Nama Quentin Tarantino disejajarkan dengan sutradara nomor wahid Hollywood berkat karya–karyanya yang monumental. Antara lain Reservoir Dogs (1992) dan Pulp Fiction (1994). Film Pulp Fiction bahkan membawa Tarantino ke puncak kemahsyuran, diunggulkan di berbagai festival bergengsi. Sejak itu Tarantino tak lagi diperlakukan Hollywood sebagai sutradara biasa.
Satu paling menonjol dari film–film Tarantino adalah kegemarannya melibatkan aksi bersimbah darah di sebagian besar adegan. Tak peduli sevulgar apapun, Tarantino tetap tak mengindahkan pandangan masyarakat terhadapnya. Bedanya dengan Martin Scorsese yang juga gemar menyajikan kekerasan dalam berbagai karyanya, Tarantino punya ciri khas tersendiri berkat kekagumannya pada film–film ala grindhouse cinema. Film yang acapkali disebut murahan, karena menyajikan serangkaian adegan aksi yang sangat tipikal, mudah ditebak dengan karakter–karakter yang stereotype. Kemampuan Tarantiono bermuara pada kegandrungan Tarantino terhadap genre film ini sedari kecil. Untungnya, Tarantino punya banyak referensi, sehingga betapapun pekatnya aroma film ‘murahan’ dalam karyanya, tak sampai membuat film besutan Tarantino ikut–ikutan kacangan. Dipadukan dengan kejeniusan dan selera humornya yang aneh, film karya Tarantino senantiasa unik, stylish, dan di saat bersamaan terlihat artistik. Rasa–rasanya inilah kelebihan Tarantino yang tak dimiliki sutradara lain. Ia boleh mencomot berbagai adegan dari film–film aksi Hongkong dan spaghetti western, tapi hasilnya selalu berciri Tarantino seorang.
Kill Bill adalah puncak pencapaiannya meramu berbagai citarasa menjadi sajian yang berkualitas sekaligus menghibur. Ciri lain karya Tarantino adalah musik yang ‘aneh bin ajaib’. Dahsyat musik ini mampu bersinergi, memperkuat aksentuasi setiap adegan. Yang menarik perhatian adalah penggunaan logo ‘Shaw-Scope’ dan ‘Our Feature Presentation’. Rasanya seperti menonton film tahun 70-an.
Sedari awal, Kill Bill Vol 1 mampu membuat jantung penonton nyaris berhenti berdetak. Bagaimana tidak, lima menit awal adalah adegan penyiksaan The Bride a.k.a Black Mamba (Uma Thurman) oleh Bill yang tak pernah kelihatan raut wajahnya (David Carradine). Adegan ini diakhiri letusan pistol yang terdengar sangat keras. The Bride ditembak secara keji oleh Bill.
Penonton yang sok tahu sangat mungkin menduga Kill Bill akan mengambil alur mundur. Ha..ha..ha… Anda salah, Kill Bill terus maju saja tanpa peduli ekspektasi penonton. The Bride ternyata tak mati. Setelah berbulan–bulan dirawat di rumah sakit, The Bride yang punya fisik tangguh mampu bertahan hidup. Hanya satu yang ada di benaknya setelah ia sadar: membalaskan dendamnya pada Bill dan gerombolan Deadly Viper Assasination Squad (DiVAS).
Tarantino rupanya sadar betul bahwa kisah yang disajikannya terlalu tipikal, gampang ditebak arahnya. Tapi ia sudah punya ‘amunisi’ lain, yakni gaya penceritaan. Penonton yang sedari awal sudah dikejutkan dengan ‘terjaganya’ The Bride makin nyaman dengan pintarnya Tarantino membelok–belokkan alur, membenturkan warna hitam putih dan full colour. Dan yang paling mengagumkan, Tarantino menyelipkan animasi yang terasa sangat real memperkuat penceritaan. Karakter–karakter yang ada di dalamnya pun terasa surreal, jadinya menonton Kill Bill seperti dibawa memasuki arena permainan yang aneh, menakutkan, dan disaat berbarengan juga menyenangkan. Itulah hebatnya Tarantino!


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://stoedioportal.com/resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY