Jumat Siang di Istiqlal: Ada yang Mencari Pahala, Ada yang Mencari Sandal

OPINI 30 May 2026 20:00 3 min read 33 views By Widodo Prihadi, ST

Share berita ini

Jumat Siang di Istiqlal: Ada yang Mencari Pahala, Ada yang Mencari Sandal
.

Widodo

 

Ada sebuah cerita yang unik, lucu, miris, sekaligus memalukan dari Salat Jumat di Masjid Istiqlal pada Jumat, 29 Mei 2026.

 

Konon, setelah salat usai, puluhan orang bahkan mungkin lebih banyak mendapati kenyataan pahit bahwa sandal atau sepatu mereka telah lenyap. Hilang. Raib. Menguap entah ke mana. Jumlah pastinya mungkin tidak pernah diketahui karena tidak semua korban berdiri berkelompok sambil mengangkat tangan dan mengaku, "Maaf, saya juga kehilangan sandal."

 

Padahal ini bukan masjid kecil di ujung gang. Ini Masjid Istiqlal, masjid terbesar di Indonesia, bahkan menjadi salah satu simbol kebanggaan umat Islam di negeri ini. Karena itu, kejadian seperti ini terasa lebih ironis.

 

Yang hilang memang hanya sandal dan sepatu. Harga sepasangnya mungkin tidak sampai membuat pemiliknya jatuh miskin. Namun persoalannya bukan sekadar nilai barang. Yang ikut hilang adalah rasa tenang dan sedikit rasa percaya.

 

Kejadian ini juga menjadi pengingat bahwa tidak semua orang yang datang ke masjid datang dengan tujuan yang sama. Sebagian besar datang untuk beribadah. Sebagian kecil lainnya, tampaknya, datang dengan misi yang lebih praktis: pulang membawa alas kaki yang bukan miliknya.

 

Yang membuat cerita ini semakin tragis-komis adalah waktunya.

 

Kejadian berlangsung pada Jumat siang. Matahari sedang semangat-semangatnya bekerja. Aspal panas. Paving panas. Udara panas. Lalu seseorang keluar dari masjid, mencari sandalnya, dan mendapati bahwa sandalnya sudah berpindah keyakinan kepemilikan.

 

Bayangkan ekspresi wajahnya.

 

Awalnya mencari di rak sebelah.

 

Lalu pindah ke rak berikutnya.

 

Kemudian mulai yakin bahwa dirinya salah ingat.

 

Lima menit kemudian mulai curiga.

 

Sepuluh menit kemudian mulai menerima kenyataan.

 

Dua belas menit kemudian mulai menyusun teori konspirasi.

 

Masalah berikutnya adalah pulang.

 

Kalau membawa kendaraan pribadi, masih harus berjalan cukup jauh menuju area parkir. Kalau menggunakan transportasi umum, harus berjalan menuju halte atau shelter bus. Semua itu dilakukan sambil bernegosiasi dengan panasnya permukaan tanah yang sedang dipanggang matahari Jakarta.

 

Tidak berlebihan jika ada yang merasa ujian setelah salat Jumat ternyata bukan khutbahnya, melainkan perjalanan pulang tanpa alas kaki.

 

Di tengah fenomena yang terus berulang ini, masyarakat sudah lama menciptakan humor klasik.

 

"Kenapa di masjid tidak ada piano seperti di gereja?"

 

Jawabannya:

 

"Sandal saja hilang, apalagi piano."

 

Lelucon itu sudah tua, tetapi anehnya tetap relevan.

 

Lalu muncul pertanyaan lanjutan.

 

"Kalau begitu kenapa bedug tidak pernah hilang?"

 

Jawabannya sederhana.

 

Karena sampai hari ini belum ada yang berhasil menyelundupkan bedug ke dalam tas belanja sambil berjalan santai keluar masjid.

 

Tentu saja kita bisa tertawa membaca semua ini. Namun di balik tawa itu ada ironi yang cukup menyedihkan. Tempat ibadah seharusnya menjadi ruang yang membuat orang merasa aman. Ketika seseorang harus waswas terhadap sandal atau sepatunya sendiri saat sedang beribadah, ada sesuatu yang patut direnungkan bersama.

 

Untungnya, mayoritas jamaah tetap datang dengan niat baik. Sebab kalau tidak, mungkin suatu hari nanti pengumuman sebelum salat Jumat bukan lagi:

 

"Luruskan dan rapatkan saf."

 

Melainkan:

 

"Mohon jamaah mengingat warna, merek, ukuran, dan ciri-ciri alas kaki masing-masing sebelum salat dimulai."

 

Semoga kejadian seperti ini semakin berkurang. Karena sejujurnya, setelah selesai beribadah, orang berharap pulang membawa ketenangan hati bukan pengalaman berjalan di bawah terik matahari sambil bertelanjang kaki- dan mengenang sandal yang pernah dimiliki.***

>>