Entahlah, apa yang sedang terjadi di pikiran sineas–sineas muda masa kini. Banyak di antara mereka yang memilih untuk bergulat dengan persoalan abstrak, tak lagi sekedar mengobrolkan persoalan remeh-temeh dalam film yang mereka buat. Temanya bisa bermacam-macam, mulai dari problem eksistensial, pergulatan batin hingga persoalan kesepian diri. Banyak sudah film yang berbicara di festival internasional, yang ‘berani’ membicarakan hal–hal seabsurd itu secara gamblang. Yang paling memorablemungkin adalah Lost In Translation-nya Sofia Coppola (2003) dan Last Life In Universe (2003) dari Thailand (diputar di JIFFest 2004).
Kedua film yang tersebut membicarakan persoalan yang kurang lebih sama. Yakni bagaimana cara manusia dari beberapa sisi dunia dalam menghadapi kesendirian, berkutat dengan kesepian, dan memilih cara untuk menyikapinya. Problem ini menarik untuk dibicarakan, terlebih di dunia yang tak lagi seindah dulu, dunia kini yang sudah dibuat chaos oleh berbagai macam persoalan. Tapi sekedar membicarakannya pun bukan persoalan mudah, karena ini persoalan rasa yang tak bisa ditakar, terukur secara eksak. Maka ketika Thomas Vinterberg dari Denmark juga tertarik untuk menganalisanya dalam bahasa filmis, lengkaplah gambaran keterpurukan manusia masa kini dalam bergelut dengan lingkungannya.
Bedanya, Vinterberg mengemasnya dengan kisah cinta yang kental, bahkan klise. Adalah John (Joaquin Phoenix) dalam perjalanan menuju ke Kanada, menyempatkan diri singgah menemui (mantan calon) istrinya, Elena (Claire Danes). Apa boleh buat, lingkungan sekeliling mereka membuat cinta keduanya padam. Tapi apa yang terjadi ketika mereka ditakdirkan berada lingkungan yang sama sekali lain, di mana ternyata keduanya saling membutuhkan?
Vinterberg mengolah It’s All About Love tak sekedar kisah cinta biasa. Karena memilih setting masa depan (tahun 2021), maka kisah yang disusunnya bareng Mogens Rukov ini juga bebas berimajinasi seliar mungkin. Apa jadinya dunia 15 tahun ke depan, ketika orang–orang ditemukan tergeletak tak bernyawa di berbagai tempat seantero kota dan itu bukan jadi pemandangan aneh? Yang lebih parah, ketika mayat–mayat itu tak dipedulikan orang yang lalu-lalang. Mereka hanya mengucapkan simpati dan berujar bahwa orang–orang itu meninggal karena kesepian!
Vinterberg juga memasukkan fenomena yang mungkin tak terbayangkan: digambarkan pada tahun 2021, di sejumlah tempat di dunia, salju mulai turun di musim yang tak tepat dan orang–orang mulai terbang (dalam pengertian sebenarnya) karena beberapa tempat mulai kehilangan gravitasi. Menyedihkan memang menikmati dunia rekaan Vinterberg, apalagi ciri penyutradaraannya juga tergolong sepi, menekan perasaan yang ditimpali dengan musik klasik yang mengalun dan membuat penonton sedikit bergidik.
Inikah ilusi dunia yang kita harapkan bakal terjadi puluhan tahun ke depan? Vinterberg yang mengolah cerita ini justru ingin memberikan penyadaran sebaliknya, bahwa hal seperti itu semestinya bisa diminimalisir kemungkinannya sejak dini. Ia mungkin melihat gejala–gejala itu menguat lantas menuangkan kegelisahannya dalam bahasa sinema. Penonton peka mestinya bisa menyadari bahwa adalah salah memisahkan diri dari lingkungan tempat kita berada, adalah tak benar jika kita akrab dengan kesendirian seakan–akan kita bisa mengatasi segala sesuatu dalam hidup dengan kesendirian itu.
Vinterberg tak terasa menjewer telinga kita lewat kisah John dan Elena, yang karakter sebenarnya ada di sekeliling kita. Lingkungan yang ‘gila’ membuat cinta keduanya sempat tercabik–cabik, namun akhirnya bisa terekat kembali. Meskipun dengan cara yang teramat pedih.


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://stoedioportal.com/resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY