Home FILM A Great Bizarre Love Story

A Great Bizarre Love Story

Film Secretary [2002]

5
0
SHARE
A Great Bizarre Love Story

Apa sih yang orisinal di dunia ini, di masa kini? Pertanyaan ini sempat menganggu saya tatkala ada kasus penjiplakan sebait lagu atau secuplik nada mengemuka. Maka saya lebih memilih ‘berbaik sangka’ pada orang–orang yang terkena kasus serupa. Senang boleh jadi mereka memang tak bermaksud seperti itu. Hanya saja, out of the blue inspirasi itu datang dan bummm, ternyata inspirasi itupun pernah datang pada orang lain di waktu yang lebih awal.

Tapi ketika ada penghargaan Special Jury Prize di Sundance Film Festival 2002 untuk orisinalitas atas Secretary, membuat saya tergelitik. Benarkah di jaman segila ini, masih ada yang bisa membuat sesuatu yang orisinal dan membuat kesegaran baru di tengah tandusnya belantara dunia? Dan ternyata Secretary, well benar–benar memang sebuah kisah orisinal. Tepatnya, a great bizarre love story yang orisinal. Dengan pikiran dan jiwa yang siap menerima kisah orisinal yang out of nowhere menghinggapi Erin Cressida Wilson (si penggarap cerita), Secretary bisa dinikmati dengan jernih. Mari lepaskan pikiran dari kisah cinta biasa, dengan bumbu–bumbu ala Cinderella atau konsep ‘happily ever after’. Dalam Secretary, kita di bawa menyelami perasaan Lee Holloway (Maggie Gyllenhaal) dan E. Edward Grey (James Spader). Dari luar, mereka tampak seperti orang ‘normal’. Paling tidak, tampak dari sosok Edward yang seorang pengacara. Padahal, Edward tak lebih ‘sinting’ dari Lee. Kalau Lee memang sinting, ia pernah masuk rumah sakit jiwa karena gemar melukai diri sendiri. Tapi Edward? Di balik penampilannya yang gagah, ternyata Edward seorang egomaniak. Waakkkss?

Ya, seiring menit bergulir, dengan sabar Steven Shainberg yang duduk di kursi sutradara, menunjukkan the real  Edward dan Lee. Lee yang melamar sebagai sekretaris di kantor pengacara Edward, mendapati dirinya benar–benar jatuh cinta ketika dipukul (maaf) pantatnya oleh Edward, sebagai hukuman atas keteledorannya dalam mengetik surat. Awalnya Lee merasa tak nyaman, namun belakangan Lee justru menikmatinya dan tanpa sungkan menggoda Edward dengan berbagai cara. Bentuk sadomasochistic? Anda sebagai penonton yang berhak menilai.

Hanya saja, jangan membayangkan Secretary akan dipenuhi adegan kekerasan membabi buta. Justru nuansa sensual-lah yang terasa pekat sepanjang film. Bagaimana tidak, Shainberg pandai betul menata artistik berbalut musik yang mengalun sayup, namun cukup kuat membangkitkan gairah. Sejauh itu? Ya, paling tidak petualangan seks Lee dan Edward lebih pantas dinikmati sebagai black comedy dengan segala keunikannya.

Dan apa boleh buat, aroma sensual sangat terasa akibat langsung permainan cemerlang Maggie Gyllenhaal yang untuk pertama kalinya diserahi peran utama. Sebuah kesempatan besar yang tak disia–disiakannya. Padahal, perannya disini bisa jadi akan memancing kontroversi. Siapa sih pria normal yang ketika menonton Secretary tak akan ‘merah padam’ wajahnya menyaksikan adegan ‘panas’ yang membakar layar berkat hebatnya Gyllenhaal. Ia yang sebenarnya berwajah biasa–biasa saja, berubah drastis jadi bomseks di film ini. Bolehlah berharap, Gyllenhaal akan jadi bintang masa depan, paling tidak mulai terlihat dari beragam peran yang dimainkannya. Bahkan dalam Monalisa Smile, dimana ia hanya kebagian peran kecil, Gyllenhaal sanggup ‘mencuri perhatian’.

Menimbang–nimbang latar belakang kompleksitas karakter tokoh utama, justru terletak pada problem psikologis. Dan berkat pijakan yang intens pada karakterisasi membuat Secretary menemukan peluangnya untuk menjadi sebuah film yang tak hanya unik, bahkan dicap orisinal.

Video Terkait: