Kisah polisi seperti tak kehabisan ide untuk dibahas. Berbagai sudut pandang telah dieksplorasi dan hasilnya sederetan film dengan berbagai tingkatan mutu. Di layar lebar termutakhir ada Training Day (2001) yang sempat banyak dibicarakan karena faktor Denzel Washington berhasil merebut Oscar meski di film tersebut perannya justru polisi jahat. Sementara di layar kaca tak terhitung lagi jumlah serial yang mengemas kisah para ‘penegak keadilan & pembasmi kejahatan’ ini. Yang mencuat belakangan adalah The Shield(2002), dinilai banyak kalangan lumayan realistis dan banyak dibumbui pendekatan sinematik ‘berbeda’.
Bagaimana dengan Insomnia? Karya sutradara Christopher Nolan ini pun menawarkan kisah serupa. Tapi yang ini dibuat dengan hati–hati, dengan memaksimalkan berbagai elemen untuk pencapaian yang memuaskan. Maka lihatlah yang paling superfisial: pemasangan 3 aktor–aktris kaliber Oscar. Ada Al Pacino (peraih Oscar lewat Scent of A Woman), Robin Williams (peraih Oscar lewat Good Will Hunting) dan Hilary Swank (peraih Oscar lewat Boys Don’t Cry di tahun 1999). So, cukupkah ini menjadi modal bagi Insomnia menjadi film yang mengesankan? Rupanya Nolan merasa masih perlu dukungan skenario yang matang, bantuan sinematografi memukau plus tata musik yang membuat gambar lebih ‘bernyawa’. Faktor terakhir inilah yang perlu diberi poin tersendiri, mengingat Insomnia bukan jenis film yang mengandalkan dialog dengan akting eksternal. Insomnia lebih banyak menghadirkan keheningan, dengan ‘keberanian’ Nolan meng-close up mimik dan gesture tiga pemeran utama. Hasilnya, musik tak sekedar menjadi tambalan, namun berfungsi memperkuat aksentuasi cerita.
Will Dormer (Al Pacino) adalah seorang detektif asal Los Angeles yang ditugaskan menangani kasus pembunuhan Kay Connell, gadis remaja yang ditemukan di tempat pembuangan sampah. Kali ini ia ditugaskan di kota Nightmute, Alaska yang tak kenal siang dan malam. Ya, karena di kota kecil ini, saat malam pun matahari masih bersinar dengan terang.
Suatu ketika, Will bersama anggota kepolisian setempat mengintai pondok seseorang yang diduga terlibat dengan pembunuhan itu. Siapa nyana, pada saat terjadi konfrontasi, Will tak sengaja menembak partner-nya sendiri, Hap Eckhart (Martin Donovan). Tak seorang pun tahu masalah ini dan Will pun mencoba menyembunyikannya. Sampai suatu ketika seseorang bernama Walter Finch (Robin Williams) menerornya lewat telepon dan memberitahukan apa yang dilihatnya. Dasar polisi berpengalaman, Will ‘melampaui’ jauh kerja rekan–rekannya dan berhasil menemukan bukti bahwa Walter-lah yang diduga kuat bertanggung jawab atas kematian Kay. Sampai disini terlihat bahwa Finch ‘menawarkan’ sesuatu pada Will. Walter merasa perlu bekerjasama dengan Will karena sama–sama pada posisi saling membutuhkan. Walter tak ingin rahasianya terkuak, dan Walter memperkirakan Will pun tak ingin ‘kelalaiannya’ bocor kemana–mana. Dirancanglah skenario untuk mencari kambing hitam atas kasus Kay. Will yang pada dasarnya polisi baik rupanya tak bisa membohongi nuraninya. Selama 6 hari berturut–turut, ia tak bisa tidur memikirkannya. Ia terkena ‘insomnia’ akibat memikirkan perbuatannya. Begitupun, adalah polisi lokal bernama Ellie Burr (Hilary Swank) yang dengan teliti bisa mengurai kasus penembakan yang dilakukan Will.
Insomnia menjadi kata kiasan bagi karakter Will Dormer yang tak bisa tertidur lelap lagi setelah menembak partner-nya sendiri. Di tangan Al Pacino yang kaya pengalaman, tokoh Will menjadi polisi yang mengalami ‘krisis identitas’. Sangat menarik menyaksikan ekspresi Pacino, yang menampilkan karakter seseorang yang kurang tidur. Ia tak butuh riasan make-up untuk membuat kantung di bawah matanya. Dan karakter yang dilakoninya pun tampil wajar, sehingga di layar penonton berhasil diyakinkan bahwa Al Pacino adalah Will Dormer. Sepertinya skenario memang memberi ruang bagi Pacino untuk memberikan kapasitas akting terbaiknya. Maka banyak momen–momen menarik yang bisa ditangkap di sini. Yang paling menarik (juga mengharukan) adalah di ending film ketika Will diperlihatkan sekarat. Pacino ‘hanya’ memperlihatkan akting seperti seseorang yang hendak beranjak tidur.
Dan Insomnia punya keistimewaan lain. Seorang aktor dengan peran yang tak seberapa besar berhasil menjadi scene stealer. Dialah Robin Williams. Bertahun–tahun kita mengenalnya sebagai tokoh riang gembira di bejibun film komedi yang diperankannya, sehingga terkadang kita lupa bahwa Williams sebenarnya adalah aktor serius. Demi membenarkan pendapat ini, silakan memirsa Good Morning Vietnam (1987), Dead Poets Society (1989), dan tentu saja, Good Will Hunting (1997). Begitupun, bertahun–tahun Williams dinilai menyia–nyiakan talenta-nya dengan bermain di film yang bermutu ‘biasa – biasa saja’. Entah karena kritik pedas itu, belakangan Williams memang terlihat mulai selektif memilih peran. Di Insomnia, sesungguhnya perannya tak lebih besar dari Pacino atau Swank. Tapi dia-lah sosok aktor yang bisa membuat peran ‘kecil’ jadi luar biasa. Disini Williams mencelat dari kebiasaannya memainkan peran–peran stereotype. Dan kata banyak orang, cukup berhasil.
Rasanya tak ada kata ‘habis’ memuji Insomnia. Selain berbagai kelebihan yang dibeberkan di awal, Christoper Nolan pun harus diacungi jempol saat ia berhasil menjaga ritme cerita yang tampak lamban di awal namun pelan–pelan merambat ke klimaks. Juga editing dengan selipan potongan gambar yang terangkai cepat, menambah efektifitas Insomnia sebagai bukan sekedar film polisi ‘biasa’.


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://stoedioportal.com/resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY