Bukan Politik, Bukan Ekonomi: Masalah Kita ada pada Ilmu!
Kalau duduk santai di warung kopi dan membahas kondisi umat Islam hari ini, topiknya hampir selalu sama: pendidikan yang tertinggal, politik yang gaduh, dan generasi muda yang kehilangan arah. Pertanyaannya, apakah semua ini hanya soal sistem, atau ada masalah yang lebih mendasar?
Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas sejak lama mengajak umat Islam melihat persoalan dari akarnya: cara berpikir. Pada Juli 2023, di usia 92 tahun, beliau meluncurkan buku terbarunya Islam: The Covenants Fulfilled di Kuala Lumpur. Antusiasme besar terhadap acara ini menunjukkan bahwa pemikiran al-Attas masih dianggap relevan dan dibutuhkan, bukan sekadar nostalgia intelektual.
Bagi al-Attas, persoalan utama umat Islam bukan semata-mata kemiskinan atau kekalahan politik, melainkan loss of adab. Ini bukan hanya soal moral pribadi, tetapi kekacauan dalam menempatkan ilmu, kebenaran, dan otoritas pada tempatnya. Dalam bahasa sederhana, umat Islam banyak berbicara, tetapi sering tidak tahu posisi.
Salah satu kritik terkuat al-Attas diarahkan pada sekularisme, khususnya sekularisasi ilmu pengetahuan. Ilmu modern kerap dipahami seolah netral dan bebas nilai, padahal ia lahir dari pandangan hidup tertentu. Ketika ilmu dilepaskan dari wahyu, umat Islam memang tampak maju secara teknis, tetapi rapuh secara makna. Tak heran jika muncul sarjana Muslim yang cerdas, namun gamang ketika menjelaskan Islam itu sendiri.
Dalam buku terbarunya, al-Attas menegaskan bahwa Islam tidak bisa disamakan begitu saja dengan agama-agama lain. Al-Islam bukan sekadar istilah umum tentang kepasrahan, melainkan nama agama yang ditetapkan langsung oleh Allah melalui Nabi Muhammad ﷺ. Islam adalah din yang sempurna, bukan sekadar millah seperti risalah para nabi sebelumnya. Kesalahan memahami hal ini, menurut al-Attas, berakibat serius pada cara umat Islam memandang agamanya sendiri.
Menariknya, al-Attas menyebut upaya menghadapi sekularisasi sebagai combating the forces of secularization. Pilihan kata ini menunjukkan bahwa persoalan tersebut bukan perkara ringan. Ini adalah bentuk jihad ilmiah, perjuangan panjang di ranah pemikiran, bukan dengan emosi, tetapi dengan argumen dan kedalaman ilmu. Al-Attas bahkan membandingkan situasi umat Islam hari ini dengan masa Imam al-Ghazali, ketika dunia Islam berhadapan dengan dominasi filsafat Yunani. Saat itu, al-Ghazali tidak menolak ilmu secara total, tetapi mengkritisinya dari dalam kerangka Islam. Menurut al-Attas, pendekatan semacam inilah yang dibutuhkan umat Islam modern dalam menghadapi ilmu dan peradaban Barat.
Bagi kalangan akademisi dan pendidik, pemikiran al-Attas menjadi semakin penting. Sekularisasi ilmu justru sering dibawa oleh sarjana Muslim sendiri, secara sadar atau tidak. Karena itu, gagasan islamisasi ilmu pengetahuan bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak.
Kalau obrolan warung kopi biasanya ditutup dengan kesimpulan singkat, maka pesan al-Attas juga sebenarnya sederhana: kebangkitan umat Islam tidak dimulai dari keramaian, tetapi dari kejernihan berpikir. Dari adab terhadap ilmu. Dari keberanian untuk menata ulang cara kita memahami Islam dan dunia.
Related Articles