Mengenang Pemikiran Bernas Almarhum Prof. Diraja Syed Muhammad Naquib Al-Attas
Wafatnya Prof. Diraja Syed Muhammad Naquib Al-Attas meninggalkan duka mendalam bagi dunia intelektual Islam. Sosok cendekiawan besar ini dikenal luas sebagai pemikir yang tidak hanya tajam dalam analisis, tetapi juga kokoh dalam menjaga kemurnian pandangan hidup Islam di tengah arus modernitas yang kian kompleks.
Al-Attas merupakan figur penting dalam upaya mengembalikan arah pendidikan Islam kepada akar filosofisnya. Ia secara konsisten mengkritik paradigma pendidikan Barat yang sekular, yang menurutnya telah memisahkan ilmu dari nilai-nilai spiritual. Dalam banyak karya dan ceramahnya, ia menekankan bahwa krisis utama umat Islam bukan sekadar keterbelakangan teknologi, melainkan kekeliruan dalam memahami ilmu dan adab.
Salah satu gagasan monumental Al-Attas adalah konsep ta’dīb dalam pendidikan. Berbeda dengan istilah tarbiyah atau ta‘lim yang lebih umum digunakan, ta’dīb menurutnya mencerminkan proses penanaman adab secara menyeluruh—meliputi pengenalan dan pengakuan terhadap hakikat sesuatu sesuai dengan kedudukannya yang tepat dalam tatanan wujud. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya bertujuan mencerdaskan akal, tetapi juga membentuk manusia beradab.
Lebih jauh, Al-Attas memperkenalkan konsep “Islamisasi ilmu pengetahuan” sebagai respons terhadap dominasi epistemologi Barat. Ia menegaskan bahwa ilmu tidak pernah bebas nilai, dan oleh karena itu umat Islam perlu menyaring serta merekonstruksi ilmu modern agar selaras dengan worldview Islam. Gagasan ini kemudian menginspirasi berbagai institusi pendidikan Islam di dunia, termasuk pendirian International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) di Malaysia.
Pemikiran Al-Attas juga menaruh perhatian besar pada bahasa sebagai medium ilmu. Ia melihat kerusakan makna dalam bahasa sebagai salah satu penyebab kekacauan pemikiran. Oleh karena itu, ia mendorong penggunaan bahasa yang tepat dan beradab sebagai bagian dari proses intelektual yang benar.
Sebagai seorang sarjana, Al-Attas tidak hanya produktif menulis, tetapi juga membangun tradisi keilmuan yang berakar pada integritas spiritual dan intelektual. Karya-karyanya seperti Islam and Secularism dan The Concept of Education in Islam menjadi rujukan penting dalam diskursus pemikiran Islam kontemporer.
Kepergian Al-Attas memang menjadi kehilangan terbesar umat Islam di zaman ini, namun warisan pemikirannya tetap hidup dan relevan. Di tengah tantangan globalisasi dan krisis identitas yang dihadapi umat Islam saat ini, gagasan-gagasannya tentang adab, ilmu, dan peradaban menjadi kompas penting untuk menata kembali arah pendidikan dan kehidupan.
Mengenang Al-Attas bukan sekadar mengenang seorang tokoh, tetapi juga menghidupkan kembali semangat intelektual yang berakar pada keimanan, ketajaman akal, dan kemuliaan adab. Warisan inilah yang menjadi harapan bagi lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bijaksana dan berintegritas.
Related Articles