Home FILM Menyalahkan Kapitalisme

Menyalahkan Kapitalisme

Film The Joneses [2009]

5
0
SHARE
Menyalahkan Kapitalisme

Coba lihat sekeliling anda, utamanya anda yang bermukim di kota besar. Rasanya kota makin lama makin sempit dan sesak akibat pertumbuhan mal yang pesat. Sejumlah analisa ekonomi menganggap bahwa hal tersebut adalah sentimen positif ekonomi yang bergerak maju. Parameternya adalah jika ekonomi masih statis, tak mungkin mal dibangun. Mal menunjukkan adanya golongan masyarakat yang akan membelanjakan sebagian besar penghasilannya di sana. Tapi benarkah mal adalah pertanda pergerakan positif ekonomi?

Jika menanyakan hal itu pada Michael Moore, sineas vokal itu boleh jadi meradang. Ia bahkan bersuara tegas dalam filmnya yang bertajuk Capitalism: A Love Story (2009). Moore melihat dengan jernih pelbagai sisik melik yang menggurita di sistem ekonomi kapitalisme. Dan masyarakat menjadi korbannya. Untung saja Moore tak bertemu dengan keluarga Jones. Jika itu terjadi, entah apa yang terjadi. Keluarga Jones, kita sebut saja The Joneses, terdiri dari Steve (David Duchovny), istrinya yang jelita, Kate (Demi Moore), dan dua anak remajanya, Jen (Amber Heard) dan Mick (Ben Hollingsworth). Mereka pindah ke daerah sub-urban dihuni golongan menengah ke atas. Rumah megah berdiri di mana-mana dengan para suami yang melulu bermain golf setiap hari dan istri yang hanya sibuk ber-jogging dan ke salon. Dan mereka pun sesungguhnya demikian. Namun keluarga ini berbeda dengan yang lain. Mereka begitu cepat mengakses teknologi teranyar, mobil termutakhir, peralatan kecantikan terbaru, dan minuman ringan terkini. Segera saja mereka langsung menjadi trendsetter di kota kecil itu. Apalagi mereka terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia dan serba berkecukupan. Steve selalu terlihat mesra dengan Kate sementara Jen dan Mick juga menjadi idola baru di lingkungan teman sebayanya.

Tapi apa yang terlihat tak selalu sama dengan apa yang sebenarnya terjadi. Keluarga Jones sesungguhnya adalah keluarga bohongan. Mereka disewa sebuah perusahaan untuk menjadi influencer  bagi produk-produk terkini. Inilah praktek marketing tercanggih dalam sebuah sistem kapitalisme. Maka ketika para suami terpukau dengan Steve, mereka pun beramai-ramai membeli peralatan golf dan jenis mobil yang dikendarainya. Para istri yang silau dengan Kate juga memborong busana olahraga yang dikenakannya dan makanan awet yang dikonsumsinya. Tanpa sadar, semuanya masuk dalam lingkaran setan. Ada yang memaksakan diri, bahkan bertindak diluar kontrol. Hasilnya, praktek tersebut memakan nyawa manusia.

Boleh jadi, selain karya Moore, inilah film yang paling satir mengupas soal marketing dan upayanya yang melakukan cara apapun demi mencapai tujuan yang diinginkan. Semuanya dipaparkan dengan gamblang, detil, dan meyakinkan. Tentu karena ada Derrick Borte, seorang praktisi periklanan, yang terjun langsung membesut The Joneses. Di sini Borte menumpahkan semua kegeramannya. Ia menyalahkan penuh sistem bernama kapitalisme.

Tapi tunggu dulu. Patutkah kapitalisme yang menjadi kambing hitam? Bukankah manusia harusnya punya iman untuk menahan diri, sehingga tak memaksakan kehendak membeli barang yang sesungguhnya tak mampu dibelinya dan tak dibutuhkannya? Di sinilah sisi yang dilihat negatif oleh sebagian kritikus, karena Borte membuat karyanya ini sebagai penghakiman. Ia menilai kapitalisme secara hitam putih. Ada yang setuju, namun banyak pula yang menganggap karya ini membuka mata untuk senantiasa merasa cukup dengan apa yang kita punyai.

The Joneses sesungguhnya menemukan momentum di tengah dunia yang terasa makin materialistis. Ketika orang hanya dinilai dari merek pakaian yang dikenakannya, tas yang disandangnya, sepatu yang dipakainya, dan mobil yang dikendarainya. Film ini menempeleng kita dengan keras untuk membuat kita tersadar. Sayang, misi positif film ini kurang terasa karena The Joneses dirilis terbatas disini. Betul-betul disayangkan, film dengan pesan sepenting ini hanya bisa sampai kepada segelitir orang.

Video Terkait: