Tak banyak film yang coba mengupas satu-persatu karakter tokoh utamanya dengan baik. Ini memang bukan pekerjaan mudah, dibutuhkan skenario yang mendukung dan ketelatenan luar biasa dari sutradara yang dipercayakan untuk mengolahnya. Dan jika teknik yang digunakan kurang tepat, bisa–bisa film yang dikerjakan akan ‘dijauhi’ penonton. Ya, karena tipe film yang bertopang study of character dengan mudah akan ‘terpeleset’ jadi film yang membosankan dan dirasa bertele–tele oleh penonton yang terbiasa tayangan mainstream.
Ciri–ciri demikian terlihat dengan jelas dalam In The Bedroom. Dialog yang minimal, adegan yang tergambar suram, musik yang nyaris tidak eksis sangat boleh jadi akan membuat penonton beranjak dari kursinya. Tapi jika mau bersabar, In The Bedroom akan menunjukkan performa-nya sebagai film yang meniadakan aspek–aspek dramatis dan mengeksplorasi unsur–unsur realis. Keplokan meriah memang patut diberikan pada Todd Field yang untuk pertama kali menyutradarai. Sebuah pilihan yang berisiko mengangkat kisah ‘berat’ karya Andre Dubus (berjudul asli Killings) ini ke layar lebar. Tak seperti Kevin Costner yang terlihat ambisius dengan karya perdananya Dances With Wolves, Field justru dengan ‘rendah hati’ hanya coba memotret kehidupan pasangan suami istri setelah ditinggal anak semata wayang.
Pasangan Matt Fowler (Tom Wilkinson) dan Ruth (Sissy Spacek) harus menelan pil pahit. Kebahagiaan yang telah lama mereka reguk terkoyak oleh peristiwa mengenaskan. Frank, putra mereka satu–satunya, tewas ditembak Richard, suami Natalie (Marisa Tomei) yang dipacari Frank. Di permukaan, terlihat pasangan ini bisa tabah menerima cobaan maha berat ini. Tapi, sesungguhnya, setelah peristiwa itu, banyak hal yang terjadi. Sungguh disayangkan, keduanya malah diam seribu bahasa, tak sehangat dulu kala Frank masih hidup. Mereka mencoba munafik terhadap diri sendiri dan seakan mengatakan pada diri sendiri dan semua orang bahwa well, mereka baik – baik saja.
Padahal, ibaratnya mereka menyimpan api dalam sekam. Dan suatu saat, api tersebut bisa meledak. Kehangatan yang mereka bangun terkoyak oleh kecurigaan masing–masing satu sama lain. Terlebih mereka harus menerima kenyataan bahwa Richard, pembunuh anak mereka, bisa jadi akan lolos dari jerat hukuman.
Harus diakui, butuh energi lebih dan kesabaran luar biasa tatkala menyaksikan In The Bedroom. Sejak layar tersibak, seperti tak ada yang dijanjikan oleh sutradara. Terlebih sutradara meminimalkan beragam elemen guna mendukung aksentuasi. Jika sutradara lain memasukkan musik sendu demi mendramatisir adegan sedih, Todd Field berani meniadakan semuanya. Toh, kiatnya terbukti efektif. Penonton bisa merasakan kesengsaraan, kepahitan hidup, kemunafikan akan diri sendiri setelah kematian Frank. Keberhasilan ini didukung oleh 2 faktor: skenario jempolan (digarap sendiri oleh Field dengan bantuan Rob Festinger) dan kekuatan kasting pemain. Pelan tapi pasti, skenario menyisipkan berbagai kejutan dan mampu menekan perasaan serta meluapkan emosi. Pacing-nya luar biasa mengagumkan, terasa lamban di awal namun pelan-pelan merambat hingga mencapai klimaks. Begitupun setelah layar tertutup, penonton dijamin masih akan tertegun mendapati akhir kisah yang tak terduga. Masih bisa merasakan luapan emosi yang dirasakan Matt dan Ruth.
Dari 5 nominator film terbaik Oscar 2001, In The Bedroom menjadi film yang paling bersinar. Sinarnya tak ditentukan oleh dana jor–joran (mengingat In The Bedroom adalah film independen), tak bertumpu pada keriuhan pengadeganan (yang menjadi senjata Moulin Rouge), tak menjual spesial efek nan canggih (yang menjadi jualan Lord of The Rings: The Fellowship of The Ring). In The Bedroomhanya punya skenario dan 3 pemain andal: Tom Wilkinson, Sissy Spacek, dan Marisa Tomei. Berkat ketiganya-lah membuat In The Bedroom ‘berkilau’ di berbagai ajang penghargaan.


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://stoedioportal.com/resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY