Catatan Pelepas Penat PERJALANAN CINTA

OPINI 31 May 2026 08:25 2 min read 25 views By Amsakar Ahmad

Share berita ini

Catatan Pelepas Penat PERJALANAN CINTA
.

Amsakar Ahmad

 

Dengan telah dilaksanakannya tawaf wada' berarti rangkaian pelaksanaan ibadah haji yang saya lakukan telah sampai di penghujung. Tawaf wada' adalah tawaf perpisahan kepada baitullah sambil berharap bahwa perpisahan ini bukanlah yang terakhir. 

 

Saya dan istri memohon agar Allah menerima seluruh amal ibadah kami serta mempertemukan kami kembali dengan Tanah Suci. Terus terang rongga hati saya masih menyisakan cinta dan getar kerinduan kepada baitullah justru ketika tawaf wada' baru saja terlaksana.

 

Jika merenungi kembali hakikat perjalanan haji, saya memaknainya sebagai perjalanan cinta untuk mengelola spiritualitas. Cinta kepada Allah, cinta kepada baitullah, cinta kepada ajaran para rasul terdahulu, dan cinta kepada rasulullah.

 

Di sini jutaan manusia bersimpuh, menangis, memohon ampun, mengakui kealfaan, dan menyadari banyak sekali kekurangan diri. Sesungguhnya kita merasa bermakna di hadapan manusia, namun tidak ada apa-apanya di hadapan Yang Maha Kuasa. Menangislah wahai manusia semampu kau mengucurkan air mata, selagi itu menumbuhkan kearifan diri bahwa diantara kita tidak satu pun yang steril dari dosa.

 

Sebagai sebuah perjalanan cinta, saya juga merasa kehadiran istri menjadi sangat bermakna. Jika selama ini, waktu bersamanya sangat terbatas maka di tanah suci saya bertekad akan menebusnya. Apalagi beliau masih dalam kondisi yang harus menggunakan kursi roda.

 

Syukur alhamdulillah, apa yang terpatri di dalam hati dapat saya tunaikan. Sekali waktu ketika dapat informasi dia seorang diri ke toilet, saya cemas khawatir beliau tidak kuat menaiki tangga. Tatkala tawaf dan sa'i, alhamdulillah saya dapat mendampinginya bersama Muhammad yang membawakan kursi roda.

 

Tatkala melempar jumroh, hal yang sama dapat saya lakukan. Terakhir tawaf ifadah dan wada', saya pun dapat mendorongnya di kursi roda. Sungguh, saya merasa perjalanan haji sebagai cara Allah membuka ruang maaf saya kepada istri tercinta.

 

Mungkin pembaca sedang merasakan romantisme dalam tulisan ini, tapi memang itulah fakta yang terjadi. Dan di momentum terakhir ini pun, sebuah pengalaman luar biasa terjadi. Adik yang mendampingi dan menyewakan kursi roda yang bernama Zen --setelah selesai tugasnya-- memberikan kursi roda itu kepada kami.

 

Kira-kira beliau berkata, "ambillah kursi ini sebagai hadiah dari saya, halal haji". Sungguh nikmat demi nikmat kami rasakan selama perjalanan di tanah suci ini. Akhirnya, sekali lagi saya sadar, mudahkanlah urusan orang, niscaya sampai waktunya Allah akan mudahkan urusan kita.***

>>