak menghargai pluralisme, gagasan yang sangat dijunjung tinggi oleh K.H. Ahmad Dahlan. ‘Lakum dinukum waliyadin (bagimu agamamu, bagiku agamaku)’ menjadi sandaran penting Dahlan untuk meletakkan sikap yang akhirnya membuatnya begitu dicintai oleh rakyat. Dan Hanung-lah yang menjadi penyampai gagasan besar itu. Ia mempersembahkannya untuk seluruh penonton, terutama kaum muda yang sebelumnya hanya mendengar ajaran Dahlan sayup-sayup.
Sebagai karya sinematografi dengan biaya yang sesungguhnya terbatas (‘hanya’ 12 milyar, kurang lebih sama dengan biaya yang dikeluarkan untuk film Laskar Pelangi), kesungguhan Hanung dan tim menghadirkan kisah sebesar ini patut diberi apresiasi khusus. Terutama pada departemen artistik yang rasanya bekerja sangat keras demi menghidupkan citra kota Yogyakarta di masa lampau. Dari set bangunan hingga pilihan pakaian yang dikenakan para tokoh-tokohnya rasanya cukup meyakinkan. Departemen kamera juga memperlihatkan kreasi yang menarik dengan menghadirkan gambar yang stereotype klasik, namun cukup menghadirkan roh masa lampau ke hadapan penonton. Dan itulah yang membuat Sang Pencerah menjadi sebuah tontonan yang tak hanya menyegarkan raga, namun juga memanjakan mata.
Dengan sejumlah pengalamannya, Hanung juga terbilang cermat berhitung agar karyanya ini tak hanya hadir sebagai karya yang membanggakan, namun juga mestinya mendapat apresiasi dari penontonnya. Maka ia menghadirkan formula yang sesungguhnya dipunyai sejumlah film sukses. Tone film pun tak seluruhnya serius, ia menghadirkan humor di sana sini (lewat tokoh yang diperankan Dennis Adhiswara). Ia juga cerdik memilih komposisi pemain dengan memasukkan muka baru seperti Giring ‘Nidji’ yang notabene punya fanbase yang cukup kuat. Maka lengkaplah Sang Pencerah sebagai tontonan yang memang dirancang untuk menghadirkan kualitas dan menarik penonton disaat bersamaan.
Lewat Sang Pencerah, Hanung juga memulai babak baru bagi perjalanan karirnya sebagai sutradara. Ketika sejumlah media menganggap film ini sebagai puncak karir Hanung, sebenarnya ini adalah permulaan. Film ini menjadi pijakan Hanung memperlihatkan pentingnya film sebagai etalase bagi pencerahan bangsa ini. Juga bisa jadi sebagai etalase bagi kaum muda mengenal tokoh-tokoh pembaharu (yang juga muda usia) yang mewarnai sejarah panjang bangsa ini. Maka setelah Ahmad Dahlan, Hanung pun bersiap menghadirkan tokoh Kartini ke hadapan masyarakat Indonesia.


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://stoedioportal.com/resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY