Tuhan menciptakan dunia dengan penuh perhitungan. Semua diciptakan berpasang-pasangan. Ada lelaki, ada perempuan. Ada senang, ada susah. Sebagaimana ada rasa lapar, diciptakan pula rasa kenyang. Lalu ada kehidupan yang bersisian dengan kematian. Ketika mengawali hidup dengan tangisan dari sang bayi, maka hidup yang berakhir juga ditutup dengan tangisan, namun kali ini datang dari orang yang ditinggalkan.
Burke Ryan (Aaron Eckhart) tahu rasanya ditinggal orang terkasih. Istrinya meninggal dalam kecelakaan tragis. Hidup yang semula terang-benderang menjadi mendung baginya. Hingga tiba saat ketika ia curhat dan tulisannya tersebut dibukukan. Bisa ditebak, banyak yang terinspirasi dan bukunya meraih sukses fenomenal. Ryan pun dinilai berhasil mengobati luka hati orang yang ditinggalkan melalui seminar/workshop motivasinya. Ketika Love Happens dibuka dan memunculkan sosok Ryan, kita tahu ada sesuatu yang ‘salah’ dengan pria ini. Sepintas ia terlihat begitu sempurna. Ia tampan, punya karir cemerlang, dan populer. Laki-laki mana yang tak iri dengan semua itu? Namun coba lihat lebih dalam. Ada kesedihan di matanya ketika tak ada siapapun di sampingnya. Ada beban berat yang seperti menggelayut di pundaknya. Namun Ryan bisa mengindahkannya ketika ia menjadi ‘dokter’ bagi orang lain. Sayangnya, ia tak bisa menjadi ‘dokter’ bagi dirinya sendiri. Pengalaman traumatik akan kematian istrinya membekas begitu dalam di benaknya.
Hingga datang Eloise (Jennifer Aniston) di suatu pagi di Seattle, tempat Ryan melangsungkan seminar. Ada ‘sesuatu’ pada diri Eloise yang tiba-tiba memikat Ryan. Ia memang cantik, namun rasanya bukan itu yang menggoda Ryan. Skenario pun tak jelas memberikan tanda sekecil apapun apa yang menyebabkan lelaki itu terpikat. Serba kabur, padahal cerita yang dipunyai Love Happens meski sesungguhnya sederhana, punya potensi untuk disukai. Well, begitulah ketika sejumlah skenario ditulis hanya dengan dorongan insting semata, padahal menulis skenario sesungguhnya adalah keterampilan teknis. Skenario yang brilian biasanya bisa memaparkan sebab-akibat dengan masuk akal, juga ada perkembangan karakter dari para wayangnya. Sayang memang ketika Love Happens yang dibesut dengan pengarahan yang cukup baik dari Brandon Camp (sebagai karya perdananya) menjadi kurang istimewa karena kegagalan skenario di beberapa titik.
Namun jika mengindahkan beberapa pertanyaan‘why’ di kepala, bisa jadi kita menikmati Love Happens dengan lebih nyaman. Karena film ini seperti didesain untuk memunculkan kenyamanan bagi penontonnya. Lihatlah gambar demi gambar yang tertata hangat dan menyegarkan mata, juga komposisi musik yang mengalun perlahan di sepanjang film plus soundtrack yang terdengar lembut di telinga. Ditambah penampilan tak mengecewakan dari Eckhart dan Aniston. Bagi Eckhart, peran ini tak istimewa, sebab ia pernah memainkan peran ‘serupa’ tapi tak sama, -sebagai juru bicara perusahaan rokok yang pandai betul memainkan persepsi orang- dalam Thank You For Smoking (2005). Sementara Aniston sudah khatam dengan karakter serupa dalam berbagai komedi romantik yang dimainkannya. Jadi tak ada masalah dengan keduanya. Lainnya ada peran pendukung yang tak banyak muncul, namun mencuri perhatian seperti John Carroll Lynch dan Martin Sheen yang bermain sebagai ayah mertua Ryan. Sheen bahkan masih bisa memperlihatkan kelasnya sebagai aktor senior, ketika muncul dalam adegan mengharukan menjelang film berakhir.
Sejumlah tulisan memasukkan Love Happens ke dalam genre komedi romantik. Hal ini menarik, mengingat meski mengobrolkan pula cinta, film ini nyaris bersih dari adegan ciuman hot yang biasa diobral dalam tema sejenis. Camp terlihat betul-betul menahan diri untuk membuat hubungan Ryan dan Eloise tak terkesan menggebu-gebu dan murahan. Dan rasanya hal ini yang menjadi salah satu poin positif yang menjadikan Love Happens selalu menarik untuk dikonsumsi.


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://stoedioportal.com/resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY