Jaman berubah. Tak hanya manusia yang mengikuti kehendak jaman, kaum vampir pun ternyata demikian. Vampir masa kini tak lagi punya sejumlah kelemahan terhadap terik matahari dan bawang putih. Bahkan vampir modern memancarkan sinar gilang-gemilang dari kulitnya yang berpendar-pendar ketika terkena sinar matahari.
Edward Cullen (Robert Pattinson) adalah salah satu sosok vampir modern. Ia pun mungkin vampir paling cool yang pernah diciptakan. Ia tampan dengan tubuh seimbang dan perut yang rata dan ia ‘vegetarian’ alias tak doyan minum darah manusia. Stephanie Meyer yang menciptakan karakter Cullen dalam novel seperti menciptakan vampir sesuai keinginannya. Ia menghilangkan beberapa hal dan menambahkan beberapa hal. Penambahan dan pengurangan yang mungkin saja mengagetkan dan terasa tak nyaman bagi mereka yang menggemari kisah vampir klasik. Namun perlu diingat, Twilight sesungguhnya memang bukan kisah vampir. Ini murni kisah cinta antara seorang manusia dan vampir. Romantisme adalah kata kunci di sini. Itulah jualan Meyer. Maka karakter demi karakter diciptakannya menuju muaranya: romantisme.
Jika Cullen adalah sang vampir, maka Bella Swan (Kristen Stewart) adalah sosok manusianya. Ia muda, cantik, namun seperti gadis sebayanya, selalu tampak gelisah dan gundah. Bella baru pergi dari rumah ibunya dan ayah tirinya. Ia tak kerasan dan memilih menghambur ke pelukan ayahnya yang tinggal di sebuah kota kecil.
Dari sini, kisahnya tentu saja sudah bisa ditebak. Cullen yang misterius akan menyedot perhatian Swan. Dan Cullen diam-diam jatuh hati pula pada perempuan itu. Tapi bersama Cullen, hidup Swan akan selalu dalam bahaya. Karena bagaimanapun, Cullen adalah vampir. Meski sebagian besar keluarganya adalah ‘vegetarian’, ancaman tentu saja datang dari vampir lainnya yang tergiur menikmati ‘kelezatan’ darah Swan.
Dengan kisah begini, Meyer pun membius jutaan remaja di seluruh dunia yang telah membaca novelnya. Kini kisah romantisme yang tak biasa ini diterjemahkan dalam bentuk film oleh Catherine Hardwicke. Duo Meyer dan Hardwicke pun menghasilkan tontonan yang feminim. Penonton laki-laki mungkin jengah melihat Pattinson yang selalu terlihat begitu tampan di layar dan seakan mendominasi adegan. Namun mereka juga bisa terhibur dengan kecantikan Stewart yang aktingnya justru melampaui lawan mainnya itu (Pattinson dinilai bermodal tampang semata). Dan di tengah-tengahnya, Hardwicke memuaskan elemen visual kita dengan shot-shot yang terlihat cantik, pemandangan nan eksotis meski terasa dingin, dan sisipan lagu-lagu rock yang makin memperkuat karakter Twilight sebagai film yang khusus remaja.
Twilight menjadi awal dari sekian installment yang direncanakan dan akan terus melibatkan romansa Cullen dan Swan. Dan tentu saja dengan onak-onak yang membuat percintaan mereka tak mulus. Ketika film ini disambut gegap gempita di seluruh dunia, muncul pertanda bahwa Twilight menjadi penerus suksesnya Harry Potter dengan penggemar fanatik yang bejibun. Tentu saja mari kita berharap setelah ini, film berikutnya akan dibuat dengan lebih matang meski dengan cerita yang cheesy. Dan makin terasa romantisme yang membakar layar dari Cullen dan Swan. Tak lagi sekedar melihat sosok Cullen yang mencoba untuk tampil cool, namun belum berhasil. Dan Swan yang bisa jadi akan membuat penonton makin terhanyut dengan pilihan hatinya kelak.


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://stoedioportal.com/resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY