Home FILM Ketika Andie Kena Batunya

Ketika Andie Kena Batunya

Film How To Lose a Guy in 10 Days [2003]

5
0
SHARE
Ketika Andie Kena Batunya

Perkenalkan Andie Anderson (Kate Hudson). Ia muda, cantik, dan punya pekerjaan mapan. Sebagai penulis di sebuah majalah gaya hidup, Composure dan memegang rubrik ‘How to…..’, tentunya Andie harus mengemukakan berbagai topik yang berbeda di setiap edisinya. Sampai suatu ketika terbersit sebuah ide mentah yang ‘disambar’ oleh bosnya, Lana (Bebe Neuwirth) dan dilabeli ‘How to Lose A Guy in 10 Days’. Intinya, Andie akan memasang jebakan bagi pria yang ingin mendekatinya, melakukan berbagai perbuatan konyol dan menjengkelkan agar si pria memutuskannya dalam 10 hari. Sebuah taruhan yang tentu saja, menyebalkan bagi pria yang akan dijeratnya.

Tak disangka, pria yang masuk dalam perangkapnya adalah seorang pria muda, tampan dengan bentuk tubuh bagus dan punya pekerjaan mantap di sebuah advertising. Namanya Benjamin Barry (Matthew McConaughey). Tentu saja Ben tak tahu-menahu mengenai taruhan Andie. Ia larut dalam rayuan manis Andie yang disengaja dan akan membuatnya patah hati hanya dalam 10 hari.

Tapi Ben ternyata juga punya taruhan dengan bosnya. Sebuah kebetulan yang benar–benar kentara! Dikisahkan Ben sedang bersaing dengan dua rekan wanitanya memenangkan tender menggarap iklan perhiasan berlian. Karena dinilai sama–sama punya konsep menarik, bos Ben membuat taruhan: jika Ben bisa membawa pacarnya dalam 10 hari ke tempat pesta yang diselenggarakan pengusaha berlian tersebut, maka Ben-lah yang akan mendapatkan tender tersebut. Dan (kebetulan lagi) dua rekan wanita Ben menunjuk Andie sebagai target incaran Ben.

Nah, terlihat kasat mata bahwa How To Lose A Guy In 10 Days menjual terlalu banyak ‘kebetulan’. Oke, ini formula klasik dalam komedi romantis Hollywood, tapi mestinya bisa dibuat secara tersamar dan tersusun secara logis kan? Tapi apa mau dikata, sang sutradara Donald Petrie bukan Rob Reiner yang terbilang ‘canggih’ mengurai hubungan pria–wanita dalam komedi romantis besutannya secara rasional (ingat When Harry Met Sally?). Maka How To Lose A Guy In 10 Days jadi dejavu semata bagi penonton, double dejavu malah! Tak ada sedikit saja pembaruan formula, semuanya sama. Penonton yang terbiasa mencermati komedi romantis, pasti sudah bisa menebak ending-nya, bahkan ketika film baru berada di menitnya yang ke-10!

Tapi coba jangan pedulikan ending-nya, nikmati saja proses ‘penyatuan’ pasangan Andie dan Ben. Penonton mana yang tak berbunga–bunga melihat mekarnya cinta di mata kedua pasangan ini. Dan sedikit terharu, ketika mendapati Andie yang menangis bahagia lantaran berada di tengah keluarga besar Ben yang hangat. Sayangnya, skenario tak memberi ruang untuk menjelaskan mengapa Andie bisa sedemikian sendu. Padahal jika dikembangkan, ini bisa menjadi potensi untuk memperluas jalinan cerita.

Dan nikmati juga How To Lose A Guy In 10 Days sebagai produk hiburan semata, dengan sedikit nilai persahabatan dan keluarga di dalamnya. Nikmati pula ‘kenakalan’-nya ketika menyorot pasangan Andie dan Ben di bioskop dan tebak, mereka tengah menonton Sleepless In Seattle (1993). Apapun, taruhan Andie jadi bumerang bagi dirinya sendiri!

Video Terkait: