Polisi Singapura Selidiki Rapat Zoom Palsu Mirip PM Lawrence Wong

INTERNASIONAL 16 May 2026 18:54 4 min read 67 views By Idris

Share berita ini

Polisi Singapura Selidiki Rapat Zoom Palsu Mirip PM Lawrence Wong
Tangkapan layar dari rekaman buatan AI saat zoom meeting yang diduga palsu menghadirkan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong dan Menteri Kedua Pembangunan Nasional Singapura, Indranee Rajah (Foto : Singapore Police Force)

Koran Bintan.com | SINGAPURA — Kepolisian Singapura atau Singapore Police Force (SPF) telah mengantongi sebuah video berisi rekaman rapat dalam jaringan (daring) menggunakan aplikasi zoom meeting  yang dihasilkan Artificial intelligence (AI). Polisi menduga apa yang dilakukan merupakan bagian dari penipuan dengan melibatkan beberapa pejabat tinggi, termasuk Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong, Sabtu (16/5/2026).

 

Ditemukan ada seorang korban yang telah kehilangan uang sebesar S$4,9 juta atau sebesar Rp67 miliar lebih dengan dalih sebagai bantuan pendanaan terkait Selat Hormuz, kata polisi sebelumnya.

 

Modus operandi pelaku dengan mengirimkan pesan melalui WhatsApp yang mengaku sebagai Sekretaris Kabinet yang meminta mereka menghadiri rapat dengan PM Wong.

 

Mereka kemudian akan diundang rapat daring melalui Zoom meeting — yang direkayasa menggunakan teknologi AI deepfake — yang seolah-olah dihadiri oleh PM Wong serta pejabat pemerintah lokal dan luar negeri lainnya.

 

Rekaman yang diperoleh oleh polisi menunjukkan sebuah rapat daring zoom meeting palsu membahas mengenai situasi di Selat Hormuz, Iran yang diklaim melibatkan PM Wong, Presiden Singapura Tharman Shanmugaratnam, Menteri Indranee Rajah, dan perwakilan dari Otoritas Moneter Singapura atau Monetary Authority of Singapore (MAS).

 

Pertemuan tersebut juga konon melibatkan pejabat pemerintah asing seperti Menteri Luar Negeri Kanada Anita Indira Anand dan Penasihat Diplomatik Senior Presiden Uni Emirat Arab Dr. Anwar Mohammed Gargash, serta peserta sektor swasta seperti Blackrock dan Dubai International Financial Centre.

 

“Korban akan diperkenalkan dalam rapat tersebut sebagai salah satu peserta dari perusahaan swasta,” kata polisi.

 

Rapat tersebut kemudian akan dilanjutkan dengan pemaparan singkat oleh beberapa narasumber dari pejabat pemerintah mengenai situasi di Selat Hormuz dan diakhiri dengan video deepfake PM Wong yang menyampaikan sambutan penutup, dengan menyebutkan kehadiran korban dalam rapat tersebut.

 

Kemudian seorang penipu, yang menyamar sebagai pengacara, akan menghubungi para korban secara terpisah dan meyakinkan mereka untuk mentransfer uang.

 

Dalam sebuah himbauan pada hari Kamis (14/5/2026) memperingatkan akan munculnya lebih banyak kasus serupa. Polisi mengatakan bahwa para penipu tampaknya menjadikan target para pengusaha yang sebelumnya pernah berinteraksi dengan pejabat pemerintah.

 

Mengenai rekaman tersebut, polisi mengatakan pada hari Sabtu bahwa mereka mengamati tanda-tanda penggunaan teknologi deepfake.

 

Sebagai contoh, ucapan-ucapan narasumber tidak sinkroni dengan gerakan bibir pada saat berbicara. Hal ini menunjukkan bahwa audio palsu telah ditambahkan dan video para pembicara telah direkam sebelumnya.

 

Selain itu, rekaman tersebut menampilkan latar belakang yang terdistorsi dan logo Zoom yang sebagian tertutup yang tidak selaras dengan bagian depan, membuktikan bahwa video-video itu dimanipulasi menggunakan teknologi AI.

 

Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan lebih berhati-hati terutama ketika dihubungi melalui aplikasi vitual. “Rekayasa AI deepfake bisa sangat canggih, dan mungkin sulit untuk membedakan antara konten yang asli dan yang tidak asli,” tambah polisi.

 

Polisi mengatakan bahwa pejabat pemerintah Singapura tidak akanpernah melakukan hal-hal berikut melalui email, telepon, atau panggilan video, seperti meminta untuk mentransfer uang,  mengungkapkan detail login bank, mengunduh aplikasi seluler dari toko aplikasi tidak resmi dan mengalihkan panggilan telepon ke polisi atau pejabat pemerintah lainnya.

  

Masyarakat dapat melaporkan kemungkinan terjadinya penipuan, informasi bohong, atau iklan di media sosial kepada administrator platform atau kepada polisi. Untuk verifikasi, masyarakat juga dapat menghubungi hotline ScamShield di 1799.

 

Menanggapi hal ini, anggota DPRD Kepri Rudi Chua melalui media sosialnya mengatakan, agar warga diingatkan untuk berhati-hati. Bisa saja katanya, kedepan akan ada yg menyamar sebagai gubernur atau walikota/bupati atau pejabat lainnya yang menawarin proyek atau bisa juga orang yang kita kenal atau keluarga kita sendiri meminta uang melalui video call. 

 

Alumni S-2 Universitas Internasional Batam ini mengusulkan kepada masyarakat untuk menyiapkan semacam kode khusus yang hanya diketahui internal keluarga. Gunanya imbuh Rudi untuk melakukan verifikasi kalau menemukan kecurigaan terhadap suatu permintaan.

 

"Teknologi AI deepfake dapat merubah wajah dan suara seseorang sesuai wajah dan suara aslinya," tandas Rudi.(idr)

>>