Catatan Pelepas Penat KISAH PERJALANAN

Terlebih dahulu, saya dan istri mengucapkan selamat Idul Adha 1447 H untuk seluruh warga Batam. Idul Adha kali ini terasa berbeda karena pada saat yang bersamaan kami tidak bisa membersamai warga karena sedang melaksanakan puncak ibadah haji di Padang Arafah bersama umat muslim seluruh dunia.
Bermula dari penerbangan Kamis, 21 Mei 2026 pukul 21.20 wib yang menempuh perjalanan hampir 8 jam dimana kami tiba di Jeddah pada Jumat, 22 Mei pukul 06.10 wib (02.10 waktu Arab Saudi). Dari Jeddah kami diberangkatkan menuju Moro Alalameyah Hotel Makkah. Di hotel inilah jamaah kloter 25 embarkasi Batam diinapkan. Setelah seluruh barang-barang dimasukkan ke kamar, kami pun beristirahat menyimpan energi untuk esok hari.
Keesokan harinya di hari kedua, ada cerita yang cukup menarik, saya bolak balik antara kamar mandi dengan tempat tidur, keluar - masuk berkali-kali. Lalu teman bertanya ada apa komandan (bahasa kami penghuni kamar 1602). Saya bilang, lagi mencari handuk, ada yang nampak gak? Karu yang kebetulan sekamar dengan saya --Komandan Kadek-- mengatakan itu yang Bapak pakai di pinggang. Karena sudah berhari-hari pakai ihram sampai membuat saya lupa bahwa handuk sudah diselempangkan di pinggang.
Pernak pernik di hari ketiga terjadi setelah sarapan pagi. Seperti biasa saya turun ke lantai dasar hendak merokok. Lalu setelah menikmati beberapa batang rokok di samping ruangan kecil bersebelahan dengan pintu masuk hotel, saya ke luar berjalan sekitar 20 sampai 30 menit ke seberang hotel menuju tempat ngopi yang sudah familiar dengan kami.
Tapi karena kursi penuh maka saya memilih jalan-jalan santai saja sekitar 20-an menit. Melihat kursi di tempat ngopi masih full juga maka saya memutuskan kembali lagi ke hotel. Sebelum ke kamar, hati saya ingin kembali ke ruangan tempat saya merokok tadi, ternyata hp saya tertinggal di ruangan itu. Tapi syukur alhamdulillah, hp tersebut dalam keadaan aman-aman saja. Sampai di dua bagian cerita ini saya berpandangan bahwa kalau memang hak kita, tak akan kemana-mana.
Selain dua cerita itu, dalam keseharian saya merasa semua dimudahkan. Saat bangun, ada rekan yang menyiapkan kopi. Tiba giliran jam makan, ada yang berinisiatif mengambil nasi kotak. Saat hendak berangkat ke masjidil haram, tatkala orang-orang sulit mendapatkan tumpangan, justeru kami dibantu menggunakan bus. Di sini saya menemukan kebenaran filosofi hidup, mudahkanlah urusan orang lain niscaya Allah akan mudahkan urusan kita.
Nah, cerita berikut ini lumayan rumit, tidak semudah pernak pernik sebelumnya. Setelah melempar jumroh, cukup lama berdiskusi dalam hati terkait dengan tahallul (potong rambut). Apakah hanya potong syarat saja, potong pendek, atau sekalian botak.
Mau bertanya dengan rekan-rekan Forkopimda jauh sekali, mau di bawa ke paripurna tidak ada Pimpinan DPRD, akhirnya ikuti kata hati ditambah saran isteri dan anak-anak yang selalu saja bertanya, papa kapan botaknya? Akhirnya dengan mengerahkan segala kekuatan batin, pilihan jatuh pada botak habis.
Tapi persoalan terus berlanjut karena saat di kaca, saya seperti menemukan orang yang berbeda. Mudah-mudahan saat pulang nanti, kondisi rambut sudah normal kembali. Catatan spritual yang lain? Masih cukup banyak, tunggu saja kisahnya saat pulang nanti.***
Related Articles