Abdus Syahwat: Kiai Oksimoron yang Bikin Malu Pesantren
Dunia pesantren kita kembali kena tamparan keras. Dan pelakunya, menyedihkan sekali, adalah seorang yang menyandang gelar mentereng: Kiai. Namanya—mari kita sebut saja sebagai personifikasi dari nafsu yang kebablasan—Abdus Syahwat waz Zakar. Sebuah nama yang kalau diartikan secara harfiah saja sudah bikin kita mengelus dada sekaligus ingin melempar sandal.
Menjadi Kiai itu memang nggak ada ujian formalnya. Nggak ada sertifikasi ISO atau akreditasi dari BAN-PT. Tapi, bukan berarti nggak ada standar kualitas. Standarnya adalah akhlak. Dan si Abdus Syahwat ini, dengan aksi bejatnya menzinahi santriwati, bukan cuma nggak lulus ujian, tapi dia sudah membakar habis seluruh kertas ujiannya.
Kalau kita bedah pakai kacamata keilmuan pesantren yang selama ini kita agungkan, dosa orang ini sudah masuk kategori "borongan".
Gagal Total di Jalur Akademis Langit
Secara Fiqih dan Ushul Fiqih, dia bukan lagi mengabaikan hukum, tapi sudah terang-terangan mengangkangi syariat Allah. Dia hafal mungkin bab munakahat, tapi praktiknya malah "muna-jahat". Ayat-ayat Tafsir yang melarang zina hanya dianggapnya sebagai hiasan teks, dan sabda suci Nabi dalam kitab-kitab Hadits cuma numpang lewat di telinganya tanpa menyentuh hati.
Bicara soal Akidah, ini yang paling gawat. Apa dia lupa kalau Allah itu Al-Bashir (Maha Melihat)? Atau jangan-jangan dia merasa hari akhir dan azab buat pezina itu cuma dongeng sebelum tidur? Secara Tasawwuf, lupakan soal tazkiyatun nafsi (penyucian jiwa) atau zuhud. Yang ada di kepalanya cuma riyadhoh syahwat yang tak berkesudahan. Fana’-nya bukan fana’ kepada Tuhan, tapi fana’ dalam kegelapan moral.
Merusak Tatanan Bumi
Dampaknya nggak cuma soal dosa pribadi. Secara sosiologis dan antropologis, dia sudah menghancurkan esprit de corps para Kiai dan santri. Dia merobek ukhuwwah Islamiyah dan meluluhlantakkan kultur pesantren yang selama ini dibangun dengan tetesan keringat dan air mata para ulama terdahulu.
Secara historis dan edukatif, dia adalah anomali yang menjijikkan. Tradisi pesantren itu mendidik, bukan merusak. Dia sudah mengkhianati "Panca Jiwa Pesantren" secara filosofis, melakukan tindak kriminal secara legal, dan menghancurkan good governance dunia pesantren secara politik.
Maqashid Syari’ah dan Urusan Nyawa
Kalau kita pakai pisau bedah Maqashid Syari'ah, si Abdus Syahwat ini sudah melanggar empat pilar sekaligus:
- Hifzhun Nasl (Menjaga keturunan): Dia merusak masa depan santriwati.
- Hifzhun Nafs (Menjaga jiwa): Dia membunuh karakter dan psikis korbannya.
- Hifzhud Din (Menjaga agama): Dia membuat orang skeptis pada institusi agama.
- Hifzhul ‘Aql (Menjaga akal): Tindakannya benar-benar di luar nalar sehat manusia waras.
Maka, kalau ada yang mengusulkan hukuman mati buat Kiai oksimoronik macam begini, rasanya itu bukan sekadar emosi. Ini adalah upaya "pembersihan" dari benalu yang merusak pohon besar bernama Pesantren.
Memalukan? Jelas. Menjijikkan? Banget. Orang-orang seperti ini memang lebih baik keluar saja dari muka bumi, daripada terus-terusan jadi polusi bagi kesucian agama.