Home FILM Aksi Laga Berbalut Isu Autisme

Aksi Laga Berbalut Isu Autisme

Film Mercury Rising [1998]

5
0
SHARE
Aksi Laga Berbalut Isu Autisme

Hollywood tak pernah kehilangan akal mencari inspirasi untuk setiap filmnya. Ketika naskah yang ditulis khusus untuk film dinilai tak lagi menarik, maka para eksekutif dengan gampang main comot materi lain untuk dilayar-lebarkan. Hasilnya, ratusan novel sudah ditransfer ke dalam bahasa filmis dengan kualitas yang beragam. Ketika genre aksi yang dinilai gampang terjebak dalam alur monoton mulai mendekati anti klimaks, maka mereka pun memutar otak membuatnya tetap bercita rasa Hollywood. Dalam Mercury Rising, aksi laga dahsyat dipadu dengan isu autisme. Isu ini walau dipakai sebagai bumbu penyedap saja, bolehlah dianggap  inovasi yang cukup brilian.

Bruce Willis masuk jajaran aktor laga garda depan juga pandai menyiasati kondisi fisiknya yang makin menua (baca: menurun). Perhatikanlah sejumlah film yang dipilih Willis pasca Die Hard (1998) tak lagi hanya menonjolkan aksi semata. Bahkan di Sixth Sense (M Night Shyamalan, 1999), Willis berani ambil resiko main di thriller horor. Meski kalah pamor dari Haley Joel Osment dan Toni Collette yang tampil cemerlang di dua film tersebut, bukan berarti Willis tak beroleh pujian. Ia dinilai pandai perlahan memutar kemudinya agar tetap dicintai publik Amerika lewat film–filmnya. Di Mercury Rising, rasanya susah untuk tak jatuh hati pada karakter yang diperankan Willis: seorang agen FBI yang berani mati mempertaruhkan nyawa demi menolong bocah autis.

Willis berperan sebagai Art adalah seorang agen FBI yang anti kemapanan, tak ingin bekerja di belakang meja, dan memilih bergulat langsung dengan problematika kerja. Hingga suatu ketika, dirinya harus dihadapkan pada kejadian yang tak pernah dialaminya. Art harus menyelamatkan nyawa Simon (Miko Hughes), anak autis yang tanpa sengaja memecahkan kode rahasia super canggih.

Scene  demi scene selanjutnya adalah tipikal aksi laga Hollywood yang mudah ditebak. Tokoh protagonis akan menghadapi segala macam kejadian, lantas tokoh protagonis akan berhadapan dengan karakter antagonis, begitu seterusnya. Sampai di sini memang tak ada pembaruan, yang ada hanyalah pengulangan menjemukan. Toh Mercury Rising bisa sedikit mengkilap karena bumbu penyedap itu: kehadiran karakter bocah autisme. Jadi penonton yang sudah terlalu malas menyimak petualangan lumayan seru Willis dalam menyelamatkan Simon, bisa mencermati tingkah laku penderita autis. Terlebih tak banyak film yang berkutat pada isu ini. Dari sedikit hanya beberapa judul saja yang menonjol, di antaranya Rain Man (Barry Levinson, 1988). 

Tapi berlebihan jika membandingkan Rain Man dengan Mercury Rising. Genrenya saja beda, apalagi Mercury Rising kentara betul diciptakan untuk menghibur, menghibur dan menghibur. Jangan tanya, kenapa bocah autis seperti Simon bisa memecahkan kode rahasia super canggih, karena tak dijelaskan secuil pun di Mercury Rising. Yang bisa menjelaskannya justru pengetahuan yang didapat dari membaca majalah atau informasi seputar autisme. Mercury Rising memang tak berpretensi apapun mengulik atau membongkar sisi melik autisme.

Begitupun, Mercury Rising masih punya kelebihan. Misalnya sisi humanis yang kental. Bayangkan ini, Art yang baru kenal Simon bisa langsung serta merta mendarma baktikan hidupnya hanya demi bocah itu seorang. Sekali lagi jangan tanya alasannya, tapi lihatlah bagaimana Willis melalui tokoh yang diperankannya begitu penuh kasih mengasuh Simon yang kadang mengamuk tak terkontrol. Atau bagaimana Art yang keras toh bisa terharu tatkala Simon ternyata menyadari kehadirannya. Korelasi dan intensitas hubungan Art dan Simon digambarkan dengan manis oleh Willis dan Hughes yang bermain menawan untuk ukuran seorang bocah. Bagian inilah yang mungkin paling menarik dari Mercury Rising, bukan adegan kejar–kejaran atau dar-der-dor berhamburan di sepanjang durasi. Peran Willis di sini bisa membuat para ibu yang mengidolakannya jatuh cinta lagi. Jadi siapa bilang bintang laga tak bisa berakting humanis? Willis salah satu contoh suksesnya!

Video Terkait: