Home Opini Internalisasi Kesalehan Sosial: Melampaui Evaluasi Afektif dalam Ritual Puasa

Internalisasi Kesalehan Sosial: Melampaui Evaluasi Afektif dalam Ritual Puasa

Oleh: Ferizal, M.Pd (Dosen STAI Raudhatul Akmal, Deli serdang)

9
0
SHARE
Internalisasi Kesalehan Sosial: Melampaui Evaluasi Afektif dalam Ritual Puasa

Opini,.Dalam desain pendidikan, kita mengenal taksonomi Bloom yang membagi hasil belajar ke dalam tiga ranah: kognitif, afektif, dan psikomotorik. Di antara ketiganya, ranah afektif—yang berkaitan dengan sikap, nilai, dan emosi—sering kali menjadi wilayah yang paling sulit diukur secara presisi. Guru bisa dengan mudah memberi skor 100 untuk ujian matematika, namun bagaimana cara mengukur kejujuran, empati, atau ketulusan seseorang secara objektif?

Menariknya, setiap tahun umat Muslim berhadapan pada  sebuah kurikulum spiriitual raksasa bernama Ramadhan. Di sinilah terjadi proses pendidikan afektif yang melampaui standar evaluasi formal di institusi pendidikan mana pun. Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar, melainkan sebuah instrumen rekayasa perilaku yang bekerja secara sistematis untuk membangun kesalehan sosial.

Labirin Evaluasi Afektif

Secara teoritis, menurut David Krathwohl, perkembangan afektif bergerak dari tahap receiving (menerima stimulus) hingga puncaknya pada characterization (menjadikan nilai sebagai identitas diri). Tantangan terbesar dalam sistem evaluasi kita adalah fenomena “kesalehan kosmetik” dimana seseorang bersikap baik hanya karena adanya pengawasan eksternal atau demi mengejar skor tertentu.

Ramadhan mendobrak pola tersebut. Puasa adalah satu-satunya ibadah yang bersifat privat antara hamba dan penciptanya. Seseorang bisa saja makan atau minum di ruang tertutup tanpa ada mata manusia yang melihat, namun ia memilih untuk tidak melakukannya. Inilah bentuk tertinggi dari regulasi diri (self-regulation). Dalam perspektif evaluasi, puasa telah berhasil memindahkan lokus kontrol dari luar (takut pada sanksi sosial) ke dalam diri (patuh pada prinsip moral).

Dari Empati Kognitif ke Empati Organik

Selama ini, kita sering mengajarkan kepedulian sosial secara kognitif: kita tahu bahwa kemiskinan itu menyakitkan. Namun, Ramadhan mengubah pengetahuan tersebut menjadi pengalaman langsung (experiential learning).

Ketika rasa lapar dan dahaga mencekam fisik, terjadi proses internalisasi rasa. Empati yang muncul bukan lagi hasil dari melihat statistik kemiskinan di berita, melainkan empati organik yang lahir dari rasa perih yang sama di ulu hati. Proses ini memaksa individu untuk melakukan evaluasi diri terhadap gaya hidupnya, konsumerismenya, dan kepeduliannya terhadap sesama.

Ramadhan adalah masa di mana nilai-nilai kemanusiaan tidak lagi dihafalkan, melainkan dirasakan dalam setiap denyut nadi dan rasa haus yang mencekat.

Manifestasi Kesalehan Sosial

Tujuan akhir dari setiap proses belajar adalah perubahan perilaku yang menetap. Dalam konteks puasa, hasil belajar afektif ini bermanifestasi dalam bentuk kesalehan sosial.

Internalisasi ini melahirkan sikap :

  1. Kontrol Diri: Seseorang mampu menahan amarah dan lisan dari fitnah meski dalam tekanan stres yang tinggi.
  2. Solidaritas: Munculnya dorongan intrinsik untuk berbagi (zakat, infak, sedekah) bukan sebagai kewajiban administratif, melainkan sebagai kebutuhan spiritual untuk meringankan beban sesama.
  3. Integritas: Kejujuran menjadi perilaku otomatis karena kesadaran akan kehadiran Tuhan yang melampaui batas-batas pengawasan manusia.

Refleksi Pasca-Ramadhan

Keberhasilan pendidikan Ramadhan tidak diukur dari seberapa meriah perayaan Idul Fitri, melainkan dari sisa-sisa nilai yang mengendap setelah bulan suci berlalu. Jika setelah Ramadhan kita tetap menjadi pribadi yang peka terhadap penderitaan orang lain dan mampu mendisiplinkan diri tanpa perlu diawasi, maka kita telah lulus dalam evaluasi afektif yang sesungguhnya.

Ramadhan memberi pelajaran berharga bagi dunia pendidikan: bahwa untuk membentuk karakter, kita tidak butuh lebih banyak instrumen ujian di atas kertas. Kita butuh sebuah ekosistem yang memungkinkan individu untuk merasakan, merefleksikan, dan akhirnya menginternalisasi nilai-nilai tersebut ke dalam tindakan nyata.