Siapa Peduli Radio?

OPINI 31 May 2026 07:48 5 min read 30 views By Widodo Prihadi, ST

Share berita ini

Siapa Peduli Radio?
.

Widodo Prihadi

 

"Siapa yang peduli radio?"

 

Kalimat itu mungkin terdengar kasar, bahkan menyakitkan bagi mereka yang hidup, bekerja, dan tumbuh bersama dunia penyiaran. Namun pertanyaan itu semakin relevan hari ini ketika radio menghadapi tantangan terbesar dalam sejarahnya: perubahan perilaku manusia.

 

Radio sebenarnya belum mati. Radio masih mengudara. Menara pemancar masih berdiri. Penyiar masih berbicara. Lagu masih diputar. Tetapi pertanyaannya bukan lagi apakah radio masih ada, melainkan apakah radio masih menjadi pilihan utama masyarakat?

 

Kemajuan internet dan digitalisasi telah mengubah hampir seluruh pola konsumsi informasi dan hiburan. Jika dahulu orang rela menunggu berjam-jam untuk mendengarkan lagu favorit diputar di radio, sekarang cukup membuka Spotify atau platform musik lainnya. Bahkan lagu baru akan otomatis muncul melalui notifikasi berlangganan.

 

Hal yang sama terjadi pada berita. Dulu radio menjadi salah satu sumber informasi tercepat. Kini berita datang dari mana saja: media sosial, grup WhatsApp, YouTube, TikTok, Instagram, hingga aplikasi berita. Benar atau salah, fakta atau hoaks, sering kali masyarakat tidak terlalu peduli. Yang penting informasi itu muncul di layar smartphone mereka.

 

Di sinilah radio mulai kehilangan salah satu kekuatan tradisionalnya: menjadi gerbang utama informasi.

 

Fenomena ini bukan hanya terjadi di kota-kota besar dunia, tetapi juga di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir kita menyaksikan satu per satu radio menghentikan siaran terestrialnya.

 

Jaringan Sonora yang selama puluhan tahun menjadi salah satu kekuatan besar radio Indonesia diketahui menghentikan operasional di sejumlah kota, termasuk Surabaya dan beberapa daerah lainnya pada akhir tahun lalu sebagai bagian dari efisiensi dan perubahan strategi bisnis menuju platform digital. Perubahan ini menjadi sinyal bahwa bahkan grup media besar pun tidak kebal terhadap perubahan perilaku audiens.

 

Di Kediri, Radio Wijang Songko (RWS), salah satu radio legendaris Jawa Timur yang telah mengudara sejak 1968, resmi menghentikan siarannya pada 1 April 2026. Siaran terakhir berlangsung pada 31 Maret 2026. Setelah 58 tahun menemani masyarakat Kediri Raya, radio tersebut akhirnya menutup perjalanan panjangnya.

 

Lalu pada 29 Mei 2026, publik radio di Bandung kembali dikejutkan oleh berhentinya siaran on-air Hard Rock FM Bandung. Peristiwa itu kembali memunculkan pertanyaan yang sama: apakah masa depan radio FM semakin pendek, atau justru sedang memasuki fase transformasi baru?

 

Namun di tengah berbagai penutupan tersebut, muncul fenomena yang menarik untuk dicermati.

 

Beberapa radio justru bertahan melalui model bisnis yang berbeda. Salah satu contohnya adalah Voks Radio (Voice of Kutus kutus), Kutus-Kutus produk minyak balur tradisional asal Bali. Melalui jaringan radio yang mereka miliki di beberapa kota seperti Denpasar, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Jakarta,Medan dan Banda Aceh, radio bukan hanya menjadi media siaran, tetapi juga menjadi saluran promosi, edukasi, sekaligus distribusi produk.

 

Pola ini sebenarnya bukan hal baru. Sebelumnya berbagai produk kesehatan seperti Soman, BioActiva, Bio Seven, HG, dan produk sejenis telah memanfaatkan radio sebagai sarana pemasaran utama.

 

Pertanyaannya kemudian menjadi semakin menarik.

 

Apakah radio masa depan hanya akan menjadi media untuk menjual produk kesehatan dan obat-obatan tradisional?

 

Jika iya, tentu itu bukan kabar yang menggembirakan bagi dunia penyiaran. Sebab radio lahir bukan semata-mata sebagai alat pemasaran. Radio lahir sebagai ruang informasi, hiburan, pendidikan, bahkan kontrol sosial.

 

Tetapi jika melihat lebih jauh, jawabannya belum tentu pesimis.

 

Masih ada radio yang tumbuh dan berkembang dengan sangat baik. Di Surabaya ada Suara Surabaya. Di Kediri ada Andika FM. Kedua radio ini menunjukkan bahwa radio tetap bisa hidup bahkan di era digital.

 

Apa yang membedakan mereka?

 

Jawabannya sederhana: mereka memahami pendengarnya.

 

Mereka tidak bersaing dengan Spotify dalam memutar lagu. Mereka tidak mencoba mengalahkan TikTok dalam membuat video pendek. Mereka tidak berusaha menjadi YouTube.

 

Mereka menjadi radio.

 

Mereka menghadirkan informasi yang tidak bisa diberikan oleh platform global. Mereka berbicara tentang kemacetan di kota sendiri. Mereka membahas masalah warga setempat. Mereka menjadi tempat masyarakat menyampaikan keluhan. Mereka menjadi ruang dialog publik yang nyata.

 

Di sinilah banyak radio justru lupa terhadap kekuatan utamanya.

 

Radio adalah media lokal.

 

Kekuatan radio bukan berada pada teknologi pemancarnya. Bukan pada gedung studionya. Bukan pula pada jumlah lagu yang dimiliki.

 

Kekuatan radio berada pada kedekatannya dengan masyarakat.

 

Bahkan ketika sebuah radio menjadi bagian dari jaringan nasional, yang dicari pendengar tetaplah suara daerahnya sendiri. Mereka ingin mendengar cerita kotanya. Mereka ingin mengetahui kondisi jalan di sekitar rumahnya. Mereka ingin tahu kegiatan komunitas di lingkungannya.

 

Itulah sesuatu yang tidak bisa diberikan algoritma global.

 

Karena itu, masa depan radio mungkin bukan berada pada perang melawan teknologi digital. Radio tidak akan menang jika mencoba menjadi Spotify, TikTok, atau YouTube versi kecil.

 

Sebaliknya, radio harus kembali menjadi dirinya sendiri: media yang dekat, lokal, cepat, dipercaya, dan hadir di tengah kehidupan masyarakat.

 

Mungkin jumlah radio akan semakin sedikit. Mungkin menara-menara pemancar akan semakin berkurang. Mungkin frekuensi FM tidak lagi menjadi pusat hiburan seperti dua puluh - tiga puluh tahun lalu.

 

Tetapi selama masih ada masyarakat yang membutuhkan informasi lokal, ruang dialog publik, dan kedekatan manusia yang tidak dapat digantikan algoritma, radio akan tetap memiliki tempat.

 

Jadi, siapa yang peduli radio?

 

Pendengarnya.

 

Dan selama pendengar itu masih ada, radio sebenarnya belum selesai.***

>>