Menghidupkan Kembali Ruh Pendidikan Islam Melalui Ta’dīb (Tinjauan Pemikiran Syed Muhammad Naquib Al-Attas)
Pendidikan merupakan aspek yang selalu terhubung dengan kehidupan manusia; setiap individu pasti membutuhkan pendidikan. Menurut al-Attas, seiring dengan perkembangan zaman yang semakin cepat dan tantangan modernitas yang dihadapi umat Islam, salah satu masalah yang membayangi adalah pertumbuhan sains yang secara bertahap mengikis nilai moral dan agama, sehingga bukan lagi sains yang berkembang sesuai kebutuhan manusia, tetapi manusia yang harus beradaptasi dengan sains.
Umat Islam seharusnya lebih peka terhadap isu ini, karena menurut al-Attas, saat ini ilmu pengetahuan telah tercemar oleh budaya Barat yang berusaha memisahkan nilai-nilai agama dari ilmu pengetahuan, sehingga mengakibatkan hilangnya peran agama dalam bidang tersebut. Sains, contohnya, dipahami dari perspektif sains itu sendiri dengan mengabaikan perspektif ketuhanan.
Kemajuan sains dan pengetahuan Barat, meskipun memberikan efek negatif terhadap moral dan spiritual umat Islam seperti yang telah disebutkan, dengan sifatnya yang sangat sekuler (memisahkan agama dan ilmu), tentu berpengaruh pula terhadap kemajuan pengetahuan dalam pendidikan Islam. Syed Muhammad Naquib al-Attas menganalisis bahwa penyebab kemunduran kaum muslimin berasal dari ketidakpedulian mereka dalam merancang dan mengembangkan rencana pendidikan yang sistematis sesuai dengan prinsip-prinsip Islam secara terkoordinasi dan terpadu. Sehingga muncul ide dan gagasan yang serius tentang Pendidikan Islam sebagaimana yang Syed Muhammad Naquib Al-Attas sampaikan dalam berbagai konfrensi Pendidikan Islam di dunia dengan gagasan utamanya tentang ta’dīb.
Konsep ta’dīb yang diajukan oleh Al-Attas menjadi sangat penting untuk dikaji lebih lanjut di tengah lemahnya fondasi moralitas dan spiritualitas dalam kehidupan serta pendidikan Islam saat ini, karena dalam konsep ta’dīb tersebut, al-Attas sangat menyoroti signifikansi 'adab' dalam setiap aspek kehidupan kita.
Makna Ta’dīb
Menurut al-Attas, ta’dīb adalah konsep yang paling tepat untuk Pendidikan Islam, bukannya tarbiyah ataupun ta’lim. Menurutnya, Struktur konsep ta’dīb sudah mencakup unsur-unsur ilmu (‘ilm), instruksi (ta’lim), dan pembinaan yang baik (tarbiyah) sehingga tidak perlu lagi dikatakan bahwa konsep pendidikan Islam adalah sebagaimana terdapat dalam tiga serangkai konsep tarbiyah-ta’lim-ta’dīb.
Al-Attas mendefinisikan ta’dīb sebagai proses pengenalan dan pengakuan yang secara bertahap ditanamkan kepada manusia mengenai posisi-posisi yang benar dari segala hal dalam struktur penciptaan, untuk membimbing menuju pengenalan dan pengakuan atas kekuasaan dan kebesaran Tuhan dalam tatanan wujud serta eksistensinya. Dalam perspektif al-Attas, dengan memanfaatkan istilah tersebut, dapat dimengerti bahwa pendidikan Islam merupakan proses internalisasi dan penanaman adab dalam diri individu. Dengan demikian, inti dari kegiatan pendidikan Islam adalah interaksi yang menumbuhkan adab. Menurut al-Attas juga, pengajaran dan proses belajar keterampilan, meskipun bersifat ilmiah, tidak dapat dianggap sebagai pendidikan jika di dalamnya tidak ditanamkan 'sesuatu'.
Manusia yang baik dalam pandangan al-Attas adalah manusia yang adil yang mejalankan adab dalam dirinya. Adab adalah khusus untuk manusia, maka pengenalan dan pengakuan mesti diterapkan apapun kondisinya dalam kehidupan yang berhubungan dengan diri, keluarga, komunitas, lingkungan dan seluruhnya.
Ta’dīb Sebagai Pendidikan
Alasan menggunakan ta’dīb dibandingkan dengan tarbiyah atau ta’lim adalah karena adab sangat terkait dengan ilmu. Pengetahuan tidak dapat disampaikan dan diwariskan kepada murid kecuali jika orang itu memiliki sikap yang sesuai terhadap ilmu dan berbagai disiplin. Apabila diteliti lebih lanjut, jika pemahaman pendidikan Islam hanya terpaku pada tarbiyah atau ta’lim, maka telah terinfeksi oleh perspektif Barat yang berakar pada nilai-nilai dualisme, sekulerisme, humanisme, dan sofisme, sehingga nilai-nilai adab semakin samar dan semakin menjauh dari hikmah Ilahiyah. Kekaburan arti adab atau keruntuhan adab menjadi penyebab utama terjadinya kezaliman, kebodohan, dan kegilaan di zaman ini.
Oleh karena itu, pendidikan Islam yang ideal menurut Al-Attas adalah proses menanamkan dan menumbuhkan adab dalam individu ini disebut ta’dīb, sebagaimana al-Qur’an menegaskan bahwa sosok ideal bagi orang yang beradab adalah Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alayhi Wasallam yang oleh kebanyakan sarjana Muslim disebut sebagai Manusia Sempurna atau Manusia Universal (al-insan al-kulliyy) Istilah adab mengandung makna yang sangat luas dan mendalam. Di samping itu, Al-Attas menambahkan, gagasan yang terkandung dalam ucapan ini telah diislamisasikan dari konteks yang ada sebelum Islam dengan cara menambah unsur-unsur spiritual dan intelektual pada tingkat semantiknya.
Ide dan gagasan al-Attas tentang konsep ta’dīb menurut hemat penulis sangat relevan untuk tekankan dalam pendidikan Islam saat ini. Karena praktek kegiatan pendidikan Islam yang selama ini dijalankan lebih banyak dipengaruhi oleh ide dan gagasan konsep-konsep pendidikan Barat yang cenderung kedalam sekularistik, hedonistik, dan pragmatis, serta ilmu bebas nilai (value free). Tentu di dalamnya pun sangat minim dengan nilai-nilai spritualitas dan moralitas (adab), sedangkan dalam pandangan Islam pendidikan harus integralistik, spiritualitik, idealistik dan terikat nilai.
Maka dari itu, memang dalam karya-karyanya, al-Attas secara umum memfokuskan pemikirannya dalam mengembalikan nilai Islam sebagai pandangan dunia (reaktualisasi ajaran Islam), mengusung kemandirian Islam dari jeratan peradaban Barat (dewesternisasi) dan gagasan desekularisasi, suatu upaya mengintegrasikan ilmu-ilmu keislaman, mengembalikan keharmonisan antara agama (Islam) dengan sains, yang menurut Seyyed Hossein Nasr, dalam khazanah ilmu pengetahuan Islam klasik, dikotomi antara ilmu dan agama atau fisik dan metafisik tidak pernah ada, yang mana hal ini pernah disampaikan antara lain oleh Ibnu Sina (370-428 H/980-1037 M), Nashir al-Din at-Thusi (597-672 H/1201-1274 M), Qutb al-Dun asy-Syirazi (634-710 H/1236-1311 M) dan lain-lain.
Menghidupkan kembali semangat pendidikan Islam melalui ta’dīb (proses pendidikan yang menekankan pembentukan moral dan etika) berarti memusatkan perhatian pada pengembangan karakter dan akhlak yang baik, selain penguasaan pengetahuan. Ta'dib menekankan signifikansi mengaplikasikan ilmu yang sudah dipelajari dan mencontoh perilaku Rasulullah. Konsep ta’dīb merupakan konsep pendidikan Islam yang komprehensif, karena aspek-aspek ilmu dan proses pencapainya mesti dicapai dengan pendekatana tawhidy dan objek-objeknya diteropong dengan pandangan hidup Islami (Islamic Worldview).
Related Articles