Sutradara yang baik harusnya paham bahwa film yang dihasilkannya tak boleh sekalipun merendahkan penonton, utamanya dari segi rasionalitas. Betapapun musykilnya peristiwa di film, tugas sutradara adalah membuat penonton percaya bahwa apa yang terjadi di layar juga bisa terjadi di dunia nyata.
Martin Scorsese termasuk sutradara dengan reputasi mengagumkan dan juga terlihat begitu menghormati penonton film-filmnya. Ia selalu berusaha membuat filmnya maksimal dengan segala elemen di dalamnya. Ia juga selalu menyiapkan kejutan bagi penonton sebagai penghormatan tertingginya. Lihat saja ketika ia membuat ulang Infernal Affairs (2002). Ia tak sekedar me-remake, tapi membangun kembali struktur cerita sehingga lebih matang dan punya daya kejut.
Unsur kejutan juga disiapkannya dalam karya terbarunya, Shutter Island. Film yang diangkat dari novel yang ditulis Dennis Lehane ini berangkat dari premis sederhana. Dua detektif ditugaskan untuk mengusut kaburnya seorang tahanan wanita dari penjara. Sepintas mungkin ringan, tapi bayangkan jika penjara itu sebenarnya adalah tempat rehabilitasi bagi pelaku kejahatan yang dianggap sakit jiwa. Dan terletak di belahan dunia terasing dimana transportasi untuk menjangkaunya hanya melewati laut.
Dengan materi cerita yang 'mengganggu' seperti ini, Scorsese bekerja. Dan ia tak hanya puas dengan materi cerita yang sudah menarik dan penuh teka-teki itu. Ia membumbuinya dengan beragam adonan sehingga membuat secara keseluruhan materi menjadi lebih menarik lagi. Ia menambahkan atmosfer yang dingin lewat layar yang dikelir pucat, memasukkan musik yang menggedor dan mampu membuat bulu kuduk merinding, serta –ini bagian terpenting- Scorsese menyadarkan kita bahwa kekerasan yang ada dalam aliran darah kita adalah musuh utama.
Maka selama 138 menit, Scorsese menjejali kita pertanyaan demi pertanyaan, sebagaimana yang ada di benak detektif Teddy Daniels (Leonardo DiCaprio). Ia pun menambahkan kilasan-kilasan adegan yang memperlihatkan pengalaman traumatik yang dialami Daniels. Menonton Shutter Island memang membutuhkan energi dan kecermatan tingkat tinggi. Jika sabar dan jeli, anda bisa merangkai fakta demi fakta yang berceceran di sepanjang menit film untuk menuju satu kesimpulan. Tapi apakah kesimpulan yang anda punyai sama dengan yang disajikan Scorsese?
Ending film ini menjadi kunci gandrung atau tidaknya anda pada karya mutakhir Scorsese ini. Jika Anda merasa cukup punya banyak referensi film, terutama film noir dan beberapa film mutakhir, maka ending tersebut terasa biasa saja. Namun jika Anda memang menyiapkan diri menikmati kejutan dari Scorsese, bisa jadi anda akan benar-benar terkejut. Bahkan mungkin ternganga.
Itulah kehebatan Scorsese. Ia bisa memecah belah opini publik dengan karyanya hingga menjadi layak diperbincangkan. Pada akhirnya, mungkin sebagian merasa perlu menyimak film ini sekali lagi untuk lebih fokus pada detil. Selamat mencoba.


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://stoedioportal.com/resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY