Ada fakta menarik seputar keberadaan sejumlah sutradara berdarah India di percaturan sinema internasional. Rupanya, mereka ‘emoh’ meninggalkan ke-India-annya dan memilih tetap berkutat di permasalahan itu. Tak peduli jika setting dipindahkan ke luar India sekalipun. Lihatlah Gurindher Chadha yang terbilang pandai menghadirkan kekhasan keluarga India di sub-urban kota London di film Bend It Like Beckham (2002).
Di film lain, Bride & Prejudice (2004) pun Chadha masih setia pada konsep serupa. Begitu pula dengan Mira Nair. Nair terbilang sutradara yang terampil membedah problematika sehari–hari yang kadang luput dari pengamatan. Maka lahirlah Kama Sutra: A Tale of Love (1996) yang punya cita rasa berbeda atau Missisippi Masala (1991) yang menguak persoalan rasial. Dalam karyanya yang kesekian, Monsoon Wedding, Nair juga mengorek keseharian sebuah keluarga di daerah Punjabi, India, dalam mempersiapkan pernikahan.
Nah, di sini Nair memolesnya komedi, yang walau di sana–sini terasa pahit. Sejak layar tersibak, Nair memperlihatkan kesibukan pasangan suami istri Lalit Verma (Naseeruddin Shah) dan Pimmi (Lillete Dubey) mempersiapkan pernikahan putrinya, Aditi (Vasundhara Das). Nair juga dengan efektif memanfaatkan waktu sempit untuk memperkenalkan karakterisasi tokoh–tokohnya. Lalit digambarkan sebagai ayah yang senewen dan Pimmi sebagai istri yang terkadang memilih berlaku munafik di mata keluarganya (merokok diam-diam dalam kamar mandi). Dari luar memang tampak sepele, tapi sesungguhnya banyak persoalan yang tersimpan rapat dalam keluarga ini yang bisa jadi berlandaskan pada kemunafikan itu.
Aditi sekilas tampak sebagai perempuan baik–baik, namun ternyata berani ‘bermain api’ dengan lelaki beristri. Inilah salah satu ceramah moral Nair. Pedas memang, bahkan membuat terbatuk–batuk, apalagi Nair tanpa tedeng aling–aling mengungkapkannya. Jika itu terjadi di masyarakat Barat mungkin dianggap wajar, tapi karena Nair membesutnya di setting timur (baca : India) maka terasa sangat ‘menampar’. Aditi yang sebentar lagi akan dijodohkan dengan lelaki pilihan ayahnya, Hemant Rai (Parvin Dabas) ternyata masih tak mampu mengendalikan perasaannya. Hingga di suatu malam, ia dan kekasihnya -lelaki beristri itu- tertangkap basah tengah bermesraan di mobil.
Bagi Aditi, ini alamat kemalangan baginya. Tapi Aditi yang wanita teguh pendirian dan jujur malah berani mengungkapkan apa yang dilakukannya terhadap calon suaminya. Baginya, tak ada yang lebih penting daripada membangun rumah tangga berdasar kejujuran. Di sini, Nair berhasil menyentakkan kesadaran penonton, bahwa berkata jujur toh akan membawa hasil yang positif pula. Sayangnya, karakter Hemant yang datar dan terlalu gampang memaafkan perbuatan Aditi, ini membuat penonton agak susah merasakan kebesaran hatinya.
Sampai di situkah masalah yang dikemukakan Nair? Tidak. Ia memilin–milin cerita dengan kisah cinta antara seorang pria yang berprofesi sebagai wedding organizer untuk pesta pernikahan Aditi, Dubey (Vijay Raaz) dan pelayan di keluarga Verma, Alice (Tilotama Shome). Seperti belum cukup, skenario yang disusun Sabrina Dhawan juga dijejali dengan masalah pedofilia. Wah! Sepupu Aditi, Ria yang lebih tua darinya dan betah melajang ternyata mempunyai masa lalu kelam. Ria kecil pernah diperlakukan tak senonoh oleh teman keluarganya sendiri, Tej Puri (Rajat Kapoor).
Disini pulalah letak kelemahan Monsoon Wedding. Nair terlalu berambisi membicarakan berbagai persoalan, sementara durasi membatasi ambis. Akibatnya, beberapa persoalan tak tergarap dengan baik. Apalagi Nair mesti berurusan dengan tetek-bengek pesta pernikahan ala India yang super heboh, penuh tarian dan ritual. Bandingkan dengan Kama Sutra: A Tale of Love yang lebih fokus membahas masalah seks, namun terkontrol ritme dan penuturannya. Begitupun Monsoon Wedding bukan produk cemen yang mengangkat problem yang terasa antah-berantah. Jika paham kultur masyarakat India, pasti akan mengacungkan jempol akan keterampilan Nair menabrakkannya dengan kondisi kekinian. Nair ingin menggugat beberapa nilai tradisional yang mulai berubah, juga memperlihatkan bahwa masih ada pula hal yang tak bisa diubah karena telah mengakar dalam diri. Lihatlah tokoh Aditi yang tahu diri tak akan bisa menyatu dengan kekasihnya, lantas ia memilih menyenangkan orang tuanya. Untungnya karena dituturkan secara komedi, Monsoon Wedding tak terasa berceramah. Hanya seperti jeweran telinga, untuk mengingatkan.


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://stoedioportal.com/resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY